Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

My name is Hanii




Let me to introduce my self.
My name is Hanii....
Im a second sister from Blessing & Ishi.

Kejadian 10:21 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:21 (TB)

Lahirlah juga anak-anak bagi Sem, bapa semua anak Eber serta abang Yafet.


21. Semua anak Eber terdiri dari berbagai kelompok berbeda di antara putra-putra Sem. Nama Eber telah dikaitkan dengan kata Ibrani yaitu nama orang Israel yang dikenal oleh bangsa-bangsa lain di sekelilingnya. Mereka adalah kelompok-kelompok yang mengenal Allah yang sejati. Istilah "Ibrani" menyangkut ras sedangkan "Israel" menyangkut bangsa. Pada masa belakangan, kedua kata ini dipakai sebagai sinonim.

Kejadian 10:15-20 (MHC)

Kejadian 10:15-20 (TB):
15 Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het,
16 serta orang Yebusi, orang Amori dan orang Girgasi;
17 orang Hewi, orang Arki, orang Sini,
18 orang Arwadi, orang Semari dan orang Hamati; kemudian berseraklah kaum-kaum orang Kanaan itu.
19 Daerah orang Kanaan adalah dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim sampai ke Lasa.
20 Itulah keturunan Ham menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.
KETURUNAN KANAAN DAN DAERAH MEREKA

Amatilah di sini,

1. Catatan keturunan Kanaan yang menguraikan perihal kaum keluarga dan suku bangsa yang diturunkan dari dirinya, serta tanah-tanah yang mereka miliki, disebutkan secara lebih khusus dalam pasal ini daripada keturunan yang lain. Ini karena suku-suku bangsa tersebut yang nantinya ditaklukkan oleh bangsa Israel, dan tanah-tanah mereka ini sedang dalam proses waktu untuk menjadi tanah suci, tanah Immanuel. Allah menaruh perhatian khusus ketika Ia membuang undi bagi bangsa yang berada di bawah kutuk ini di atas tanah yang telah dipilih-Nya bagi umat-Nya sendiri. Hal ini diperhatikan Musa dalam Ulangan 32:8, Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan pusaka kepada bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel.

Kejadian 10:6-20 (FULL)

Kejadian 10:6-20 (TB):
6 Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.
7 Keturunan Kush ialah Seba, Hawila, Sabta, Raema dan Sabtekha; anak-anak Raema ialah Syeba dan Dedan.
8 Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi;
9 ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN."
10 Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear.
11 Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah
12 dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu.
13 Misraim memperanakkan orang Ludim, orang Anamim, orang Lehabim, orang Naftuhim,
14 orang Patrusim, orang Kasluhim dan orang Kaftorim; dari mereka inilah berasal orang Filistin.
15 Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het,
16 serta orang Yebusi, orang Amori dan orang Girgasi;
17 orang Hewi, orang Arki, orang Sini,
18 orang Arwadi, orang Semari dan orang Hamati; kemudian berseraklah kaum-kaum orang Kanaan itu.
19 Daerah orang Kanaan adalah dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim sampai ke Lasa.
20 Itulah keturunan Ham menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.
KETURUNAN HAM

Nas : Kej 10:6-20

Ayat-ayat ini mendaftarkan keturunan Ham yang tinggal di wilayah Arab Selatan, Mesir Selatan, dan pantai timur Laut Besar, dan pantai utara Afrika. Keturunan Kanaan (ayat Kej 10:15-19) menetap di wilayah yang diberi nama Kanaan, wilayah yang kemudian menjadi tempat tinggal bangsa Yahudi.

Kejadian 10:15 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:15 (TB)

Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het,


15. Het. Nenek moyang bangsa Het yang kerajaannya berkuasa dari tahun 1600-700 sM. Kota-kota utama mereka adalah Karkemis di tepi sungai Efrat dan Kades di tepi sungai Orontes. Bangsa ini tinggal di kawasan dekat Hebron dan menyaksikan peristiwa pembelian gua Makhpela dari Efron oleh Abraham (23:8-10). Esau menikah dengan orang suku ini. Suku Het berhasil dicatat dalam prasasti-prasasti Asyur dan Mesir. Para ahli purbakala telah menemukan sisa-sisa yang berharga dari peradaban kerajaan yang perkasa ini.

Genesis 10:8-14 (MHCC)

Genesis 10:8-14 (KJV):
8 And Cush begat Nimrod: he began to be a mighty one in the earth.
9 He was a mighty hunter before the LORD: wherefore it is said, Even as Nimrod the mighty hunter before the LORD.
10 And the beginning of his kingdom was Babel, and Erech, and Accad, and Calneh, in the land of Shinar.
11 Out of that land went forth Asshur, and builded Nineveh, and the city Rehoboth, and Calah,
12 And Resen between Nineveh and Calah: the same is a great city.
13 And Mizraim begat Ludim, and Anamim, and Lehabim, and Naphtuhim,
14 And Pathrusim, and Casluhim, (out of whom came Philistim,) and Caphtorim.
Nimrod was a great man in his day; he began to be mighty in the earth, Those before him were content to be upon the same level with their neighbours, and though every man bare rule in his own house, yet no man pretended any further. Nimrod was resolved to lord it over his neighbours. The spirit of the giants before the flood, who became mighty men, and men of renown, Gen 6:4, revived in him. Nimrod was a great hunter. Hunting then was the method of preventing the hurtful increase of wild beasts. This required great courage and address, and thus gave an opportunity for Nimrod to command others, and gradually attached a number of men to one leader. From such a beginning, it is likely, that Nimrod began to rule, and to force others to submit. He invaded his neighbours' rights and properties, and persecuted innocent men; endeavouring to make all his own by force and violence. He carried on his oppressions and violence in defiance of God himself. Nimrod was a great ruler. Some way or other, by arts or arms, he got into power, and so founded a monarchy, which was the terror of the mighty, and bid fair to rule all the world. Nimrod was a great builder. Observe in Nimrod the nature of ambition. It is boundless; much would have more, and still cries, Give, give. It is restless; Nimrod, when he had four cities under his command, could not be content till he had four more. It is expensive; Nimrod will rather be at the charge of rearing cities, than not have the honour of ruling them. It is daring, and will stick at nothing. Nimrod's name signifies rebellion; tyrants to men are rebels to God. The days are coming, when conquerors will no longer be spoken of with praise, as in man's partial histories, but be branded with infamy, as in the impartial records of the Bible.

Kejadian 10:6-14 (MHC)

Kejadian 10:6-14 (TB):
6 Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.
7 Keturunan Kush ialah Seba, Hawila, Sabta, Raema dan Sabtekha; anak-anak Raema ialah Syeba dan Dedan.
8 Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi;
9 ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN."
10 Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear.
11 Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah
12 dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu.
13 Misraim memperanakkan orang Ludim, orang Anamim, orang Lehabim, orang Naftuhim,
14 orang Patrusim, orang Kasluhim dan orang Kaftorim; dari mereka inilah berasal orang Filistin.
KETURUNAN HAM; PERIHAL NIMROD

Keturunan Ham; Perihal Nimrod (Kejadian 10:6-14)

Hal yang dapat diamati agak banyak di dalam ayat-ayat ini adalah catatan tentang Nimrod (ay. 8-10). Di sini ia digambarkan sebagai orang yang besar dalam zamannya: Dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi. Artinya, bila orang-orang yang telah ada sebelum dia sudah merasa cukup puas berdiri sama derajat dengan sesama mereka, dan meskipun tiap orang memerintah di rumah masing-masing, tidak ada yang berani bertindak lebih jauh daripada itu. Namun sebaliknya, pikiran Nimrod yang bercita-cita tinggi tidak dapat berhenti sampai di sini. Ia memutuskan untuk menjulang tinggi melampaui sesamanya. Tidak saja menjadi yang menonjol di antara mereka, tetapi menjadi tuan atas mereka. Semangat seperti itulah yang menggerakkan raksasa-raksasa sebelum air bah, yang menjadi orang-orang yang gagah perkasa dan orang-orang kenamaan (6:4). Semangat itu kini dibangkitkan kembali di dalam dirinya. Begitu cepat setelah penghakiman luar biasa yang membawa orang-orang sombong dan penguasa yang jahat itu dibawa ke dalam dunia orang mati. Perhatikanlah, dalam diri sebagian orang ada terkandung keinginan dan hasrat yang teramat besar untuk berkuasa. Seperti apa yang pernah ada akan ada lagi, tak peduli murka Allah sering dinyatakan dari sorga terhadap mereka. Di seberang neraka ini, tidak ada yang dapat merendahkan dan mematahkan jiwa-jiwa sombong sejumlah orang. Dalam hal ini mereka menjadi sama seperti Iblis (Yes. 14:14-15). Nah,

Kejadian 10:13 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:14 (TB)

orang Patrusim, orang Kasluhim dan orang Kaftorim; dari mereka inilah berasal orang Filistin.


14. Orang Filistin dianggap sebagai bangsa yang memberikan nama mereka untuk tanah Palestina. Amos dan Yeremia menyebutkan bahwa mereka datang dari Kaftor. Lima kota utama mereka adalah Asdod, Askelon, Gaza, Gat dan Ekron. Selama berabad-abad bangsa Filistin menjadi duri dalam daging bagi bangsa Israel.

Kejadian 10:11-12 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:11-12 (TB):
11 Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah
12 dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu.
11, 12. Niniwe. Dikenal sejak 2800 sM, Niniwe merupakan pusat dari kerajaan Asyur yang perkasa, yang mencapai puncak kekuasaannya di bawah Sanherib, Esarhadon dan Asurbanipal. Kerajaan ini terletak di Sungai Tigris, sekitar 250 mil dari kota Babel. Terhadap kota inilah Nabi Yunus dan Nahum mengalamatkan nubuat-nubuat mereka.

Kejadian 10:12 (JERUSALEM)

Kejadian 10:12 (TB)

dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu.


ITULAH KOTA BESAR

Kalau sisipan ini mengenai Kalah, maka ia agaknya bertanggal abad kesembilan seb. Mas. Di zaman itu Kalah (sekarang bernama Nimrud) menjadi ibu kota negeri Asyur. Kalau sisipan itu mengenai Niniwe, maka ia bertanggal zaman sesudah raja Sanherib yang menjadikan Niniwe ibu kotanya.

Kejadian 10:10 (JERUSALEM)

Kejadian 10:10 (TB)

Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear.


AKAD

Ini sebuah kota yang terletak di dekat tempat kota Babel didirikan kemudian. Nama kota Akad menjadi juga nama bagian utara daerah Mesopotamia Hilir, berbeda dengan Sumer yang terletak lebih ke selatan. Akhirnya Akad menjadi nama semua bangsa dan bahasa Semit di daerah itu, berbeda dengan bahasa dan bangsa Sumer

Kejadian 10:8-9 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:8-9 (TB):
8 Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi;
9 ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN."
8, 9. Nimrod. Putra Kusy. Dialah yang mendirikan kerajaan Babel mula-mula dan mendirikan kota Niniwe. Dia merupakan seorang pemburu ulung dan panglima tentara yang handal. Kekuasaannya meluas hingga kota-kota di Mesopotamia.

