Kejadian 6:13-21 (TB):
NUBUAT MENGENAI AIR BAH
1. Kovenan pemeliharaan ilahi, bahwa peredaran alam akan terus berlanjut sampai akhir waktu, kendati dengan gangguan yang akan diakibatkan oleh air bah. Janji ini secara langsung dibuat untuk Nuh dan anak-anaknya (9:8, dst.). Mereka adalah orang-orang yang diberi kuasa atas semua ciptaan di bagian bumi ini, dan dengan begitu kehormatan besar diberikan kepada dia dan keluarganya.
2. Kovenan anugerah, bahwa Allah akan menjadi baginya Allah, dan dari keturunannya Allah akan mengambil bagi diri-Nya sendiri suatu umat. Perhatikanlah,
(1) Apabila Allah mengadakan kovenan, Ia menetapkannya, Ia membuatnya pasti, Ia membuatnya baik. Kovenan-Nya adalah kovenan-kovenan yang kekal.
(2) Dalam kovenan anugerah ada imbalan bagi setiap pelayanan yang dilakukan, dan ada sumber serta dasar dari segala karunia yang istimewa. Kita tidak perlu menginginkan apa-apa lagi, entah untuk mengejar apa yang hilang dari kita untuk Allah atau untuk mengejar kebahagiaan bagi kita di dalam Allah, selain untuk memastikan bahwa kovenan-Nya ditetapkan dengan kita.
Sungguh tampak di sini bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Perkenanan Allah padanya dengan jelas ditunjukkan dalam apa yang dikatakan-Nya tentang dia (ay. 8-10). Dalam ayat-ayat itu namanya disebutkan sebanyak lima kali dalam lima kalimat, padahal satu kali saja sudah cukup untuk membuat pengertiannya jelas, seolah-olah Roh Kudus senang mengabadikan kenangan akan dia. Tetapi hal itu jauh lebih tampak dalam apa yang dikatakan Allah kepadanya dalam ayat-ayat ini, yaitu informasi-informasi dan perintah-perintah yang diberikan di sini kepadanya.
I. Allah di sini menjadikan Nuh sebagai orang yang diajak-Nya berunding, dengan menyampaikan kepadanya maksud-Nya untuk menghancurkan dunia yang fasik ini dengan air. Sama seperti sesudahnya Ia memberi tahu Abraham apa yang bertekad dilakukan-Nya berkenaan dengan Sodom (18:17, Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham?), demikian pula di sini “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Nuh apa yang hendak Kulakukan, dengan menimbang bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar?” Perhatikanlah, TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia (Mzm. 25:14, KJV: “Rahasia TUHAN ada pada orang-orang yang takut akan Dia” – pen.). Rahasia-Nya ada pada hamba-hamba-Nya, para nabi (Am. 3:7), melalui roh pewahyuan, dengan memberi tahu mereka secara khusus tentang maksud-maksud-Nya. Rahasia-Nya ada pada semua orang percaya melalui roh hikmat dan iman, yang memampukan mereka untuk memahami dan menerapkan pernyataan-pernyataan umum yang tertulis dan peringatan-peringatan yang diberikan di situ. Nah,
1. Allah memberi tahu Nuh, secara umum, bahwa Ia akan menghancurkan dunia (ay. 13): Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk. Maksudnya, kehancuran dunia yang fasik ini sudah ditetapkan dan diputuskan. Kesudahannya sudah tiba (KJV), yaitu, kesudahannya pasti akan datang, dan datang dengan cepat. Nuh, ada kemungkinan, dalam memberitakan hal ini kepada tetangga-tetangganya, telah memperingatkan mereka secara umum akan murka Allah yang akan mereka timpakan ke atas diri mereka sendiri dengan kefasikan mereka. Melalui pernyataan Nuh kepada mereka, Allah berusaha memberi pernyataan murka-Nya secara khusus, supaya Nuh bisa mencoba apakah cara ini akan berhasil terhadap orang-orang itu. Dari sini amatilah,
(1) Bahwa Allah menguatkan perkataan hamba-hamba-Nya (Yes. 44:26).
