Kejadian 11:1-4 (TB):
KEKACAUAN BAHASA
1. Rancangan berani mereka yang membangkitkan amarah Allah dengan membangun sebuah kota dan sebuah menara (ay. 1-4).
2. Penghukuman yang adil dari Allah atas mereka melalui penggagalan rancangan itu, dengan cara mengacaubalaukan bahasa mereka, dan dengan demikian mencerai-beraikan mereka (ay. 5-9).
II. Catatan garis silsilah anak-anak Allah ke bawah sampai kepada Abraham (ay. 10-26), dengan disertai catatan umum perihal kaum keluarganya, serta kepindahannya dari negeri asal mereka (ay. 27 dan seterusnya).
Kekacauan Bahasa (Kejadian 11:1-4)
Penutup pasal sebelumnya memberi tahu kita bahwa melalui anak-anak Nuh, atau dari antara anak-anak Nuh, dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu. Artinya, mereka dibedakan menjadi sejumlah suku atau wilayah hunian mereka. Sebab kawasan itu telah menjadi semakin sempit bagi mereka, maka atas petunjuk Nuh atau kesepakatan di antara anak-anaknya, beberapa suku atau wilayah hunian harus menentukan arahnya masing-masing, dimulai dari negeri-negeri yang bersebelahan dengan mereka dan dirancang untuk dilanjutkan lebih jauh dan lebih jauh lagi, serta berpindah ke jarak yang lebih jauh dari tempat mereka masing-masing, sesuai luas ruang yang dibutuhkan untuk menampung jumlah peningkatan anggota kelompok mereka. Dengan demikian, masalah itu dapat diselesaikan dengan baik pada masa seratus tahun setelah air bah, sekitar waktu kelahiran Peleg. Namun, tampaknya anak-anak manusia enggan menyebar ke tempat-tempat yang lebih jauh. Mereka beranggapan bahwa tempat mereka lebih menyenangkan dan lebih aman. Oleh karena itulah mereka berusaha untuk tetap tinggal bersama-sama, dan bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepada mereka oleh TUHAN Allah (Yos. 18:3). Mereka mengira diri mereka lebih bijak daripada Allah atau Nuh. Nah, di sini kita membaca perihal,
I. Keuntungan yang mendasari rancangan mereka untuk tetap tinggal bersama,
1. Mereka semua berasal dari satu bahasa (ay. 1). Seandainya ada bahasa lain sebelum air bah, maka hanya bahasa yang dipakai Nuh sajalah, yang mungkin sama dengan bahasa Adam, yang masih dipertahankan melalui peristiwa air bah itu, dan terus berlanjut sesudah itu. Nah, sementara mereka masih saling mengerti bahasa masing-masing, mereka cenderung lebih saling mengasihi, semakin mampu untuk saling membantu, dan kecil kemungkinan dapat saling berpisah.
2. Mereka menjumpai tempat yang nyaman untuk dihuni (ay. 2), sebuah tanah datar di tanah Sinear, dataran yang sangat luas, sehingga dapat menampung mereka semua. Lagi pula, dataran itu subur, dan sesuai dengan jumlah mereka pada saat itu. Kawasan itu sanggup mendukung kebutuhan pangan mereka semua, walaupun mungkin mereka belum mempertimbangkan apakah kawasan itu memiliki daya tampung yang cukup untuk menampung mereka semua ketika jumlah mereka semakin bertambah-tambah. Perhatikanlah, tempat tinggal yang menarik hati pada saat sekarang, sering terbukti menjadi godaan kuat untuk mengabaikan tugas dan kepentingan yang menyangkut masa depan.