Kejadian Versi JAWA94

Kejadian 1 :
1-31:
1 Ing jaman kuna sing wiwitan mula Gusti Allah nitahaké jagad.
2 Bumi kaanané isih ora karu-karuwan, tur sepi banget. Salumahé bumi ketutupan banyu, mangka kaanané peteng ndhedhet. Déné Rohé Allah makarya ana ing sandhuwuré banyu.
3 Gusti Allah nuli ngandika, "Anaa padhang. " Banjur ana padhang.
4 Gusti Allah mirsani yèn padhang mau wis becik. Panjenengané nuli misah padhang karo peteng,
5 sing padhang diarani "rina, " sing peteng diarani "wengi". Mengkono wis dadi soré lan ésuk; yakuwi dina kang kapisan.
6 Gusti Allah nuli ngandika, "Anaa penthèngan kang misahaké banyu dadi loro, ing panggonané dhéwé-dhéwé. " Banjur iya dadi mengkono.
7 Kaya mengkono Gusti Allah wus yasa penthèngan kanggo misahaké banyu sing ana sangisoring penthèngan karo banyu sing ana sandhuwuré penthèngan mau.
8 Penthèngan kuwi diarani "langit". Mengkono wis dadi soré lan ésuk; yakuwi dina kang kapindho.
9 Gusti Allah banjur ngandika, "Banyu kang ana ing sangisoring langit padha nglumpuka dadi siji, supaya katona dharatané. " Banjur iya dadi mengkono.
10 Dharatan mau diarani "bumi, " lan klumpukané banyu diarani "segara". Gusti Allah mirsani yèn kaanané wis becik.
11 Panjenengané nuli ngandika, "Bumi metokna tetuwuhan rupa-rupa, yakuwi thethukulan kang nuwuhaké wiji, lan wit-witan kang metokaké woh-wohan. " Banjur iya dadi mengkono.
12 Bumi metokaké tetuwuhan werna-werna, iya thethukulan sing nuwuhaké wiji, semono uga wit-witan sing metokaké woh-wohan. Gusti Allah mirsani yèn kuwi mau kabèh wis becik.
13 Mengkono wis dadi soré lan ésuk; yakuwi dina kang katelu.
14 Gusti Allah banjur ngandika, "Ing langit anaa pepadhangé sing misahaké rina lan wengi, sarta kanggo tengeran wiwitané dina, taun lan mangsa riaya manut prenataning agama.
15 Karo menèh padha dadia pepadhang ing langit lan madhangana bumi. " Banjur iya dadi mengkono.
16 Gusti Allah yasa pepadhang loro sing gedhé, yakuwi srengéngé ngerèh wayah rina, lan rembulan ing wayah bengi, mengkono uga yasa lintang-lintang.
17 Pepadhang-pepadhang mau diprenahaké déning Gusti Allah ana ing langit kanggo madhangi bumi,
18 ngerèh wayah rina lan wayah bengi, apa déné misahaké padhang karo peteng. Gusti Allah mirsani yèn kabèh mau wis becik.
19 Mengkono wis dadi soré lan ésuk; yakuwi dina kang kapat.
20 Gusti Allah nuli ngandika, "Ing banyu anaa kéwan banyu werna-werna, lan ing awang-awang anaa manuké."
21 Gusti Allah nitahaké kéwan kang gedhé-gedhé banget, lan werna-werna sing padha urip ing banyu, semono uga sakèhé manuk. Gusti Allah mirsani yèn kuwi kabèh wis becik.
22 Nuli padha diberkahi; pangandikané marang kéwan-kéwan sing ana ing banyu, "Padha bebranahana lan tangkar-tumangkara, ngebakana banyuning segara. Lan manuk-manuk padha tangkar-tumangkara ana ing bumi."
23 Mengkono wis dadi soré lan ésuk; yakuwi dina kang kalima.
24 Gusti Allah banjur ngandika, "Ing bumi anaa kéwan werna-werna, kéwan ingon-ingon lan kéwan alasan, kang gedhé lan kang cilik. " Banjur iya dadi mengkono.
25 Gusti Allah yasa sato kéwan kuwi mau kabèh, sarta dipirsani wis becik.
26 Gusti Allah nuli ngandika, "Ayo Kita padha yasa manungsa, nulad gambar lan pasemon Kita. Manungsa iku ngwasanana iwak-iwak, manuk-manuk, lan sakèhé kéwan ingon-ingon lan kéwan alasan, sing gedhé tekan sing cilik dhéwé pisan."
27 Gusti Allah nuli yasa manungsa nulad gambar lan pasemoné Piyambak. Enggoné nitahaké manungsa mau lanang lan wadon.
28 Nuli padha diberkahi, pangandikané, "Padha bebranahana lan tangkar-tumangkara; turunmu padha ngebakana lan ngwasanana bumi. Mengkono uga padha ngwasanana sakèhing iwak, manuk-manuk lan kéwan-kéwan alasan."
29 Sarta pangandikané menèh, "Kowé padha Dakparingi sarupané thethukulan kang metokaké wiji, apa déné sarupané woh-wohan minangka panganmu;
30 nanging sakèhing sato-kéwan alasan lan sakèhing manuk sarta sarupaning kéwan-kéwan liyané Dakparingi suket lan godhongé tetuwuhan minangka pangané. " Banjur iya dadi mengkono.
31 Gusti Allah nuli mirsani samubarang yasané, lan kabèh mau wis becik banget. Mengkono wis dadi soré lan wis dadi ésuk; yakuwi dina kang kanem.
Kejadian 2 :
1-25:
1 Mengkono mau rampungé dumadiné jagad lan saisiné kabèh.
2 Ing dina kapitu Gusti Allah wis ngrampungaké sakèhing yasané, banjur kèndel enggoné makarya.
3 Dina kapitu mau nuli diberkahi sarta disengker, merga ing dina kuwi Panjenengané kèndel ing pakaryan enggoné nitahaké samubarang yeyasané.
4 Kaya mengkono dumadiné jagad nalika dititahaké. Nalika Gusti Allah nitahaké jagad,
5 ing bumi durung ana tetuwuhan, lan durung ana wiji sing thukul, awit Gusti Allah durung nekakaké udan lan durung ana wong ngolah bumi.
6 Nanging ana banyu metu saka sangisoring lemah lan nelesi palemahan mau kabèh.
7 Gusti Allah banjur mundhut lemah saka ing bumi kawangun manungsa; nuli bolongané irungé kasebul nganggo napasing urip, mula manungsa banjur urip.
8 Gusti Allah banjur yasa petamanan ing tanah Èden, ing sisih Wétan. Ana ing petamanan kono Gusti Allah enggoné mapanaké manungsa sing didhapur mau.
9 Ing petamanan kono Gusti Allah nukulaké sakèhé wit-witan sing katon asri, lan sing metokaké woh-wohan sing becik kanggo pangan. Ing satengahing petamanan uga ana witing kauripan, lan witing pangerti bab kang ala lan becik.
10 Ing kono ana kali gedhé sing ngilèni petamanan mau. Ing sanjabané petamanan kali gedhé kuwi banjur cawang dadi kali papat.
11 Kali sing kapisan jenengé Pison; kali iki iliné ngubengi ing satanah Hawila.
12 (Ing tanah kono ana emasé murni, uga ana bangsané blendok sing ambuné wangi banget, sarta sesotya-sesotya sing rupané éndah banget.)
13 Kali sing kapindho jenengé Gihon, iliné ngubengi satanah Kus.
14 Kali kang katelu Tigris, lakuné metu ing sawétané tanah Asyur; déné kali kang kapat, Éfrat.
15 Gusti Allah mapanaké manungsa ana ing petamanan Èden, didhawuhi ngolah lan ngreksa petamanan mau,
16 karo dingandikani mengkéné, "Sarupané wit-witané petamanan iki wohé olèh kokpangan,
17 kejaba mung witing pangerti bab kang ala lan becik, kuwi wohé aja kokpangan. Awit samasa kowé mangan wohé mau, ing dina kuwi uga kowé bakal mati."
18 Gusti Allah banjur ngandika, "Ora prayoga yèn manungsa mung ijèn waé.  Dakyasakné kanca kang sembada."
19 Gusti Allah banjur mundhut lemah, nuli kadhapur dadi sarupané sato kéwan lan sarupané manuk. Kabèh mau banjur dipapanaké ana ing ngarepé manungsa, awit Gusti Allah kersa mirsani, kepriyé manungsa enggoné mènèhi jeneng marang kéwan-kéwan mau. Yakuwi mula-bukané kéwan lan manuk padha duwé jeneng dhéwé-dhéwé.
20 Mengkono dadiné manungsa mènèhi jeneng marang sarupané kéwan. Nanging ora ana manungsa siji waé sing bisa dadi réwangé sing sembada.
21 Gusti Allah nuli ndadèkaké manungsa mau turu kepati, lan igané dipundhut siji; tilas panggonané iga kang kapundhut mau diisèni daging.
22 Iga sing kapundhut saka manungsa mau nuli didhapur déning Gusti Allah dadi wong wadon, banjur dipapanaké ana ing ngarepé manungsa.
23 Ing kono manungsa nuli ngucap, "Yaiki titah sing kaya aku, sing balungé saka balungku, lan dagingé saka dagingku. Manungsa iki diarani ‘kedhini’, awit kajupuk saka kedhana."
24 Mulané wong lanang pinesthi ninggal bapa-biyungé lan rumaket marang rabiné, sarta sekaroné bakal dadi badan siji.
25 Manungsa lanang lan wadon mau sekaroné padha wuda, éwadéné ora rumangsa isin.
Kejadian 3 :
1-24:
1 Padha-padha kéwan sing katitahaké déning Gusti Allah, ula kuwi kéwan sing sugih akal. Ula mau takon karo wong wadon, "Apa bener Gusti Allah ora marengaké kowé mangan wohing wit-witan kabèh sing ana ing petamanan iki?"
2 Wangsulané wong wadon, "Wohé wit-witan ing petamanan iki padha olèh dakpangan,
3 kejaba mung wohé wit sing ana ing satengahé petamanan; sing didhawuhaké déning Gusti Allah, ‘Aja kokpangan, malah kokgepok waé ora kena, supaya kowé aja padha mati. ’"
4 Ula banjur kandha, "Kuwi ora bener! Kowé ora bakal mati!
5 Gusti Allah enggoné ngandika mengkono mau merga pirsa yèn samasa kowé padha mangan woh kuwi, kowé bakal dadi kaya Gusti Allah, lan ngerti apa sing becik lan sing ala."
6 Wong wadon bareng namataké banjur kesengsem marang kaéndahané wit lan wohé mau, sing sajak prayoga dipangan lan bisa ngolèhaké kapinteran, mulané banjur methik woh mau, nuli dipangan. Sing lanang diwènèhi lan iya mèlu mangan.
7 Sanalika iku uga pikirané wong loro mau kabukak, temahan padha weruh yèn wuda. Mulané banjur padha nggandhèng-nggandhèng godhong anjir kanggo nutupi awaké.
8 Soréné bareng lan sumiliré angin, manungsa lan sing wadon padha krungu sebawané tindaké Gusti Allah lumampah ana ing petamanan, nuli padha umpetan ing antarané wit-witan, supaya ora konangan.
9 Gusti Allah banjur nimbali manungsa, pangandikané, "Kowé ana ing endi?"
Wangsulané manungsa, "Sareng kawula mireng Panjenengan tindak wonten ing petamanan, kawula ajrih, mila lajeng umpetan, awit kawula wuda."
10 Gusti Allah ndangu, "Sapa kang ngandhani kowé, yèn kowé wuda? Apa kowé mangan wohing wit sing ora Dakparengaké kokpangan?"
11 Aturé manungsa, "Tiyang èstri ingkang Panjenengan paringaken dados sisihan kawula menika ingkang nyukani wohipun wit wau dhateng kawula, sarta lajeng kawula tedha."
12 Gusti Allah banjur ndangu marang wong wadon, "Apa sebabé kowé koktumindak mengkono?" Aturé wong wadon, "Sawer ingkang ngapusi kawula, temahan kawula lajeng nedha."
13 Gusti Allah banjur ngandika marang si ula, "Sarèhné kowé nglakoni kang mengkono kuwi, mulané kowé kena ing ipat-ipat merga penggawému. Ing ngatasé sarupané kéwan, mung kowé dhéwé kang nampani paukuman iki. 14 Wiwit saiki lakumu bakal nlosor, lan kowé bakal mangan lebu sajegé uripmu.
15 Kowé lan wong wadon iki bakal tansah padha memungsuhan; semono uga turuné wong wadon iki lan turunmu. Turuné wong wadon iki bakal ngremuk endhasmu, lan kowé bakal ngremuk tungkaké."
16 Gusti Allah nuli ngandika marang wong wadon, "Aku bakal muwuhi rekasamu sajroné kowé ngandheg, nglarani lan nglairaké anak; éwadéné kowé bakal tansah kepéncut marang bojomu, mangka wong kuwi bakal ngwasani kowé."
17 Gusti Allah nuli ngandika marang wong lanang, "Sarèhné kowé nggugu marang tembungé rabimu, sarta mangan wohé wit sing ora Dakparengaké kokpangan, mulané bumi kena ing ipat-ipat krana kowé: Supaya kowé bisa mangan pametuné bumi iki, sajegé urip kowé bakal ngrekasa.
18 Bumi bakal metokaké eri lan rerungkudan; iya pametuné kuwi sing dadi panganmu.
19 Enggonmu mangan rejekimu nganggo nyambut-gawé abot, nganti tekan patimu, bali marang bumi asalmu. Sarèhné kowé kuwi lebu, mula bakal bali dadi lebu menèh."
20 Manungsa (Adam) awèh jeneng marang bojoné Kawa, merga wong wadon kuwi dadi lajering manungsa kabèh.
21 Gusti Allah banjur yasa sandhangan saka welulang dianggokaké marang Adam lan Kawa.
22 Gusti Allah nuli ngandika, "Saiki manungsa wis padha karo Kita, ngerti bab kang becik lan kang ala. Mulané saiki manungsa aja nganti methik sarta mangan wohé wit panguripan, temah urip ing selawasé."
23 Gusti Allah banjur nundhung manungsa saka petamanan Èden, kadhawuhan ngolah lemah kang dadi asalé.
24 Sawusé mengkono Gusti Allah banjur mrenahaké malaékat Kerub ing sawétané petamanan Èden, karo nggawa pedhang murub sing tansah diobat-abitaké. Kuwi kanggo njaga, supaya aja ana wong sing wani nyedhaki witing panguripan.
Kejadian 4 :
1-26:
1 Adam urip bebarengan karo Kawa, somahé, temah Kawa ngandheg, lan mbabar anak lanang. Pangucapé Kawa, "Merga saka pitulungané Gusti Allah aku duwé anak lanang. " Mulané anaké mau dijenengaké Kain.
2 Sawisé kuwi Kawa mbabar anak lanang menèh, dijenengaké Abil. Abil dadi pangon wedhus, lan Kain dadi wong tani.
3 Sawisé wetara mangsa Kain mau nyaosaké kurban marang Gusti Allah saka pametuné lemahé.
4 Déné Abil uga njupuk cempé tembéan, disembelèh lan dagingé sing apik dhéwé kacaosaké minangka kurban marang Gusti Allah. Gusti Allah rena marang pisungsungé Abil,
5 nanging pisungsungé Kain ditampik, mula Kain nepsu banget, lan ulaté mbesengut.
6 Gusti Allah nuli ngandika marang Kain, "Yagéné kowé nepsu? Apa sebabé ulatmu mbesengut?
7 Menawa tumindakmu becik, mesthi ulatmu padhang. Nanging sarèhné tumindakmu ala, dosa wis cumepak ana ing ngareping lawangé atimu, arep ngwasani kowé; nanging kuwi kudu koktelukaké."
8 Kain banjur kandha karo Abil, adhiné, "Ayo padha menyang tegalan. " Bareng wis tekan tegalan Abil nuli digebug sarta dipatèni.
9 Gusti Allah nuli ndangu marang Kain, "Abil adhimu ana ing endi?" Aturé Kain, "Kawula mboten sumerep. Menapa kawula menika pamomongipun adhi kawula?"
10 Pangandikané Gusti Allah, "Yagéné kowé koknglakoni pretingkah kang mengkono? Getihé adhimu sesambat marang Aku saka ing bumi, nyuwun piwales.
11 Mulané kowé kena ing ipat-ipat lan katundhung saka ing bumi kéné, merga lemah iki wis mangap nadhahi getihé adhimu nalika kokpatèni.
12 Menawa kowé nggarap lemah, ora bakal ana pametuné. Kowé bakal ora duwé panggonan sing tetep lan bakal nglembara ana ing bumi."
13 Unjuké Kain marang Gusti Allah, "Paukuman menika awrat sanget, ngantos kawula mboten kiyat nyanggi.
14 Panjenengan sampun nundhung kawula saking bumi ngriki, tebih saking pengayoman Panjenengan. Kawula badhé dados tiyang nglembara ingkang mboten gadhah panggènan ingkang tetep wonten ing bumi, lan sintena kémawon ingkang mrangguli kawula temtu badhé mejahi kawula."
15 Nanging Gusti Allah ngandika, "Ora pisan-pisan. Menawa ana kang matèni kowé, bakal kawales tikel ping pitu. " Kain nuli diparingi ciri déning Gusti Allah, supaya aja nganti dipatèni déning sapa waé sing mrangguli.
16 Kain banjur mundur saka ngarsané Gusti Allah lan manggon ing tanah Nod, ing sawétané tanah Èden.
17 Kain lan bojoné duwé anak lanang, dijenengaké Hénokh. Kain nuli ngedegaké kutha dijenengaké kaya jenengé anaké mau, yakuwi Hénokh.
18 Hénokh nurunaké Irad. Irad nurunaké Mekhuyaèl; Mekhuyaèl nurunaké Metusaèl, Metusaèl nurunaké Lamèkh.
19 Lamèkh duwé bojo loro: Ada lan Zila.
20 Ada duwé anak Yabal, lan Yabal kuwi dadi leluhuré bangsa sing ngingu raja-kaya lan manggon ing kémah.
21 Adhiné Yabal jenengé Yubal, dadi leluhuré para wong sing seneng nylempung lan nyuling.
