Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 12:10-20 (SH)

Kejadian 12:10-20 (TB):
Abram di Mesir

10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.
11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya.
12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.
13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau."
14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik,
15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.
16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.
17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.
18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu?
19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!"
20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.
BERJUDI DENGAN KALKULASI PRIBADI (Selasa, 27 April 2004)

Kadangkala saya merasa bahwa satu masalah dapat saya selesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain, padahal orang yang lebih berpengalaman menasihati saya bahwa hal itu harus dikerjakan dalam tim. Tidak jarang, akhirnya bukan beres, pekerjaan itu malah berantakan. Saya berjudi dengan kalkulasi pribadi dan kalah!

Abram juga berjudi dengan kalkulasi pribadi, dan ia kalah! Ketika bala kelaparan menimpa Kanaan, ia memilih mengikuti kalkulasi pribadi daripada beriman kepada TUHAN yang sudah menjanjikan berkat (ayat 10). Memang, di Mesir berlimpah makanan, tetapi masalah justru datang dari pihak lain. Istrinya yang cantik menarik perhatian orang Mesir. Sekali lagi Abram dengan cepat membuat kalkulasi baru. Kali ini, ia menyuruh Sarai mengaku sebagai adiknya kepada orang Mesir (ayat 11-13). Dengan demikian, kalau orang Mesir bermaksud memperistri Sarai, mereka harus bernegosiasi dengan Abram. Maka, akan tersedia waktu untuk melarikan diri. Namun, sekali lagi kalkulasinya meleset. Firaun tertarik kepada Sarai (ayat 15-16). Tentu tidak mungkin bernegosiasi dengan Firaun. Lalu?

TUHAN pun harus turun tangan! Dengan mengirimkan tulah ke istana Firaun, Sarai dilepas, dan masalah yang ditimbulkan oleh perjudian kalkulasi itupun selesailah (ayat 17-20). Puji Tuhan!

Berapa banyak dalam hidup kita oleh karena kenekatan kita berjudi dengan kalkulasi pribadi, mengacaukan kehidupan sendiri? Bukannya dengan setia mengikut Tuhan, dan pada saat-saat susah lebih mendekat kepada Tuhan, justru kita mencoba mencari jalan pintas yang ujungnya semakin menjerat kita. Kiranya melalui kisah Abram ini kita belajar untuk lebih mempercayai Tuhan daripada otak/intuisi kita pribadi.

Tekadku: Saya akan mengandalkan Tuhan dalam setiap masalah hidup saya. Saya tidak akan berjudi dengan spekulasi-spekulasi bodoh!


TUHAN MENGAJAR ABRAM BERIMAN (Selasa, 8 April 2008)

Tetap taat dan berharap pada janji Tuhan memang tidak mudah, apalagi di saat susah. Saat itu Kanaan dilanda kelaparan. Sementara mereka yang tinggal di Mesir memiliki suplai makanan berlebih ketimbang negeri lain. Ini disebabkan keberadaan Sungai Nil yang memberi andil besar bagi irigasi dan pertanian di Mesir. Maka untuk sementara waktu Abram pindah ke Mesir, menantikan kesempatan baru (ayat 10). Di Mesir ternyata Abram bukan hanya mendapati makanan, tetapi juga pembelajaran berharga tentang makna mengimani janji Tuhan.

Karena takut dibunuh, Abram meminta Sarai mengatakan separuh kebenaran dengan mengaku diri sebagai adiknya. Memang Sarai masih famili dengannya (Kej. 20:12), tetapi Sarai juga isterinya. Mungkin Abram berpikir bahwa dengan cara yang ditempuhnya ini, janji Tuhan (Kej. 12:2) akan tergenapi? Mungkin Abram berpikir bahwa untuk menjadi bangsa besar, masyhur, dan menjadi berkat untuk bangsa lainnya adalah melalui kompromi dengan Mesir dan memberikan Sarai sebagai isteri Firaun? Fokus iman Abram rupanya telah bergeser! Di tengah kendala yang dia hadapi, sumber selamat dan hidupnya bukan lagi pada Tuhan, tetapi pada Sarai! (ayat 13). Keputusan Abram untuk berbohong mengindikasikan iman yang bimbang terhadap pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Namun Tuhan setia. Ia mengajar Abram untuk tidak menggeser fokus keselamatan dan kehidupannya pada Sarai.

Hidup beriman harus senantiasa diisi oleh ketaatan dan pengharapan yang berpusat kepada Tuhan. Kita percaya bahwa ada bagian Tuhan dan ada bagian kita dalam perjalanan pemenuhan janji Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memelihara, melindungi, dan menuntun kita menurut rencana-Nya yang baik bagi kehidupan anak-anak yang Dia kasihi. Bagian kita adalah percaya, taat, dan berharap akan pemeliharaan dan perlindungan-Nya, walau menghadapi kesulitan. Pada saat menemui tantangan dalam hidup beriman, jangan biarkan ketakutan dan dusta mengaburkan iman sejati kepada Tuhan.


ANDALKAN TUHAN (Kamis, 12 Mei 2011)

Pernahkah Anda diperhadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sangat sulit? Apa yang Anda lakukan dalam situasi itu? Pernahkah Anda melarikan diri dari situasi itu? Seorang tokoh Alkitab, yaitu Abram, juga pernah mengalami hal yang sama.

Rencana Abram untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari kelaparan yang terjadi di Tanah Negeb, ternyata membawa dia kepada pengambilan keputusan yang sulit (10). Tentu tidak mudah bagi Abram, untuk memutuskan agar istrinya berpura-pura menjadi adiknya. Tujuannya supaya Abram dan Sarai bersama dengan seluruh anggota keluarganya dapat tinggal dengan aman di Mesir (11-13). Namun yang terjadi selanjutnya adalah Firaun justru mengambil Sarai sebagai istrinya. Mungkin saja Abram tidak memikirkan kemungkinan yang terburuk seperti ini.

Dalam keadaan genting itu, Tuhan turun tangan dan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun dan seisi istananya (14-17). Menyadari kesalahannya, Firaun akhirnya mengembalikan Sarai kepada Abram dan membiarkan Abram pergi bersama kepunyaannya (18-20).

Tindakan Abram yang didasarkan pada rencana untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan, ternyata bukan tindakan yang tepat. Seharusnya Abram berkonsultasi terlebih dahulu kepada Tuhan mengenai tindakan yang harus dia ambil untuk menghadapi situasi genting itu. Skenario yang dirancang Abram berdasarkan kekhawatiran malah menyebabkan orang lain mengalami hukuman Tuhan. Seharusnyalah Abram melibatkan dan mengandalkan Tuhan dalam permasalahan hidup yang dia alami.

Kekhawatiran memang bagaikan kursi goyang yang membuat kita bergerak, tetapi tidak membuat kita sampai ke suatu tempat. Menyadari hal ini kiranya kita belajar untuk tidak membiarkan kekhawatiran menguasai diri kita sehingga lupa mengandalkan Allah dengan melibatkan dia dalam pemikiran dan keputusan yang kita akan ambil sebagai solusi untuk mengatasi kekhawatiran yang dapat menguasai kita.

No comments: