Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 3:8 (FULL)

Kejadian 3:8 (TB)

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.


BERSEMBUNYILAH MANUSIA

Rasa bersalah dan kesadaran akan dosa membuat Adam dan Hawa menghindari Allah. Mereka takut dan tidak tenang di hadirat-Nya, sadar bahwa mereka berdosa dan tidak berkenan pada-Nya. Dalam keadaan ini mustahil bagi mereka untuk menghampiri Dia dengan penuh yakin

Kejadian 3:1-7 (SH)

Kejadian 3:1-7 (TB):
Manusia jatuh ke dalam dosa
1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
1. TELANJANG (Senin, 3 Februari 2003)

Manusia itu miskin: telanjang. Namun, dalam ketelanjangannya ia kaya karena kemuliaan Allah terpancar membungkus badannya. Mereka mula-mula telanjang, namun mereka tidak malu -- lagi pula, mengapa kemuliaan membuat malu? Kisah ini tidak berhenti dalam kemapanan dalam situasi taman tanpa cela. Narasi bergerak menuntun kita masuk ke dalam adegan-adegan mencengangkan.

Kejadian 3:7 (FULL)

Kejadian 3:7 (TB)

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.


MEREKA TAHU, BAHWA MEREKA TELANJANG

Ketika Adam dan Hawa hidup dalam ketidaksalahan moral (yaitu, sebelum kejatuhan), ketelanjangan tidak salah dan tidak membangkitkan perasaan malu (Kej 2:25). Akan tetapi, setelah mereka berbuat dosa, kesadaran akan ketelanjangan menjadi terkait dengan keadaan manusia yang terjatuh dan bejat. Karena ketelanjangan membawa kejahatan di dalam dunia, maka Allah sendiri membuatkan pakaian yang dikenakan pada Adam dan Hawa (ayat Kej 3:21), dan kini Dia memerintahkan agar semua orang berpakaian dengan sopan

(lihat cat. --> 1Tim 2:9).

[atau ref. 1Tim 2:9]

Kejadian 3:7 (JERUSALEM)

Kejadian 3:7 (TB)

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.


TELANJANG

Syahwat yang timbul pada manusia pertama dunia ciptaan, yang disebabkan dosa.

Kejadian 3:7 (WYCLIFFE)

Kejadian 3:7 (TB)

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.


7. Maka terbukalah mata mereka (pãkah) ... dan mereka tahu. Kata pãkah melukiskan terjadinya sebuah mukjizat secara mendadak. Janji si penggoda dengan segera terpenuhi; persepsi langsung diperoleh. Mereka melihat dan menjadi tahu. Namun yang mereka saksikan jauh berbeda dengan gambaran indah yang dikemukakan ular itu. Nurani mereka dibangunkan dengan kasar. Mereka melihat ketelanjangan mereka, ketelanjangan rohani maupun jasmani. Kemudian lahirlah rasa malu dan ketakutan. Ketika Adam dan Hawa sadar bahwa mereka sudah terputus hubungan dengan Allah, suatu kesunyian yang mengerikan menyelimuti mereka. Menyusul penyesalan yang mendalam disertai berbagai penderitaannya yang tak terelakkan. Hilangnya iman mereka membuat mereka menjadi sasaran semua penderitaan yang muncul itu. Dengan tergesa-gesa mereka membuat cawat untuk sekadar menutupi ketelanjangan mereka sebagai upaya mengatasi keterkejutan, kesepian dan rasa bersalah mereka.

Kejadian 3:6 (WYCLIFFE)

Kejadian 3:6 (TB)

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.


6. Perempuan itu melihat ... mengambil ... dimakannya ... memberikannya. Kata-kata kerja yang kuat ini melukiskan kisah tersebut secara hidup dan jelas. Sesuatu terjadi di dalam pikiran perempuan itu. Secara bertahap buah itu mendapat arti baru. Buah tersebut menjadi menarik untuk dipandang, membangkitkan selera untuk dimakan, dan berkuasa untuk memberikan hikmat yang baru. Perempuan itu kemudian mengambil langkah yang baru di dalam penipuan diri. Ia bukan hanya mengharapkan makanan yang nikmat dan menarik, namun dia juga tertarik pada kekuasaan. Perempuan itu percaya bahwa buah tersebut sanggup memuaskan semua keinginannya. Langkah selanjutnya dilakukan dengan sendirinya dan dalam waktu singkat. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya. Si penggoda kini tidak diperlukan lagi. Hawa melanjutkan pekerjaannya dan memberikan buah dengan rekomendasi yang baik itu kepada suaminya, dan suaminyapun memakannya.

Kejadian 3:6 (FULL)

Kejadian 3:6 (TB)

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.


PEREMPUAN ITU MELIHAT... LALU IA MENGAMBIL

Lihat cat. --> Mat 4:1-11,

[atau ref. Mat 4:1-11]

mengenai cara mengatasi pencobaan.

LALU IA MENGAMBIL... DIMAKANNYA... SUAMINYA PUN MEMAKANNYA

Ketika Adam dan Hawa berdosa, kematian moral dan rohani langsung terjadi (bd. Kej 2:17), sedangkan kematian jasmani baru dialami kemudian (Kej 5:5).

1) Allah telah berfirman, "pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej 2:17). Jadi, ketika berbuat dosa, mereka langsung mati secara rohani dan moral (bd.