22 Zila nglairaké Tubal-Kain, dadi leluhuré para sayang lan pandhé. Tubal-Kain duwé adhi wadon, jenengé Naamah.
23 Lamèkh kandha karo bojo-bojoné mengkéné, "Ada lan Zila, padha rungokna kandhaku! Yèn ana wong natoni aku, wong kuwi mesthi dakpatèni, semono uga yèn ana nonoman sing gawé bilurku.
24 Yèn wong matèni Kain diwales ping pitu, nanging yèn matèni aku, bakal diwales ping pitung puluh pitu."
25 Adam lan Kawa diparingi anak menèh. Pangucapé Kawa, "Gusti Allah wis maringi aku anak lanang ijolé Abil, sing dipatèni Kain. " Mulané anak mau dijenengaké Sèt.
26 Sèt duwé anak lanang, dijenengaké Énos. Nalika semono wong wiwit padha manembah klawan nyebut Asmané Gusti Allah.
Kejadian 5 :
1-32:
1 Iki sejarahé Adam. [Nalika Gusti Allah nitahaké Adam, kadamel nulad pasemoné Gusti Allah piyambak.
2 Padha katitahaké lanang lan wadon, sarta padha diberkahi lan diarani "manungsa".]
3 Nalika Adam umur 130 taun nuli kaparingan anak lanang, sing rupané mèmper karo bapakné. Anak mau dijenengaké Sèt.
4 Sawisé kaparingan anak Sèt, Adam isih kawuwuhan umur 800 taun, sarta kaparingan anak lanang lan wadon,
5 lan tilar-donya nalika umur 930 taun.
6 Nalika Sèt umur 105 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Énos.
7 Sawisé kuwi Sèt isih kawuwuhan umur 807 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
8 sarta tilar-donya nalika umur 912 taun.
9 Nalika Énos umur 90 taun kaparingan anak lanang, jenengé Kénan.
10 Sawisé iku Énos isih kawuwuhan umur 815 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
11 lan tilar-donya nalika umur 905 taun.
12 Nalika Kénan umur 70 taun kaparingan anak lanang, jenengé Mahalaléèl.
13 Sawisé kuwi Kénan isih kawuwuhan umur 840 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
14 sarta tilar-donya nalika umur 910 taun.
15 Nalika Mahalaléèl umur 65 taun kaparingan anak lanang, jenengé Yarèd.
16 Sawisé kuwi Mahalaléèl isih kawuwuhan umur 830 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
17 sarta tilar-donya nalika umur 895 taun.
18 Nalika Yarèd umur 162 taun kaparingan anak lanang, jenengé Hénokh.
19 Sawisé kuwi Yarèd isih kawuwuhan umur 800 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
20 sarta tilar-donya nalika umur 962 taun.
21 Nalika Hénokh umur 65 taun kaparingan anak lanang, jenengé Metusalah.
22 Sawisé kuwi Hénokh isih kawuwuhan umur 300 taun, kaparingan anak lanang lan wadon.
23 Umuré Hénokh nyandhak 365 taun.
24 Hénokh uripé tansah tetunggilan karo Gusti Allah. Dumadakan Hénokh ilang, merga kapulung déning Panjenengané.
25 Nalika Metusalah umur 187 taun kaparingan anak lanang, jenengé Lamèkh.
26 Sawisé kuwi Metusalah isih kawuwuhan umur 782 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
27 sarta tilar-donya nalika umur 969 taun.
28 Nalika Lamèkh umur 182 taun kaparingan anak lanang.
29 Pangucapé Lamèkh, "Bocah iki bakal ngluwari kita saka pegawéan kita sing abot, yakuwi nggarap lemah sing wis dibendoni déning Gusti Allah. " Mulané anaké dijenengaké Nuh.
30 Sawisé kuwi isih kawuwuhan umur 595 taun, kaparingan anak lanang lan wadon,
31 sarta tilar-donya nalika umur 777 taun.
32 Nalika Nuh umur 500 taun kaparingan anak lanang telu, yakuwi Sèm, Kham lan Yafèt./span>
Kejadian 6 :
1-22:
1 Manungsa sangsaya akèh, sumebar ing bumi, lan duwé anak wadon-wadon.
2 Para putrané Allah bareng weruh yèn anak-anaké wadon para manungsa mau padha ayu-ayu, endi sing disenengi nuli dipèk bojo.
3 Gusti Allah banjur ngandika, "Roh-Ku ora bakal selawasé nunggil karo manungsa, sing uripé mung nuruti hawa-nepsuning daging. Manungsa mesthi mati. Umuré ora bakal luwih saka 120 taun."
4 Wiwit nalika semono ing bumi ana wong-wong sing dedegé gedhé dhuwur gagah prakosa, yakuwi anak-turuné para wong wadon anaké manungsa, sing kawin karo para putrané Allah. Wong-wong prakosa mau para perwira ing jaman kuna, sing kondhang jenengé.
5 Bareng Gusti Allah pirsa gedhéning durakané manungsa ing bumi, lan saobah-isiking atiné selawasé ala waé,
6 ing kono Gusti Allah keduwung enggoné nitahaké manungsa ana ing bumi.  Gusti Allah cuwa ing penggalih,
7 nganti ngandika, "Manungsa kang Daktitahaké bakal Daktumpes saka lumahing bumi, semono uga sakèhé kéwan lan sarupaning manuk, merga Aku keduwung marang apa kang wis Daktitahaké."
8 Mung Nuh sing gawé renaning penggalihé Allah.
9 Iki critané Nuh. Nuh kuwi wong mursid, tanpa cacad ana ing antarané wong-wong ing jaman semono. Uripé Nuh tansah tetunggilan karo Gusti Allah.
10 Nuh duwé anak lanang telu, jenengé: Sèm, Kham lan Yafèt.
11 Nanging wong liya-liyané mau ala ana ing pamirsané Allah. Ing endi-endi anané mung panganiaya.
12 Gusti Allah pirsa yèn bumi wis dadi ala babar-pisan, awit manungsa kabèh uripé kebak piala.
13 Gusti Allah nuli ngandika marang Nuh, "Aku wis gawé putusan mungkasi uripé manungsa kabèh, arep Daktumpes babar-pisan, merga bumi wis kebak panganiaya.
14 Kowé gawéa prau; gawénen saka kayu gofèr, kayu sing sentosa. Ing njeroné prau gawénen singgetan-singgetan, ing njero lan ing njabané usarana lenga kenthel.
15 Gawénen dawané 133 mèter, ambané 22 mèter, lan dhuwuré 13 mèter.
16 Prau mau gawèkna payon, lan ing antarané payon lan sisihé prau kudu ana lowongan 44 sèntimèter. Prau kuwi gawénen tundha telu. Lawangé pasangen ing lambungé.
17 Aku bakal nekakaké banjir gedhé sing ngelebi bumi, kanggo numpes sarupané tumitah sing urip. Sakèhé tumitah sing ana ing bumi mesthi bakal mati.
18 Nanging Aku kersa gawé prejanjian karo kowé. Mlebua ing prau, kowé lan anak-anakmu, bojomu lan bojoné anak-anakmu.
19 Iya nggawaa mlebu sarupané bangsa kéwan, saben jinis nyejodho, supaya padha urip bareng karo kowé.
20 Sawernané anaa sing lanang lan sing wadon. Bangsa manuk werna-werna, bangsa kéwan nusoni werna-werna, apa déné sakèhé bangsa kéwan rumangkang, nlosor lan gumremet ana ing bumi werna-werna; saben jinisé bakal ana sejodho nekani kowé, supaya lestaria urip.
21 Semono uga nggawaa sarupaning pangan kanggo kowé lan kanggo kéwan-kéwan mau."
22 Nuh nindakaké sakèhing dhawuhé Gusti Allah.
Kejadian 7 :
1-24:
1 Gusti Allah nuli ngandika marang Nuh, "Kowé lan sabrayatmu kabèh padha mlebua ing prau, awit Daktingali mung kowé dhéwé kang mbangun-turut marang dhawuh-Ku.
2 Nggawaa saben jinisé kéwan sing kalal mitung jodho, lan saben jinis kéwan sing ora kalal nyejodho.
3 Iya nggawaa saben jinis manuk mitung jodho, supaya saben jinis kéwan lan manuk ora katut kasirnakaké, bisaa tangkar-tumangkar menèh ana ing bumi.
4 Pitung dina engkas Aku bakal nekakaké udan deres nganti patang puluh dina lawasé, supaya sakèhing titah sing urip mati kabèh."
5 Nuh nuli ngèstokaké apa sadhawuhé Gusti Allah.
6 Nalika banjir patopan ngelebi bumi mau Nuh umur 600 taun.
7 Nuh lan bojoné, anak-anaké lan para mantuné wadon padha mlebu kabèh ana ing prau, ngoncati banjir patopan.
8 Kéwan sing kalal lan kéwan sing ora kalal, apa déné manuk lan sedhéngah titah sing duwé nyawa,
9 padha nekani marang Nuh, mlebu ing prau nyejodho, kaya sing dadi dhawuhé Allah marang Nuh.