(2) Bahwa siapa yang mempunyai, dan memanfaatkan apa yang dipunyainya demi kebaikan orang lain, kepadanya akan diberi lebih, akan diberi perintah-perintah yang lebih lengkap.
2. Allah memberi tahu dia, secara khusus, bahwa Ia akan menghancurkan dunia dengan air bah: Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi (ay. 17). Allah bisa saja menghancurkan seluruh umat manusia dengan pedang seorang malaikat, pedang bernyala-nyala yang terhunus ke sana kemari, sebagaimana Ia membinasakan semua anak sulung di Mesir dan kemah bangsa Asyur. Kalau Allah memakai cara ini, maka yang diperlukan hanyalah memberikan tanda khusus pada Nuh dan keluarganya agar mereka terlindungi. Namun, Allah memilih untuk melakukannya melalui air bah, yang akan menenggelamkan dunia. Alasan-alasannya, kita bisa yakin, adalah bijak dan adil, meskipun tidak kita ketahui. Allah mempunyai banyak anak panah dalam tabung-Nya, dan Ia bisa membidikkan mana saja yang disukai-Nya: seperti halnya Ia memilih tongkat untuk mengoreksi anak-anak-Nya, demikian pula Ia memilih pedang untuk memangkas musuh-musuh-Nya. Amatilah cara pengungkapannya: “Aku, ya Aku, akan mendatangkan air bah (KJV). Aku yang mempunyai kuasa tak terbatas, dan oleh sebab itu dapat melakukannya, yang mempunyai keadilan tak terbatas, dan oleh sebab itu akan melakukannya.”
(1) Hal ini menunjukkan kepastian dari penghakiman itu: Aku, ya Aku, akan melakukannya. Apa yang dikerjakan Allah sendiri tidak bisa tidak pasti akan terlaksana dengan berhasil. Lihat Ayub 11:10.
(2) Hal ini menunjukkan kuasa penghakiman itu untuk mendatangkan kemuliaan Allah dan kehormatan keadilan-Nya. Demikianlah Ia akan diagungkan dan ditinggikan di bumi, dan seluruh dunia akan tahu bahwa Dialah Allah pembalas. Tampak bagi saya bahwa ungkapan di sini agak serupa dengan ungkapan dalam Yesaya 1:24, “Ha, Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku.”
II. Allah di sini menjadikan Nuh sebagai orang yang dengannya Ia mengikat perjanjian-Nya, satu lagi ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berarti teman (ay. 18): Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku.
1. Kovenan pemeliharaan ilahi, bahwa peredaran alam akan terus berlanjut sampai akhir waktu, kendati dengan gangguan yang akan diakibatkan oleh air bah. Janji ini secara langsung dibuat untuk Nuh dan anak-anaknya (9:8, dst.). Mereka adalah orang-orang yang diberi kuasa atas semua ciptaan di bagian bumi ini, dan dengan begitu kehormatan besar diberikan kepada dia dan keluarganya.
2. Kovenan anugerah, bahwa Allah akan menjadi baginya Allah, dan dari keturunannya Allah akan mengambil bagi diri-Nya sendiri suatu umat. Perhatikanlah,
(1) Apabila Allah mengadakan kovenan, Ia menetapkannya, Ia membuatnya pasti, Ia membuatnya baik. Kovenan-Nya adalah kovenan-kovenan yang kekal.
(2) Dalam kovenan anugerah ada imbalan bagi setiap pelayanan yang dilakukan, dan ada sumber serta dasar dari segala karunia yang istimewa. Kita tidak perlu menginginkan apa-apa lagi, entah untuk mengejar apa yang hilang dari kita untuk Allah atau untuk mengejar kebahagiaan bagi kita di dalam Allah, selain untuk memastikan bahwa kovenan-Nya ditetapkan dengan kita.
III. Allah di sini menjadikan Nuh sebagai tugu peringatan atas belas kasihan yang menyelamatkan, dengan menempatkan dia di jalan sedemikian rupa sehingga ia dapat mengamankan dirinya dari air bah yang akan menerjang, agar ia tidak binasa bersama semua yang lain di dunia: Aku akan memusnahkan mereka, firman Allah, bersama-sama dengan bumi (ay. 13). “Tetapi buatlah bagimu sebuah bahtera. Aku akan menjagamu supaya tetap hidup.” Perhatikanlah, kesalehan seutuhnya akan dibalas dengan keselamatan-keselamatan yang istimewa, yang pasti akan datang secara khusus. Hal ini akan banyak menambah kehormatan dan kebahagiaan pada orang-orang kudus yang sudah dimuliakan, bahwa mereka akan diselamatkan ketika sebagian besar dunia dibiarkan binasa. Sekarang,
1. Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera (ay. 14-16). Bahtera ini seperti badan kapal, yang tidak cocok untuk dipakai berlayar di atas air (tidak ada kesempatan untuk itu, sebab tidak ada pantai untuk berlabuh), tetapi untuk mengapung di atas air, menunggu sampai air itu surut. Allah bisa saja mengamankan Nuh dengan pelayanan para malaikat, tanpa membuatnya sendiri melakukan pekerjaan, susah payah, atau urusan apa pun. Sebaliknya, Ia memilih untuk mempekerjakannya dalam membuat sesuatu yang akan menjadi sarana untuk melindunginya, baik untuk menguji iman dan ketaatannya maupun untuk mengajar kita bahwa tak seorang pun akan diselamatkan oleh Kristus kecuali orang-orang yang mengerjakan keselamatan mereka. Kita tidak dapat melakukannya tanpa Allah, dan Ia tidak akan melakukannya tanpa kita. Baik pemeliharaan Allah maupun anugerah Allah mengakui serta memahkotai usaha-usaha yang dikerjakan dengan taat dan tekun. Allah memberi tahu dia perintah-perintah yang sangat rinci tentang pembuatan bahtera ini, yang tidak bisa tidak pasti disesuaikan secara menakjubkan dengan maksud pembuatannya, sebab Hikmat Kekal sendirilah yang menjadi perancangnya.
(1) Bahtera itu harus dibuat dari kayu gofir. Nuh, tidak diragukan lagi, mengetahui jenis kayu apa itu, meskipun kita sekarang tidak mengetahuinya, entah kayu aras, atau kayu saru, atau kayu lain.
(2) Ia harus membuat tiga tingkat di dalam bahtera itu.
(3) Ia harus membaginya ke dalam kamar-kamar, dengan sekat-sekat, tempat-tempat yang disesuaikan untuk sejumlah jenis makhluk, sehingga tidak satu kamar pun yang tidak terisi.
(4) Ukuran-ukuran yang tepat diberitahukan kepadanya, agar ia membuat bahtera itu seimbang, dan mempunyai cukup ruang di dalamnya untuk memenuhi tujuan pembuatannya, dan tidak lebih dari itu. Perhatikanlah, orang-orang yang bekerja bagi Allah harus menerima ukuran-ukuran mereka dari Dia, dan dengan teliti mengikutinya. Perhatikanlah, secara lebih jauh lagi, bahwa Dia yang menentukan tempat kediaman kita pantas menetapkan batas-batasnya.
(5) Ia harus menutupnya dengan pakal dari luar dan dari dalam. Dari luar, untuk melindunginya dari hujan, dan mencegah air agar tidak merembes ke dalam. Dari dalam, untuk menghilangkan bau binatang-binatang selama tertutup. Amatilah, Allah tidak memerintahkan Nuh untuk mengecat bahtera itu, tetapi untuk menutupnya dengan pakal. Jika Allah memberi kita tempat kediaman yang aman, hangat, dan menyehatkan, maka kita wajib bersyukur, meskipun tempat itu tidak megah atau bagus.
(6) Ia harus membuat jendela kecil yang menghadap ke atas, untuk membiarkan cahaya masuk, dan (menurut sebagian orang) agar melalui jendela itu ia bisa melihat kehancuran-kehancuran yang akan ditimpakan ke atas bumi.
(7) Ia harus membuat pintu di sampingnya, untuk masuk dan keluar.
