Kejadian 1:20-23 (TB):
Setiap hari, sampai saat ini, telah menghasilkan ciptaan-ciptaan yang amat mulia dan unggul, yang tidak ada habis-habisnya bila dikagumi. Tetapi kita tidak membaca tentang penciptaan makhluk hidup apa pun sampai hari kelima, seperti yang digambarkan kepada kita dalam perikop di atas. Karya penciptaan tidak hanya berlanjut secara bertahap dari satu hal ke hal lain, tetapi juga timbul dan berkembang secara bertahap dari apa yang kurang unggul kepada apa yang lebih unggul, yang mengajar kita untuk terus maju menuju kesempurnaan dan berusaha agar pekerjaan-pekerjaan kita yang terakhir adalah pekerjaan-pekerjaan kita yang terbaik. Pada hari kelimalah ikan-ikan dan burung-burung diciptakan, dan kedua-duanya diciptakan dari air. Walaupun tubuh ikan dan tubuh burung itu berbeda jenis, keduanya diciptakan secara bersama-sama, dan dua-duanya diciptakan dari air. Sebab kuasa dari Sang Penyebab Pertama dapat menciptakan hasil-hasil yang berbeda dari penyebab-penyebab sekunder. Amatilah,
1. Dijadikannya ikan-ikan dan burung-burung pada mulanya (ay. 20-21). Allah memerintahkan agar mereka dihasilkan. Ia berkata, hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup (KJV: “Hendaklah air-air memunculkan makhluk-makhluk hidup secara berkelimpahan” – pen.). Bukan seolah-olah berarti bahwa air mempunyai kekuatan sendiri untuk menghasilkan sesuatu, melainkan, “Hendaklah tercipta, ikan-ikan di dalam air dan burung-burung dari dalamnya.” Perintah ini dijalankan-Nya sendiri: Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar, dst. Serangga, yang mungkin sama beragam dan banyaknya seperti jenis-jenis hewan lain, dan susunan tubuhnya mungkin sama mengherankannya, adalah bagian dari pekerjaan pada hari ini, yang sebagian dari antaranya berkerabat dengan ikan dan sebagian lain berkerabat dengan burung. Robert Boyle (ahli fisika dan kimia dari Inggris – pen.) seingat saya pernah berkata bahwa ia amat mengagumi hikmat dan kuasa Sang Pencipta dalam seekor semut sama seperti dalam seekor gajah. Ada perhatian yang diberikan di sini tentang beraneka ragam ikan dan burung, masing-masing sesuai jenisnya, dan tentang banyaknya jumlah ikan dan burung yang dihasilkan itu, sebab air-air memunculkan banyak makhluk secara berkelimpahan. Dan disebutkan secara khusus tentang ikan paus yang besar (dalam terjemahan KJV – pen.), yang terbesar dari segala ikan, yang kebesaran dan kekuatannya, karena melampaui binatang mana pun, merupakan bukti yang mengagumkan akan kekuasaan dan kebesaran Penciptanya. Perhatian tersendiri yang diberikan di sini tentang ikan paus, mengatasi semua makhluk lain, tampak merupakan bukti yang cukup untuk memastikan apa yang dimaksudkan dengan binatang Lewiatan (dalam KJV lihat Ayb. 41:1; dalam TB lihat Ayb. 3:8 – pen.). Susunan yang mengherankan pada tubuh-tubuh binatang, ukuran-ukuran, bentuk-bentuk, dan sifat-sifat mereka yang berbeda, dengan kekuatan-kekuatan yang mengagumkan untuk menjalani hidup indrawi yang dikaruniakan kepada mereka, apabila dipertimbangkan dengan sepatutnya, bukan saja dapat membungkam dan mempermalukan keberatan-keberatan orang yang tidak percaya pada Tuhan dan orang-orang kafir, tetapi juga membangkitkan pikiran-pikiran dan pujian-pujian yang luhur tentang Allah pada jiwa-jiwa yang saleh dan taat (Mzm. 104:25, dst.).
2. Diberkatinya mereka, demi kelangsungan hidup mereka. Hidup adalah suatu hal yang akan habis. Kekuatannya bukanlah seperti kekuatan batu. Hidup adalah lilin yang akan terbakar habis, jika apinya tidak dipadamkan terlebih dahulu. Oleh sebab itu Sang Pencipta yang bijak tidak hanya menjadikan makhluk ciptaan seorang diri, tetapi juga menyediakan sarana untuk berkembang biak. Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah (ay. 22). Allah akan memberkati pekerjaan-pekerjaan-Nya sendiri, dan tidak akan menelantarkan mereka. Dan segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya (Pkh. 3:14). Kuasa pemeliharaan Allah akan memelihara segala sesuatu, seperti halnya kuasa-Nya ketika menciptakan mereka pada mulanya. Kesuburan adalah dampak dari berkat Allah dan harus dipandang demikian. Berkembangbiaknya ikan dan burung, dari tahun ke tahun, tetap merupakan buah dari berkat ini. Maka, marilah kita memberi Allah kemuliaan atas kelangsungan hidup makhluk-makhluk ini sampai pada hari ini demi keuntungan manusia. Lihat Ayub 12:7, 9. Sangat disayangkan bahwa memancing dan menembak burung, suatu kesenangan yang tidak berbahaya dengan sendirinya, sampai diselewengkan begitu rupa sehingga mengalihkan perhatian orang dari Allah dan kewajiban mereka. Sementara kesenangan itu bisa dimanfaatkan untuk mengantar kita merenungi hikmat, kuasa, dan kebaikan Dia yang menjadikan semuanya ini, dan untuk mengajak kita bersikap hormat kepada-Nya, seperti ikan dan burung hormat kepada kita.
No comments:
Post a Comment