Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 2:16-17 (MHC)

Kejadian 2:16-17 (TB):
16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
POHON PENGETAHUAN TENTANG YANG BAIK DAN YANG JAHAT

Amatilah di sini,

I. Kewibawaan Allah atas manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan kehendak bebas. TUHAN Allah memerintahkan kepada manusia yang sekarang berdiri sebagai tokoh masyarakat serta bapa dan wakil umat manusia, untuk menerima hukum, sama seperti ia baru saja menerima kodrat, bagi dirinya sendiri dan juga bagi seluruh keluarganya. Allah memerintah seluruh makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang terjadi di alam ini merupakan hukum (Mzm. 148:6; 104:6). Binatang-binatang buas memiliki naluri mereka masing-masing. Namun, manusia dimampukan menggunakan akal sehatnya dan oleh karena itu menerima bukan saja perintah dari Sang Pencipta, melainkan perintah seorang Raja dan Tuan. Walaupun Adam orang yang sangat hebat, sangat baik, dan sangat bahagia, TUHAN Allah memerintah dia. Perintah itu sama sekali bukan untuk mengecilkan kehebatannya, mencela kebaikannya, ataupun mengurangi kebahagiaannya. Biarlah kita mengakui hak Allah untuk memerintah kita, dan mengakui kewajiban kita untuk diperintah oleh-Nya. Jangan pernah membiarkan kehendak sendiri bertolak belakang atau bersaing dengan kehendak suci Allah.

II. Tindakan khusus dalam kewenangan ini, dalam menjelaskan kepada Adam apa yang harus dilakukannya, dan atas kesepakatan apa ia harus bertindak mendampingi Penciptanya. Di sini terdapat,

1. Penegasan mengenai kebahagiaan yang ketika itu bisa diperolehnya, melalui izin yang diberikan itu, Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas. Hal ini tidak saja memberi dia kebebasan untuk mengambil buah-buahan lezat di taman firdaus, sebagai upah atas perhatian serta kerja kerasnya dalam menata dan memeliharanya (1Kor. 9:7, 10), tetapi juga merupakan jaminan hidup untuknya, yakni kehidupan kekal karena ketaatannya. Pohon kehidupan ditempatkan di tengah-tengah taman itu (ay. 9), seolah-olah sebagai jantung dan jiwa taman. Tidak diragukan lagi bahwa Allah memperhatikan pohon itu terutama berkaitan dengan izin tadi. Oleh sebab itu, saat Adam memberontak, izin itu dicabut. Tidak satu pun pohon di taman itu yang disebutkan tidak boleh dimakan olehnya, kecuali pohon kehidupan (3:22). Di situ dikatakan bahwa seandainya Adam memakannya, ia akan hidup untuk selama-lamanya. Artinya, tidak pernah mati atau kehilangan kebahagiaannya. “Tetaplah hidup suci seperti semula, sesuai dengan kehendak Penciptamu, maka engkau akan tetap bahagia seperti ketika engkau menikmati perkenan Penciptamu, baik di taman firdaus ini maupun di tempat yang lebih baik.” Jadi, dalam ketaatan pribadi yang sempurna dan terus-menerus, Adam pasti boleh memiliki taman firdaus untuk diri sendiri dan keturunannya sampai selamanya.

2. Ujian untuk ketaatannya, dan derita yang akan dialaminya jika kehilangan kebahagiaan itu: “Tetapi tentang pohon lain yang berdekatan dengan pohon kehidupan (karena keduanya dikatakan berada di tengah-tengah taman), yang disebut pohon pengetahuan, pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Allah seakan-akan berkata, “Ketahuilah, Adam, bahwa engkau sekarang harus tetap berperilaku baik. Engkau ditempatkan di taman firdaus ini untuk diuji. Setialah, taatlah, dan engkau akan hidup selamanya. Jika tidak, kesengsaraanmu akan sebesar kebahagiaanmu.” Di sini,

(1) Adam diancam kematian apabila ia tidak taat: pastilah engkau mati, yang menunjukkan hukuman yang pasti dan mengerikan, sama pastinya seperti bagian depan dari kovenan ini, boleh kaumakan, menunjukkan izin sepenuhnya. Amatilah,

[1] Bahkan dalam keadaan tanpa dosa, Adam merasa takut dan hormat pada ancaman. Rasa takut merupakan salah satu pegangan jiwa yang dapat mencekamnya. Kalau dulu pun Adam membutuhkan pagar pengaman ini, terlebih lagi kita di zaman ini.

[2] Ancaman hukuman itu adalah kematian: Engkau akan mati. Artinya, “Engkau akan dihalangi mendekati pohon kehidupan itu dan segala hal baik yang ditandai olehnya, seluruh kebahagiaan yang kaumiliki, baik harta milikmu maupun pengharapanmu. Engkau bisa mati dan merasakan semua penderitaan yang terjadi sebelum itu.”

[3] Inilah ancaman yang disampaikan sebagai akibat langsung dari dosa: Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau akan mati. Artinya, “Engkau akan menjadi manusia yang fana dan bisa mati. Izin untuk kekekalan akan dicabut, dan pembelaan akan meninggalkanmu. Engkau akan merasa jijik pada kematian, seperti seorang pelanggar hukum yang dijatuhi hukuman dianggap mati secara hukum” (hanya saja, mengingat Adam harus menjadi akar umat manusia, hukumannya ditangguhkan). “Bahkan para pendahulu dan pelopor maut akan segera menyambarmu. Mulai saat itu kehidupanmu akan menjadi hidup yang menuju kematian. Peraturan ini pasti dan sudah ditetapkan. Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.”

(2) Adam diuji dengan hukum yang bersifat positif, untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan. Sungguh pantas untuk menguji ketaatannya melalui perintah seperti ini,

[1] Karena alasannya semata-mata diambil dari kehendak Sang Pembuat hukum. Di dalam dirinya, Adam memiliki kodrat yang enggan terhadap hal yang jahat. Oleh karena itu, ia diuji dalam hal yang bersifat jahat, hanya karena hal itu dilarang. Karena hal itu sekadar merupakan masalah yang kecil, sebenarnya sangat mudah untuk membuktikan ketaatannya.

[2] Karena pengekangan itu dikenakan pada keinginan daging dan pikiran yang di dalam kodrat manusia yang telah rusak merupakan dua sumber utama dosa. Larangan ini mengendalikan baik keinginannya akan kesenangan-kesenangan maupun hasratnya akan rasa ingin tahu, supaya tubuh jasmaninya bisa dikendalikan oleh jiwanya dan jiwanya bisa dikendalikan oleh Allah.

Sesenang dan sebahagia itulah manusia ketika ia dalam keadaan tanpa dosa karena memiliki segala sesuatu yang diinginkannya. Alangkah baiknya Allah kepadanya! Alangkah besarnya anugerah yang dilimpahkan-Nya kepadanya! Alangkah mudahnya hukum-hukum yang diberikan-Nya kepadanya! Alangkah baiknya kovenan yang dibuat-Nya dengan dia! Namun, manusia dengan segala kegemilangannya itu tidak memahami kepentingannya sendiri, dan tidak lama kemudian disamakan dengan hewan yang dibinasakan.

No comments: