Kejadian 10:6-14 (TB):
KETURUNAN HAM; PERIHAL NIMROD
I. Nimrod adalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Dengan keahlian inilah ia mulai, dan karena inilah ia menjadi terkenal dan diungkapkan dalam sebuah peribahasa. Untuk mengenangnya, setiap pemburu yang hebat akan disebut seperti Nimrod.
1. Beberapa orang berpendapat bahwa ia sangat mahir dalam hal berburu, berbakti kepada negerinya dengan mengusir sejumlah besar binatang-binatang buas yang mengganggu wilayah itu. Dengan demikian secara perlahan-lahan ia mulai disukai oleh sesamanya, dan diangkat sebagai raja mereka. Orang-orang yang menjalankan kekuasaan setidaknya akan disebut pelindung-pelindung (Luk. 22:25).
2. Sebagian orang lain berpendapat bahwa dengan dalih untuk berburu, ia mengumpulkan pengikut-pengikutnya, untuk menghadapi permainan lain yang harus dimainkan. Dengan cara demikian, ia kemudian membawa dirinya tampil sebagai pemimpin negeri itu dan menjadikan mereka sebagai rakyatnya. Ia adalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Artinya, ia seorang penakluk yang kejam, yang merampas hak-hak dan harta milik sesamanya. Ia penganiaya orang-orang yang tidak bersalah, menyeret semua orang ke hadapannya, dan menjadikan mereka semua miliknya dengan paksaan dan kekerasan. Ia mengira bahwa dirinya seorang raja yang sangat berkuasa, tetapi di hadapan Allah (yaitu dalam pandangan Allah), ia hanyalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Perhatikanlah, penakluk-penakluk besar hanyalah pemburu-pemburu besar belaka. Iskandar Agung dan Caesar tidak dipandang sebagai seorang tokoh yang hebat di dalam sejarah Kitab Suci seperti halnya di dalam kitab sejarah umum. Alexander digambarkan di dalam nubuatan hanya sebagai seekor kambing jantan yang melintas (Dan. 8:5). Nimrod seorang pemburu yang gagah perkasa melawan Tuhan, begitulah yang dikatakan dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani – pen.), artinya,
(1) Ia menetapkan penyembahan berhala, seperti yang dilakukan oleh Yerobeam, untuk meneguhkan kekuasaan yang diperolehnya secara tidak sah. Supaya ia dapat mendirikan sebuah pemerintahan baru, ia menciptakan sebuah agama baru di atas reruntuhan peraturan budaya kuno. Babel adalah ibu dari wanita-wanita pelacur. Atau,
(2) Ia melanjutkan kekerasan dan kekejamannya dalam menentang Allah sendiri, menantang sorga dengan ketidaksalehannya, seolah-olah ia dan pemburu-pemburunya dapat menakut-nakuti Yang Mahakuasa, dan berusaha menandingi TUHAN semesta alam dan semua bala tentara-Nya. Seolah-olah belum cukup ia melelahkan orang, sehingga ia merasa sanggup melelahkan Allah juga (Yes. 7:13).
II. Nimrod seorang penguasa yang besar: mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel (ay. 10). Dengan berbagai cara, dengan kelihaian atau senjata, ia meraih kekuasaan, baik karena dipilih sebagai penguasa maupun dengan paksaan untuk merampas kekuasaan. Begitulah dasar-dasar sebuah kerajaan diletakkan, yang kemudian berkepala emas, menjadi ketakutan yang mengancam, dan berusaha mengusai seluruh dunia. Tampaknya ia tidak memiliki hak untuk berkuasa menurut garis keturunan. Ia tampaknya dipilih untuk memerintah karena kemampuannya, seperti dugaan sebagian orang, atau karena kekuatan dan kelihaiannya ia perlahan-lahan berkuasa, dan mungkin tanpa disadari orang, akhirnya duduk di puncak kekuasaan. Lihatlah pola pemerintahan zaman dahulu kala, khususnya bagaimana kedaulatan diserahkan ke dalam tangan satu orang saja. Apa yang telah dimulai Nimrod dan sesamanya, segera diikuti oleh bangsa-bangsa lain yang menyerahkan sepenuhnya keamanan dan kesejahteraan bersama mereka di bawah satu kepala pemerintahan. Tak peduli bagaimana pemerintah tersebut dibentuk, hasilnya terbukti menjadi berkat bagi dunia, sehingga diakui bahwa keadaan akan menjadi buruk bila tidak ada raja di Israel.