II. Cara yang mereka gunakan untuk saling mengikat diri, dan tinggal bersama-sama dalam satu kesatuan. Bukannya berusaha keras memperluas batas-batas ruang hidup mereka dengan cara berangkat dengan damai di bawah perlindungan ilahi, mereka malah berusaha membentengi diri. Dan sama seperti orang-orang yang terus menentang sorga, mereka tetap bertahan. Kesepakatan yang mereka ambil adalah, Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara. Dapat diamati bahwa para pembangun kota yang pertama, baik di dunia purba (4:17) dan di dunia zaman sekarang, bukanlah orang yang berwatak baik dan memiliki nama yang baik. Kemah-kemah digunakan umat Allah untuk tinggal, sedangkan kota-kota dibangun oleh orang-orang yang memberontak terhadap Dia dan mengingkari Dia. Amatilah di sini,
1. Betapa bergairahnya mereka dan betapa mereka saling mendorong satu sama lain untuk segera memulai pekerjaan ini. Mereka berkata, Marilah kita membuat batu bata (ay. 3), dan sekali lagi (ay. 4), Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota. Melalui kegairahan bersama ini, mereka saling meneguhkan hati dan semakin berani bertindak. Hal-hal besar dapat terwujud ketika jumlah para pelaksana menjadi sangat besar dan semuanya sepakat untuk melaksanakan tujuan tersebut, serta saling membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan. Marilah kita belajar untuk mendorong satu sama lain untuk saling mengasihi dan melakukan pekerjaan baik, seperti orang-orang berdosa saling menyemangati dan mendorong satu sama lain untuk melakukan pekerjaan jahat (lih. Mzm. 122:1; Yes. 2:3, 5; Yer. 50:5).
2. Bahan-bahan apa saja yang mereka gunakan dalam bangunan mereka. Karena tanah itu datar, tidak ditemukan adanya batu atau campuran bahan semen dan kapur. Namun hal ini tidak menyurutkan tekad mereka untuk melaksanakan kesepakatan ini. Mereka membuat batu bata yang akan digunakan sebagai pengganti batu, dan lumpur atau jerami sebagai pengganti semen. Perhatikan di sini,
(1) Betapa perubahan yang ingin mereka lakukan sanggup membuat mereka begitu teguh dalam tujuan mereka. Seandainya saja kita bersemangat melakukan sesuatu yang baik, seharusnya kita tidak menghentikan pekerjaan sesering yang kita lakukan, dengan dalih supaya mudah menjalankannya.
(2) Betapa besar perbedaan bahan bangunan yang digunakan manusia untuk membangun dan bahan bangunan yang digunakan Allah. Ketika manusia membangun Babel mereka, batu bata dan lumpur adalah bahan terbaik mereka, sedangkan ketika Allah membangun Yerusalem-Nya, Ia meletakkan dasar-dasarnya dengan batu nilam, dan segenap tembok perbatasannya dari batu permata (Yes. 54:11-12; Why. 21:19).
3. Untuk tujuan apa mereka membangun. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan membangun menara ini, mereka berharap dapat mengamankan diri terhadap air yang ditimbulkan air bah berikutnya. Allah memang telah memberitahukan kepada mereka bahwa Ia tidak akan menenggelamkan dunia ini lagi, namun mereka lebih mempercayai sebuah menara buatan sendiri daripada janji yang dibuat Allah atau sebuah bahtera menurut petunjuk-Nya. Bagaimanapun, seandainya mereka benar-benar memperhatikan hal ini, seharusnya mereka lebih baik memilih membangun sebuah menara di atas gunung daripada di dataran. Namun, tampaknya ada tiga hal yang ingin mereka capai dalam pembangunan menara ini:
(1) Menara ini dirancang untuk menentang Allah sendiri. Karena mereka akan membangun sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, yang membuktikan adanya ketidaktaatan yang terang-terangan, setidaknya mereka ingin menyaingi Allah. Mereka hendak menyamai Yang Mahatinggi, atau hendak datang sedekat mungkin sesuai kemampuan mereka kepada Allah, bukan dalam kekudusan, melainkan dalam keangkuhan hati. Mereka lupa akan tempat mereka. Menolak melata di bumi, mereka bertekad memanjat ke sorga, dan tidak dengan melalui pintu atau tangga, tetapi dengan cara-cara lain.