10 Kecrita sawisé pitung dina mau, banjiré patopan ngelebi bumi.
11 Nalika Nuh umur 600 taun, ing sasi kapindho tanggalé ping pitulas, nuju ing dina kuwi sakèhé sumbering segara sing ana ing sangisoring bumi padha bedhah, lan lawanging langit padha kawengakaké,
12 temah udan deres kaesokaké ing bumi lawasé nganti patang puluh dina patang puluh bengi.
13 Bareng sedina iku uga Nuh mlebu ing prau bebarengan karo anak-anaké: 14 Sèm, Kham lan Yafèt, mengkono uga bojoné Nuh lan para anak-mantuné wadon telu iya padha mèlu.
15 Bareng karo Nuh mau iya padha mèlu mlebu prau, saben jinis kéwan ingon-ingon lan kéwan alasan, gedhé cilik, apa menèh saben jinis manuk,
saben jinis nyejodho-nyejodho,
16 kaya sing dadi dhawuhé Gusti Allah marang Nuh. Sawisé mengkono Gusti Allah piyambak nginebaké lawangé prau.
17 Banjir patopan mau saya mundhak gedhé, nganti patang puluh dina lawasé, ngelebi bumi,
18 temah prauné kaangkat, kumambang ana ing sandhuwuré banyu.
19 Banyuné tansah mundhak dhuwur, temah nutupi sakèhing gunung sing dhuwur-dhuwur, malah iya sing dhuwur dhéwé pisan.
20 Enggoné mundhak-mundhak dhuwur mau nganti tekan pitung mèter sandhuwuré pucaké gunung-gunung mau.
21 Saben titah sing ana ing bumi padha mati; manuk, kéwan lan manungsa.
Sakèhing makluk sing ambekan padha mati.
22 Kaya mengkono enggoné Gusti Allah numpes sakèhing tumitah ing bumi: 23 manungsa, kéwan lan manuk; mung kari Nuh lan kabèh sing bebarengan karo Nuh ana ing prau mau.
24 Banjir patopan mau ora surud-surud, suwéné nganti satus sèket dina.
Kejadian 8 :
1-22:
1 Gusti Allah nuli ngèngeti marang Nuh lan marang sakèhing kéwan sing padha mèlu ana ing prau. Mulané banjur nekakaké angin ana ing bumi, temah banyuné wiwit surud.
2 Karo déné sumbering segara ing sangisoring bumi lan lawanging langit kabèh padha kapepetan, udané deres banjur terang.
3 Banyuné nuli surud sajroné satus sèket dina.
4 Wasana nalika sasi kapitu tanggalé ping pitulas prauné kandhas ana ing pegunungan tanah Ararat.
5 Banyuné sangsaya surud nganti tekan sasi kasepuluh. Nalika tanggal siji sasi kasepuluh pucak-pucaké gunung-gunung wiwit padha katon.
6 Sawisé patang puluh dina, Nuh banjur ngengakaké jendhélané prau,
lan ngeculaké manuk gagak. Manuk mau ora bali, nanging mabur mrana-mréné nganti banyuné asat babar-pisan.
7 Sawisé mengkono Nuh ngeculaké manuk dara, arep meruhi apa banyuné wis surud temenan.
8 Nanging sarèhné banyuné isih nutupi salumahé bumi, manuk dara mau ora olèh péncokan, mulané mbalèni Nuh menyang prau. Nuh banjur ngegaraké tangané, darané dicekel lan dilebokaké menèh ing prau.
9 Nuh nuli ngentèni pitung dina engkas, banjur darané dieculaké menèh.
10 Bareng wayah soré dara mau teka, cucuké nggondhol godhong zaitun sing isih seger, mulané Nuh ngerti yèn banyuné wis surud.
11 Sawisé kuwi Nuh ngentèni menèh pitung dina lawasé. Nuli darané dieculaké menèh. Dara mau ora bali menèh.
12 Nalika Nuh umur 601 taun, tanggal siji sasi kapisan, banyuné wis surud babar-pisan. Nuh nuli mbukak payoné prau, sarta ngawasaké kiwa-tengené. 13 Lemahé wis katon asat.
14 Nalika tanggal pitulikur sasi sing kapindho, bumi wis garing temenan.
15 Gusti Allah banjur ngandika marang Nuh,
16 "Padha metua saka prau, kowé, bojomu, anak-anakmu lan para anak mantumu.
17 Semono uga sarupané manuk lan kéwan, supaya padha bebranahan lan tangkar-tumangkar ngambra-ambra ana ing bumi."
18 Nuh banjur metu saka ing prau, bebarengan karo bojoné, anak-anaké lan para anak mantuné.
19 Sarupané kéwan lan manuk nuli padha metu saka ing prau, sapantha-sapantha manut jinisé.
20 Nuh banjur yasa mesbèh konjuk marang Gusti Allah; nuli njupuk saka panunggalané jinis kéwan lan manuk sing kalal, dicaosaké dadi kurban obaran ana ing mesbèh mau.
21 Ganda arum sing sumebar saka kurban obaran mau gawé renaning penggalihé Gusti Allah. Panjenengané nuli ngandika mengkéné, "Ing sebanjuré Aku ora bakal nyepatani bumi iki merga penggawéné manungsa, sing obah-osiké atiné ala wiwit cilik mula. Aku wis ora bakal numpes menèh sarupané titah kang urip kaya kang wus Daktindakaké.
22 Selawasé mesthi bakal ora kendhat ana mangsa nyebar lan mangsa panèn, mangsa atis lan mangsa panas, ketiga lan rendheng, rina lan wengi."
Kejadian 9 :
1-29:
1 Gusti Allah mberkahi Nuh lan anak-anaké, pangandikané, "Padha bebranahana lan tangkar-tumangkara sarta ngebakana bumi.
2 Sarupané kéwan ing bumi lan sarupané manuk sarta iwak bakal wedi lan giris marang kowé. Kéwan-kéwan mau kabèh wis kapasrahaké marang kowé.
3 Lah kabèh iki kena kokpangan, padha kaya tetuwuhan ijo; kabèh mau dipasrahaké supaya dadi panganmu.
4 Mung daging kang isih ana nyawané, yakuwi daging sing isih ana getihé, kuwi aja kokpangan, awit nyawa kuwi dunungé ana ing getih.
5 Sapa sing matèni manungsa bakal kaukum. Aku bakal ngukum pati marang sarupaning kéwan sing matèni manungsa.
6 Sing sapa matèni manungsa, bakal dipatèni déning manungsa, awit manungsa katitahaké nulad gambaré Gusti Allah.
7 Ana déné kowé padha bebranahana lan tangkar-tumangkara, supaya anak putumu ngambra-ambra ngebaki bumi."
8 Karo menèh Gusti Allah ngandika marang Nuh lan anak-anaké,
9 "Saiki Aku arep gawé prejanjian karo kowé lan turunmu ing sapungkurmu,
10 lan karo sadhéngaha titah sing urip, yakuwi sarupané manuk, sarupané kéwan sing mèlu kowé metu saka ing prau.
11 Aku gawé prejanjian karo kowé, yèn ing sebanjuré Aku ora bakal numpes sakèhing nyawa kang urip srana keleban ing banyu.
12 Minangka pretandhané prejanjian kang Daktetepaké selawas-lawasé ing antara-Ku karo kowé, sarta sarupaning nyawa urip kang mèlu kowé,
13 Aku bakal mrenahaké kluwung ana ing mendhung. Kluwung mau bakal dadi pretandhané prejanjian ing antarané Aku karo bumi.
14 Samangsa-mangsa Aku ngumpulaké mendhung ing sandhuwuré bumi, mangka kluwungé banjur katon ana ing kono,
15 Aku mesthi bakal ngèngeti ing prejanjian-Ku karo kowé lan karo sarupaning nyawa urip, temah ora bakal ana banjir patopan menèh kang numpes sarupaning titah kang urip.
16 Samangsa ing mendhung ana kluwung, bakal Dakpandeng supaya ngèngeti ing Prejanjian langgeng ing antarané Allah karo sedhéngah nyawa urip kang ana ing bumi.
17 Iku pretandhané prejanjian kang Dakgawé ing antarané Aku karo sarupané titah urip kang ana ing bumi."
18 Anak-anaké Nuh sing padha metu saka ing prau yakuwi: Sèm, Kham lan Yafèt. (Déné Kham kuwi bapakné Kenaan.)
19 Anaké Nuh telu-teluné mau dadi leluhuré wong sadonya.
20 Nuh kuwi wong tani. Iya sing wiwitan dhéwé gawé kebon anggur.
21 Bareng ngombé angguré, Nuh nuli mendem, nguculi sandhangané kabèh, banjur turu ana ing kémahé.
22 Nalika Kham, bapakné Kenaan, weruh kaya mengkono, banjur crita karo seduluré loro sing ana ing njaba.
23 Sèm lan Yafèt nuli njupuk jubahé bapakné, kasampiraké ing pundhak lan karo mlaku mungkur nutupi awaké Nuh, temahan ora weruh kawirangané bapakné.
24 Bareng Nuh mari enggoné mendem, lan krungu apa sing dadi penggawéné Kham, anaké sing ragil,
25 banjur ngandika, "Kenaa ing ipat-ipat si Kenaan! dadia baturé-baturé sedulur-seduluré.