III. Nimrod seorang pembangun yang besar. Mungkin dia jugalah perancang pembangunan menara Babel, dan di sanalah ia memulai kerajaannya. Namun, ketika rancangannya untuk memerintah semua keturunan Nuh dikacaukan oleh kebingungan berbahasa, maka dari negeri itu ia pergi ke Asyur (begitulah tafsiran tambahan ayat 11), dan mendirikan Niniwe dan seterusnya. Setelah mendirikan kota-kota ini, ia memimpin dan memerintah mereka. Amatilah hasrat ingin berkuasa dalam diri Nimrod,
1. Hasrat itu tidak terbatas. Banyak orang ingin memiliki lebih banyak lagi, dan berseru, untukku, untukku.
2. Hasrat itu membawa ketidaktenangan. Ketika Nimrod telah menguasai empat kota di bawah pemerintahannya, ia tidak dapat merasa puas sampai ia memiliki empat kota lagi.
3. Hasrat itu mahal harganya. Nimrod lebih suka mendirikan kota-kota daripada memiliki kehormatan dengan memerintah mereka. Semangat membangun merupakan dampak umum dari kesombongan rohani.
4. Hasrat itu menantang dan akan terus berlanjut dengan berbagai kesulitan yang tidak menghasilkan apa-apa. Nama Nimrod berarti pendurhakaan, yang (jika ia memang menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas sesamanya) mengajarkan kepada kita bahwa penguasa yang bengis terhadap manusia adalah orang pendurhaka di hadapan Allah, dan pendurhakaan mereka adalah sama seperti dosa bertenung.
Keturunan Ham; Perihal Nimrod (Kejadian 10:6-14)
Hal yang dapat diamati agak banyak di dalam ayat-ayat ini adalah catatan tentang Nimrod (ay. 8-10). Di sini ia digambarkan sebagai orang yang besar dalam zamannya: Dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi. Artinya, bila orang-orang yang telah ada sebelum dia sudah merasa cukup puas berdiri sama derajat dengan sesama mereka, dan meskipun tiap orang memerintah di rumah masing-masing, tidak ada yang berani bertindak lebih jauh daripada itu. Namun sebaliknya, pikiran Nimrod yang bercita-cita tinggi tidak dapat berhenti sampai di sini. Ia memutuskan untuk menjulang tinggi melampaui sesamanya. Tidak saja menjadi yang menonjol di antara mereka, tetapi menjadi tuan atas mereka. Semangat seperti itulah yang menggerakkan raksasa-raksasa sebelum air bah, yang menjadi orang-orang yang gagah perkasa dan orang-orang kenamaan (6:4). Semangat itu kini dibangkitkan kembali di dalam dirinya. Begitu cepat setelah penghakiman luar biasa yang membawa orang-orang sombong dan penguasa yang jahat itu dibawa ke dalam dunia orang mati. Perhatikanlah, dalam diri sebagian orang ada terkandung keinginan dan hasrat yang teramat besar untuk berkuasa. Seperti apa yang pernah ada akan ada lagi, tak peduli murka Allah sering dinyatakan dari sorga terhadap mereka. Di seberang neraka ini, tidak ada yang dapat merendahkan dan mematahkan jiwa-jiwa sombong sejumlah orang. Dalam hal ini mereka menjadi sama seperti Iblis (Yes. 14:14-15). Nah,
I. Nimrod adalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Dengan keahlian inilah ia mulai, dan karena inilah ia menjadi terkenal dan diungkapkan dalam sebuah peribahasa. Untuk mengenangnya, setiap pemburu yang hebat akan disebut seperti Nimrod.
1. Beberapa orang berpendapat bahwa ia sangat mahir dalam hal berburu, berbakti kepada negerinya dengan mengusir sejumlah besar binatang-binatang buas yang mengganggu wilayah itu. Dengan demikian secara perlahan-lahan ia mulai disukai oleh sesamanya, dan diangkat sebagai raja mereka. Orang-orang yang menjalankan kekuasaan setidaknya akan disebut pelindung-pelindung (Luk. 22:25).