(2) Dengan ini mereka berharap membuat nama bagi mereka sendiri. Mereka ingin melakukan sesuatu yang akan banyak dibicarakan orang di zaman sekarang ini, dan memberitahukan kepada semua keturunan mereka di segala zaman bahwa pernah ada manusia seperti mereka di dunia ini. Bukannya mati tanpa meninggalkan catatan di belakang mereka, mereka malah meninggalkan tugu peringatan tentang keangkuhan, hasrat yang kuat akan hal-hal duniawi, dan kebodohan mereka. Perhatikan baik-baik hal berikut ini,
[1] Mencintai kehormatan dan sebuah nama di antara manusia, umumnya mengilhami munculnya semangat tinggi yang aneh-aneh dan kesepakatan pelaksanaan yang sulit, serta sering membuka diri kepada yang jahat dan melawan Allah.
[2] Sudah sepantasnya Allah mengubur nama-nama yang dibangkitkan oleh dosa itu di dalam debu. Para pendiri Babel ini membayar harga yang sangat mahal dan bodoh untuk mengukir sebuah nama bagi mereka. Namun, mereka tidak akan berhasil mencapai cita-cita ini, sebab tidak pernah ada tertulis dalam sejarah mana pun mengenai salah satu dari para pendiri Babel ini. Philo Judaeus (ahli filsafat Helenisme berkebangsaan Yahudi tahun 50 SM – pen.) mengatakan bahwa mereka mengukir nama masing-masing di atas sebuah batu bata, in perpetuam rei memoriam – sebagai peringatan yang abadi, namun perbuatan mereka ini tidak mencapai tujuan yang dimaksud.
(3) Mereka melakukannya untuk mencegah penyebaran mereka: supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi. “ Hal itu dilakukan,” (kata Yosefus – sejarawan Yahudi), “dalam ketidaktaatan terhadap perintah, Penuhilah bumi (9:1).” Allah memerintahkan mereka untuk berserak-serak. “Tidak!” kata mereka, “Kami tidak mau, kami ingin hidup dan mati bersama-sama.” Dalam hal ini, mereka mengikat diri mereka masing-masing dan mengikatkan diri satu sama lain dalam kesepakatan yang sangat besar ini. Supaya dapat bersatu dalam satu kerajaan yang sangat jaya, mereka memutuskan untuk membangun kota dan menara ini, untuk menjadi kota utama kerajaan mereka serta pusat dari kesatuan mereka. Besar kemungkinan, Nimrod yang sangat haus akan kekuasaan itu ada di balik semua gerakan ini. Ia tidak puas dengan hanya memerintah kawasan tertentu, tetapi sangat menginginkan sebuah kerajaan yang mendunia. Supaya dapat mencapai cita-cita ini, ia berusaha menyatukan mereka di bawah satu lembaga dengan dalih demi keselamatan mereka bersama, sehingga dengan menempatkan mereka di bawah pengawasannya, ia dapat dengan mudah menguasai mereka. Perhatikan kelancangan orang-orang berdosa ini. Di sini kita mendapati,
[1] Sebuah perlawanan yang terang-terangan kepada Allah: “Kamu harus berserak-serak,” Allah berfirman. “Tetapi kami tidak mau,” sahut mereka. Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya.
Perbedaan lama antara anak-anak Allah dan anak-anak manusia (antara orang-orang yang percaya Allah dan orang-orang fasik) yang selamat dari air bah itu, sekarang muncul kembali sesudah manusia mulai bertambah banyak. Sesuai cara pembedaan itu, di dalam pasal ini kita membaca hal-hal sebagai berikut,
I. Penyerakan anak-anak manusia di Babel (ay. 1-9), di dalamnya kita mendapati,
1. Rancangan berani mereka yang membangkitkan amarah Allah dengan membangun sebuah kota dan sebuah menara (ay. 1-4).
2. Penghukuman yang adil dari Allah atas mereka melalui penggagalan rancangan itu, dengan cara mengacaubalaukan bahasa mereka, dan dengan demikian mencerai-beraikan mereka (ay. 5-9).
II. Catatan garis silsilah anak-anak Allah ke bawah sampai kepada Abraham (ay. 10-26), dengan disertai catatan umum perihal kaum keluarganya, serta kepindahannya dari negeri asal mereka (ay. 27 dan seterusnya).