2. Allah berjanji kepada Nuh bahwa dia dan keluarganya akan dijaga untuk tetap hidup di dalam bahtera (ay. 18): Engkau akan masuk ke dalam bahtera itu. Perhatikanlah, jika kita melakukan sesuatu dalam ketaatan kepada Allah, maka kita sendiri yang akan mendapatkan penghiburan dan keuntungannya. Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri. Dan bukan hanya dia sendiri yang diselamatkan di dalam bahtera itu, melainkan juga anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. Amatilah,
(1) Kepedulian orangtua yang baik. Mereka tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan mereka sendiri, melainkan juga keselamatan keluarga-keluarga mereka, dan terutama anak-anak mereka.
(2) Kebahagiaan anak-anak yang mempunyai orangtua yang saleh. Kesalehan orangtua mereka sering kali mendatangkan keselamatan sementara bagi mereka, seperti yang terjadi di sini. Dan kesalehan itu membuat mereka melangkah lebih maju di jalan keselamatan kekal, jika mereka memanfaatkan keuntungannya.
IV. Allah di sini menjadikan Nuh sebagai berkat besar bagi dunia, dan dalam hal ini membuat dia sebagai pelambang utama dari Mesias, meskipun bukan Sang Mesias itu sendiri, sebagaimana yang diharapkan orangtuanya (5:29).
1. Allah menjadikan dia sebagai pembawa kabar bagi angkatan itu. Sebagai penjaga, ia menerima firman dari mulut Allah, agar ia dapat memberikan peringatan kepada mereka (Yeh. 3:17). Demikianlah, sementara Allah tetap menanti dengan sabar, melalui Roh-Nya di dalam diri Nuh, Nuh memberitakan kabar kepada dunia lama, yang, ketika Petrus menuliskan ini, merupakan roh-roh yang di dalam penjara (1Ptr. 3:18-20). Dan dalam hal ini Nuh adalah pelambang Kristus, bahwa dia, di negeri dan di zaman di mana semua manusia menjalankan hidup yang rusak, berjalan berkeliling memberitakan pertobatan dan memperingatkan manusia akan air bah murka yang akan datang.
2. Allah menjadikannya penyelamat bagi makhluk-makhluk yang lebih rendah, untuk menjaga kelangsungan sejumlah jenis dari mereka supaya tidak binasa dan terhilang dalam air bah (ay. 19-21). Ini merupakan kehormatan besar yang diberikan kepadanya, bahwa bukan saja di dalam dia bangsa manusia tetap dilangsungkan, dan bahwa dari dia akan muncul dunia baru, jemaat, jiwa dunia, dan Mesias, sang kepala jemaat itu, melainkan juga bahwa ia akan berperan dalam menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk yang lebih rendah, dan dengan demikian umat manusia di dalam dia akan memperoleh hak baru atas makhluk-makhluk itu dan atas pelayanan mereka.
(1) Ia harus menyediakan tempat bernaung bagi mereka, agar mereka tidak ditenggelamkan. Satu pasang, jantan dan betina, harus dibawa bersamanya ke dalam bahtera. Dan supaya ia tidak mendapat kesulitan dalam mengumpulkan mereka bersama-sama, dan dalam menggiring mereka masuk, Allah berjanji (ay. 20) bahwa mereka, atas kemauan mereka sendiri, akan datang kepadanya. Dia yang membuat lembu jantan mengenali pemiliknya dan tempat buaian-Nya, di sini membuat lembu itu mengenali penjaganya dan bahteranya.
(2) Ia harus menyediakan makanan bagi mereka, agar mereka tidak kelaparan (ay. 21). Ia harus memberikan persediaan di kapalnya sesuai dengan jumlah awaknya, keluarga besar yang sekarang harus dijaganya itu, dan sesuai dengan waktu yang ditentukan untuk mengurung mereka. Dalam hal ini juga ia merupakan pelambang Kristus, yang berkat Dia dunia masih berdiri, yang oleh Dia segala sesuatu ada, dan yang menjaga umat manusia agar tidak seluruhnya binasa dan hancur oleh dosa. Di dalam Dia keturunan yang kudus diselamatkan hidup-hidup, dan makhluk ciptaan diselamatkan dari kesia-siaan yang di bawahnya mereka mengeluh. Nuh menyelamatkan orang-orang yang akan diperintahnya, demikian pula dengan Kristus (Ibr. 5:9).
No comments:
Post a Comment