2. Sebagian orang lain berpendapat bahwa dengan dalih untuk berburu, ia mengumpulkan pengikut-pengikutnya, untuk menghadapi permainan lain yang harus dimainkan. Dengan cara demikian, ia kemudian membawa dirinya tampil sebagai pemimpin negeri itu dan menjadikan mereka sebagai rakyatnya. Ia adalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Artinya, ia seorang penakluk yang kejam, yang merampas hak-hak dan harta milik sesamanya. Ia penganiaya orang-orang yang tidak bersalah, menyeret semua orang ke hadapannya, dan menjadikan mereka semua miliknya dengan paksaan dan kekerasan. Ia mengira bahwa dirinya seorang raja yang sangat berkuasa, tetapi di hadapan Allah (yaitu dalam pandangan Allah), ia hanyalah seorang pemburu yang gagah perkasa. Perhatikanlah, penakluk-penakluk besar hanyalah pemburu-pemburu besar belaka. Iskandar Agung dan Caesar tidak dipandang sebagai seorang tokoh yang hebat di dalam sejarah Kitab Suci seperti halnya di dalam kitab sejarah umum. Alexander digambarkan di dalam nubuatan hanya sebagai seekor kambing jantan yang melintas (Dan. 8:5). Nimrod seorang pemburu yang gagah perkasa melawan Tuhan, begitulah yang dikatakan dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani – pen.), artinya,
(1) Ia menetapkan penyembahan berhala, seperti yang dilakukan oleh Yerobeam, untuk meneguhkan kekuasaan yang diperolehnya secara tidak sah. Supaya ia dapat mendirikan sebuah pemerintahan baru, ia menciptakan sebuah agama baru di atas reruntuhan peraturan budaya kuno. Babel adalah ibu dari wanita-wanita pelacur. Atau,
(2) Ia melanjutkan kekerasan dan kekejamannya dalam menentang Allah sendiri, menantang sorga dengan ketidaksalehannya, seolah-olah ia dan pemburu-pemburunya dapat menakut-nakuti Yang Mahakuasa, dan berusaha menandingi TUHAN semesta alam dan semua bala tentara-Nya. Seolah-olah belum cukup ia melelahkan orang, sehingga ia merasa sanggup melelahkan Allah juga (Yes. 7:13).
II. Nimrod seorang penguasa yang besar: mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel (ay. 10). Dengan berbagai cara, dengan kelihaian atau senjata, ia meraih kekuasaan, baik karena dipilih sebagai penguasa maupun dengan paksaan untuk merampas kekuasaan. Begitulah dasar-dasar sebuah kerajaan diletakkan, yang kemudian berkepala emas, menjadi ketakutan yang mengancam, dan berusaha mengusai seluruh dunia. Tampaknya ia tidak memiliki hak untuk berkuasa menurut garis keturunan. Ia tampaknya dipilih untuk memerintah karena kemampuannya, seperti dugaan sebagian orang, atau karena kekuatan dan kelihaiannya ia perlahan-lahan berkuasa, dan mungkin tanpa disadari orang, akhirnya duduk di puncak kekuasaan. Lihatlah pola pemerintahan zaman dahulu kala, khususnya bagaimana kedaulatan diserahkan ke dalam tangan satu orang saja. Apa yang telah dimulai Nimrod dan sesamanya, segera diikuti oleh bangsa-bangsa lain yang menyerahkan sepenuhnya keamanan dan kesejahteraan bersama mereka di bawah satu kepala pemerintahan. Tak peduli bagaimana pemerintah tersebut dibentuk, hasilnya terbukti menjadi berkat bagi dunia, sehingga diakui bahwa keadaan akan menjadi buruk bila tidak ada raja di Israel.
III. Nimrod seorang pembangun yang besar. Mungkin dia jugalah perancang pembangunan menara Babel, dan di sanalah ia memulai kerajaannya. Namun, ketika rancangannya untuk memerintah semua keturunan Nuh dikacaukan oleh kebingungan berbahasa, maka dari negeri itu ia pergi ke Asyur (begitulah tafsiran tambahan ayat 11), dan mendirikan Niniwe dan seterusnya. Setelah mendirikan kota-kota ini, ia memimpin dan memerintah mereka. Amatilah hasrat ingin berkuasa dalam diri Nimrod,
1. Hasrat itu tidak terbatas. Banyak orang ingin memiliki lebih banyak lagi, dan berseru, untukku, untukku.
2. Hasrat itu membawa ketidaktenangan. Ketika Nimrod telah menguasai empat kota di bawah pemerintahannya, ia tidak dapat merasa puas sampai ia memiliki empat kota lagi.
3. Hasrat itu mahal harganya. Nimrod lebih suka mendirikan kota-kota daripada memiliki kehormatan dengan memerintah mereka. Semangat membangun merupakan dampak umum dari kesombongan rohani.
4. Hasrat itu menantang dan akan terus berlanjut dengan berbagai kesulitan yang tidak menghasilkan apa-apa. Nama Nimrod berarti pendurhakaan, yang (jika ia memang menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas sesamanya) mengajarkan kepada kita bahwa penguasa yang bengis terhadap manusia adalah orang pendurhaka di hadapan Allah, dan pendurhakaan mereka adalah sama seperti dosa bertenung.
No comments:
Post a Comment