Kekacauan Bahasa (Kejadian 11:1-4)
Penutup pasal sebelumnya memberi tahu kita bahwa melalui anak-anak Nuh, atau dari antara anak-anak Nuh, dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu. Artinya, mereka dibedakan menjadi sejumlah suku atau wilayah hunian mereka. Sebab kawasan itu telah menjadi semakin sempit bagi mereka, maka atas petunjuk Nuh atau kesepakatan di antara anak-anaknya, beberapa suku atau wilayah hunian harus menentukan arahnya masing-masing, dimulai dari negeri-negeri yang bersebelahan dengan mereka dan dirancang untuk dilanjutkan lebih jauh dan lebih jauh lagi, serta berpindah ke jarak yang lebih jauh dari tempat mereka masing-masing, sesuai luas ruang yang dibutuhkan untuk menampung jumlah peningkatan anggota kelompok mereka. Dengan demikian, masalah itu dapat diselesaikan dengan baik pada masa seratus tahun setelah air bah, sekitar waktu kelahiran Peleg. Namun, tampaknya anak-anak manusia enggan menyebar ke tempat-tempat yang lebih jauh. Mereka beranggapan bahwa tempat mereka lebih menyenangkan dan lebih aman. Oleh karena itulah mereka berusaha untuk tetap tinggal bersama-sama, dan bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepada mereka oleh TUHAN Allah (Yos. 18:3). Mereka mengira diri mereka lebih bijak daripada Allah atau Nuh. Nah, di sini kita membaca perihal,
I. Keuntungan yang mendasari rancangan mereka untuk tetap tinggal bersama,
1. Mereka semua berasal dari satu bahasa (ay. 1). Seandainya ada bahasa lain sebelum air bah, maka hanya bahasa yang dipakai Nuh sajalah, yang mungkin sama dengan bahasa Adam, yang masih dipertahankan melalui peristiwa air bah itu, dan terus berlanjut sesudah itu. Nah, sementara mereka masih saling mengerti bahasa masing-masing, mereka cenderung lebih saling mengasihi, semakin mampu untuk saling membantu, dan kecil kemungkinan dapat saling berpisah.
2. Mereka menjumpai tempat yang nyaman untuk dihuni (ay. 2), sebuah tanah datar di tanah Sinear, dataran yang sangat luas, sehingga dapat menampung mereka semua. Lagi pula, dataran itu subur, dan sesuai dengan jumlah mereka pada saat itu. Kawasan itu sanggup mendukung kebutuhan pangan mereka semua, walaupun mungkin mereka belum mempertimbangkan apakah kawasan itu memiliki daya tampung yang cukup untuk menampung mereka semua ketika jumlah mereka semakin bertambah-tambah. Perhatikanlah, tempat tinggal yang menarik hati pada saat sekarang, sering terbukti menjadi godaan kuat untuk mengabaikan tugas dan kepentingan yang menyangkut masa depan.
II. Cara yang mereka gunakan untuk saling mengikat diri, dan tinggal bersama-sama dalam satu kesatuan. Bukannya berusaha keras memperluas batas-batas ruang hidup mereka dengan cara berangkat dengan damai di bawah perlindungan ilahi, mereka malah berusaha membentengi diri. Dan sama seperti orang-orang yang terus menentang sorga, mereka tetap bertahan. Kesepakatan yang mereka ambil adalah, Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara. Dapat diamati bahwa para pembangun kota yang pertama, baik di dunia purba (4:17) dan di dunia zaman sekarang, bukanlah orang yang berwatak baik dan memiliki nama yang baik. Kemah-kemah digunakan umat Allah untuk tinggal, sedangkan kota-kota dibangun oleh orang-orang yang memberontak terhadap Dia dan mengingkari Dia. Amatilah di sini,
1. Betapa bergairahnya mereka dan betapa mereka saling mendorong satu sama lain untuk segera memulai pekerjaan ini. Mereka berkata, Marilah kita membuat batu bata (ay. 3), dan sekali lagi (ay. 4), Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota. Melalui kegairahan bersama ini, mereka saling meneguhkan hati dan semakin berani bertindak. Hal-hal besar dapat terwujud ketika jumlah para pelaksana menjadi sangat besar dan semuanya sepakat untuk melaksanakan tujuan tersebut, serta saling membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan. Marilah kita belajar untuk mendorong satu sama lain untuk saling mengasihi dan melakukan pekerjaan baik, seperti orang-orang berdosa saling menyemangati dan mendorong satu sama lain untuk melakukan pekerjaan jahat (lih. Mzm. 122:1; Yes. 2:3, 5; Yer. 50:5).