26 Pinujia Allahé Sèm! Kenaan bakal dadi baturé Sèm.
27 Allah maringana ombèr marang Yafèt, karebèn manggon bebarengan karo turuné Sèm. Déné Kenaan kuwi bakal dadi baturé Yafèt!"
28 Sawisé banjir patopan Nuh isih ginanjar umur telung atus sèket taun.
29 Nalika tilar-donya umuré Nuh 950 taun.
Kejadian 10 :
1-32:
1 Iki tedhak-turuné anak-anaké Nuh: Sèm, Kham lan Yafèt. Sawisé banjir patopan telu-teluné padha kaparingan anak-anak lanang.
2 Turuné Yafèt yaiku: Gomèr, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mèsèkh lan Tiras. Kuwi padha dadi leluhuré bangsa-bangsa kang disebut kaya jenengé wong-wong mau.
3 Turuné Gomèr yakuwi bangsa-bangsa Askenas, Rifat lan Togarma.
4 Turuné Yawan yakuwi bangsa-bangsa: Élisa, Spanyol, Siprus lan Rodhès.
5 Bangsa-bangsa mau padha manggon ing sauruting pesisir lan ing pulo-pulo. Kabèh kuwi turuné Yafèt, sing padha manggon miturut taleré ing tanahé dhéwé-dhéwé, migunakaké basané dhéwé-dhéwé.
6 Turuné Kham yakuwi: Kus, Mesir, Libia lan Kenaan. Padha dadi bangsa-bangsa sing jenengé kaya jenengé wong-wong sing nurunaké mau.
7 Turuné Kus yakuwi bangsa Séba, Hawila, Sabta, Raéma, lan Sabteka. Turuné Raéma yakuwi bangsa-bangsa Syéba lan Dédan.
8 Kus duwé anak lanang jenengé Nimrod. Nimrod mau dadi ratu sing wiwitan ing bumi.
9 Merga pitulungané Gusti Allah, Nimrod dadi juru-mbebedhag sing peng-pengan, nganti ana pocapan mengkéné, "Muga-muga Gusti Allah mberkahi kowé kaya Nimrod."
10 Ing wiwitan, kratoné Nimrod mengku kutha-kutha Babil, Érèkh lan Akad, telu-teluné ana ing tanah Babilonia.
11 Saka kono Nimrod ngelar jajahané tekan Asyur, banjur ngedegaké kutha-kutha Ninewé, Réhobot-Ir, Kalah,
12 lan Résèn, kang dunungé ing antarané Ninewé lan kutha gedhé Kalah.
13 Turuné Mesir yakuwi bangsa-bangsa Lidhia, Anamim, Lehabim, Naftukhim,
14 Patrusim, Kaslukhim, lan Kaftorim, yakuwi leluhuré bangsa Filistin.
15 Anaké lanang Kenaan sing mbarep jenengé Sidon, banjur Hèt, padha dadi leluhuré bangsa-bangsa sing jenengé disebut miturut jenengé para leluhuré mau.
16 Kenaan uga dadi leluhuré bangsa-bangsa Yébusi, bangsa Amori lan bangsa Girgasi,
17 bangsa Hèwi, bangsa Arki, bangsa Sini,
18 bangsa Arwadi lan bangsa Semari, sarta bangsa Hamati. Taler-taleré bangsa Kenaan mau sumebar tekan endi-endi,
19 temah tapel watesé bangsa Kenaan kuwi wiwit saka ing Sidon, ing peneré Gérar tutug ing Gaza, lan mengétan ing peneré Sodom, Gomora, Admah lan Zéboim, cedhaké Lasa.
20 Kuwi mau padha turuné Kham, sing padha manggon manut taleré ing tanahé dhéwé-dhéwé, lan padha migunakaké basané dhéwé-dhéwé.
21 Déné Sèm, kakangné Yafèt, kuwi leluhuré bangsa Ibrani.
22 Anak-anaké Sèm sing lanang yakuwi Élam, Asyur, Arpakhsad, Lud lan Aram, dadi para leluhuré bangsa-bangsa sing jenengé kaya jenengé para leluhuré mau.
23 Turuné Aram yakuwi bangsa-bangsa Us, Hul, Gètèr lan Mas.
24 Arpakhsad nurunaké Sélah, lan Sélah nurunaké Ébèr.
25 Ébèr duwé anak lanang loro. Sing siji jenengé Pèlèg, awit nalika semono bumi kapérang-pérang. Anak sing kapindho jenengé Yoktan.
26 Yoktan dadi leluhuré bangsa-bangsa: Almodad, Sèlèf, Hazar-Mawèt lan Yérah,
27 Hadoram, Uzal lan Diklah,
28 Obal, Abimaèl lan Syéba,
29 Ofir, Hawila lan Yobab. Kuwi mau kabèh padha turuné Yoktan.
30 Tanah sing dienggoni wiwit saka Mésa tekan Séfar, yakuwi tanah pegunungan ing sisih Wétan.
31 Kabèh mau turuné Sèm, sing padha manggon ing tanahé dhéwé-dhéwé manut taleré, lan nganggo basané dhéwé-dhéwé.
32 Bangsa-bangsa mau kabèh padha turuné Nuh, miturut sarasilahé dhéwé-dhéwé; pemanggoné padha pencar-pencar; yakuwi sabubaré banjir patopan.
Kejadian 11 :
1-32:
1 Biyèn-biyèné bangsa-bangsa ing salumahé bumi kuwi basané mung siji lan tembung-tembungé padha.
2 Kecrita nalika padha nglembara mengétan, nuli padha tekan panggonan lempar ing tanah Babilonia, banjur padha manggon ana ing kono.
3 Wong-wong mau padha saiyeg kandha mengkéné, "Ayo padha gawé bata lan diobong karebèn atos. " Batané dienggo mbangun, déné sing dienggo nglépa tir kenthel.
4 Kandhané menèh, "Ayo saiki kita padha mbangun kutha nganggo menara sing dhuwuré sundhul langit. Mengko kita rak dadi wong misuwur, lan ora padha pating slebar."
5 Gusti Allah nuli tedhak mirsani kutha lan menara sing lagi digarap wong-wong mau,
6 pangandikané, "Wong-wong iki padha tunggal bangsa lan tunggal basa. Mangka iki lagi wiwitaning réka-rékané. Suwé-suwé rak ora kena dipenggak karepé.
7 Mula ayo padha dikisruhaké basané, supaya siji lan sijiné padha déné ora ngerti karepé."
8 Mengkono enggoné Gusti Allah mbuyaraké wong-wong mau saka ing kono menyang salumahé bumi, nganti wurung enggoné ngedegaké kutha.
9 Mulané kutha mau diarani Babil, merga ana ing kono Gusti Allah ngisruhaké basané wong sing padha manggon ana ing bumi, lan saka ing kono dibuyaraké tekan ngendi-endi.
10 Iki tedhak-turuné Sèm. Rong taun sawisé banjir patopan, nalika Sèm umur 100 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Arpakhsad.
11 Sawisé kuwi Sèm isih kawuwuhan umur 500 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
12 Nalika Arpakhsad umur 35 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Sélah.
13 Sawisé kuwi Arpakhsad isih kawuwuhan umur 403 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
14 Nalika Sélah umur 30 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Ébèr.
15 Sawisé kuwi Sélah isih kawuwuhan umur 403 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
16 Nalika Ébèr umur 34 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Pèlèg.
17 Sawisé kuwi Ébèr isih kawuwuhan umur 430 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
18 Nalika Pèlèg umur 30 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Réhu.
19 Sawisé kuwi Pèlèg isih kawuwuhan umur 209 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
20 Nalika Réhu umur 32 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Sérug.
21 Sawisé kuwi Réhu isih kawuwuhan umur 207 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
22 Nalika Sérug umur 30 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Nahor.
23 Sawisé kuwi Sérug isih kawuwuhan umur 200 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
24 Nalika Nahor umur 29 taun, kaparingan anak lanang, jenengé Térah.
25 Sawisé kuwi Nahor isih kawuwuhan umur 119 taun, lan kaparingan anak liya-liyané.
26 Sawisé Térah umur 70 taun, kaparingan anak lanang telu, yakuwi Abram, Nahor lan Haran.
27 Iki tedhak-turuné Térah: Térah duwé anak Abram, Nahor lan Haran. Haran duwé anak lanang Lot.
28 Haran mati ing kutha kelairané, yakuwi Ur ing tanah Babilonia. Nalika semono bapakné isih urip.
29 Abram kawin karo Sarai, lan Nahor karo Milka, anaké Haran. Haran duwé anak lanang liyané, jenengé Yiska.
30 Déné Sarai kuwi gabug, ora duwé anak.
31 Térah ngajak Abram, anaké. Lot, putuné, lan Sarai, mantuné, bojoné Abram, lunga saka ing kutha Ur ing tanah Babilonia, menyang tanah Kenaan. Nanging bareng tekan ing Haran, banjur padha manggon ana ing kono.
32 Térah mati ana ing Haran kono; umuré 205 taun.

Kejadian 10:8 (JERUSALEM)

Kejadian 10:8 (TB)

Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi;


NIMROD

Ini ternyata seorang tokoh yang populer (lihat peribahasa yang tercantum dalam Kej 10:9). Agaknya ia seorang pahlawan dari daerah Mesopotamia. Tetapi tidak dapat diketahui lagi siapa dia.

Genesis 10:1-7 (MHCC)

Genesis 10:1-7 (KJV):
1 Now these are the generations of the sons of Noah, Shem, Ham, and Japheth: and unto them were sons born after the flood.
2 The sons of Japheth; Gomer, and Magog, and Madai, and Javan, and Tubal, and Meshech, and Tiras.
3 And the sons of Gomer; Ashkenaz, and Riphath, and Togarmah.
4 And the sons of Javan; Elishah, and Tarshish, Kittim, and Dodanim.
5 By these were the isles of the Gentiles divided in their lands; every one after his tongue, after their families, in their nations.
6 And the sons of Ham; Cush, and Mizraim, and Phut, and Canaan.
7 And the sons of Cush; Seba, and Havilah, and Sabtah, and Raamah, and Sabtecha: and the sons of Raamah; Sheba, and Dedan.
This chapter shows concerning the three sons of Noah, that of them was the whole earth overspread. No nation but that of the Jews can be sure from which of these seventy it has come. The lists of names of fathers and sons were preserved of the Jews alone, for the sake of the Messiah. Many learned men, however, have, with some probability, shown which of the nations of the earth descended from each of the sons of Noah To the posterity of Japheth were allotted the isles of the gentiles; probably, the island of Britain among the rest. All places beyond the sea from Judea are called isles, Jer 25:22. That promise, Isa 42:4, The isles shall wait for his law, speaks of the conversion of the gentiles to the faith of Christ.

Kejadian10:6 (WYCLIFFE)

Kejadian 10:6 (TB)

Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.


6. Misraim. Kata Ibrani yang betul untuk Mesir, terdiri dari wilayah bawah dan wilayah atas negeri itu. Kedua ibu kota Mesir adalah Memfis dan Tebes.

My first all of my pets!


He is first all of my pets i have, he is my first sweet love pet...

He's name is Jacky!
He got a name from my dear mom....
He together with me until now, since about 3 years ago...

I love him so much!!!

Kejadian 10:2-5 (FULL)

Kejadian 10:2-5 (TB):
2 Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras.
3 Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat dan Togarma.
4 Keturunan Yawan ialah Elisa, Tarsis, orang Kitim dan orang Dodanim.
5 Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir. Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya, dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.
KETURUNAN YAFET

Nas : Kej 10:2-5

Ayat-ayat ini mendaftarkan keturunan Yafet yang pergi ke utara dan menetap di wilayah pantai Laut Hitam dan Laut Kaspia. Mereka menjadi nenek moyang orang Media dan orang Yunani, dan juga bangsa-bangsa kulit putih dari Eropa dan Asia.

Kejadian 10:1-5 (MHC)

Kejadian 10:1-5 (TB):
1 Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka.
2 Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras.
3 Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat dan Togarma.
4 Keturunan Yawan ialah Elisa, Tarsis, orang Kitim dan orang Dodanim.
5 Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir. Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya, dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.
BANGSA-BANGSA KETURUNAN NUH

Pasal ini menunjukkan secara lebih khusus apa yang disebutkan secara umum dalam Kejadian 9: 19 perihal tiga anak Nuh, bahwa “dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi,” serta buah dari berkat itu (9:1, 7), “penuhilah bumi.” Ini adalah satu-satunya catatan pasti yang masih ada sampai sekarang perihal asal-usul bangsa-bangsa. Namun, mungkin tidak ada bangsa lain selain bangsa Yahudi yang dapat meyakini dari sumber manakah mereka berasal dari antara ketujuh puluh sumber (karena begitu banyaknya sumber di sini) yang ada. Akibat langkanya catatan-catatan kuno, percampuran bangsa-bangsa, perubahan-perubahan besar yang terjadi di dalam bangsa-bangsa, rentang waktu yang panjang, maka hilanglah pengetahuan tentang garis keturunan bangsa-bangsa dari penduduk bumi sekarang ini. Juga tidak ada catatan silsilah asal-usul bangsa-bangsa yang masih terpelihara dengan baik selain yang dimiliki oleh bangsa Yahudi, demi kepentingan Sang Mesias. Hanya dalam pasal inilah kita memiliki sebuah catatan singkat,