2. Bahan-bahan apa saja yang mereka gunakan dalam bangunan mereka. Karena tanah itu datar, tidak ditemukan adanya batu atau campuran bahan semen dan kapur. Namun hal ini tidak menyurutkan tekad mereka untuk melaksanakan kesepakatan ini. Mereka membuat batu bata yang akan digunakan sebagai pengganti batu, dan lumpur atau jerami sebagai pengganti semen. Perhatikan di sini,
(1) Betapa perubahan yang ingin mereka lakukan sanggup membuat mereka begitu teguh dalam tujuan mereka. Seandainya saja kita bersemangat melakukan sesuatu yang baik, seharusnya kita tidak menghentikan pekerjaan sesering yang kita lakukan, dengan dalih supaya mudah menjalankannya.
(2) Betapa besar perbedaan bahan bangunan yang digunakan manusia untuk membangun dan bahan bangunan yang digunakan Allah. Ketika manusia membangun Babel mereka, batu bata dan lumpur adalah bahan terbaik mereka, sedangkan ketika Allah membangun Yerusalem-Nya, Ia meletakkan dasar-dasarnya dengan batu nilam, dan segenap tembok perbatasannya dari batu permata (Yes. 54:11-12; Why. 21:19).
3. Untuk tujuan apa mereka membangun. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan membangun menara ini, mereka berharap dapat mengamankan diri terhadap air yang ditimbulkan air bah berikutnya. Allah memang telah memberitahukan kepada mereka bahwa Ia tidak akan menenggelamkan dunia ini lagi, namun mereka lebih mempercayai sebuah menara buatan sendiri daripada janji yang dibuat Allah atau sebuah bahtera menurut petunjuk-Nya. Bagaimanapun, seandainya mereka benar-benar memperhatikan hal ini, seharusnya mereka lebih baik memilih membangun sebuah menara di atas gunung daripada di dataran. Namun, tampaknya ada tiga hal yang ingin mereka capai dalam pembangunan menara ini:
(1) Menara ini dirancang untuk menentang Allah sendiri. Karena mereka akan membangun sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, yang membuktikan adanya ketidaktaatan yang terang-terangan, setidaknya mereka ingin menyaingi Allah. Mereka hendak menyamai Yang Mahatinggi, atau hendak datang sedekat mungkin sesuai kemampuan mereka kepada Allah, bukan dalam kekudusan, melainkan dalam keangkuhan hati. Mereka lupa akan tempat mereka. Menolak melata di bumi, mereka bertekad memanjat ke sorga, dan tidak dengan melalui pintu atau tangga, tetapi dengan cara-cara lain.
(2) Dengan ini mereka berharap membuat nama bagi mereka sendiri. Mereka ingin melakukan sesuatu yang akan banyak dibicarakan orang di zaman sekarang ini, dan memberitahukan kepada semua keturunan mereka di segala zaman bahwa pernah ada manusia seperti mereka di dunia ini. Bukannya mati tanpa meninggalkan catatan di belakang mereka, mereka malah meninggalkan tugu peringatan tentang keangkuhan, hasrat yang kuat akan hal-hal duniawi, dan kebodohan mereka. Perhatikan baik-baik hal berikut ini,
[1] Mencintai kehormatan dan sebuah nama di antara manusia, umumnya mengilhami munculnya semangat tinggi yang aneh-aneh dan kesepakatan pelaksanaan yang sulit, serta sering membuka diri kepada yang jahat dan melawan Allah.
[2] Sudah sepantasnya Allah mengubur nama-nama yang dibangkitkan oleh dosa itu di dalam debu. Para pendiri Babel ini membayar harga yang sangat mahal dan bodoh untuk mengukir sebuah nama bagi mereka. Namun, mereka tidak akan berhasil mencapai cita-cita ini, sebab tidak pernah ada tertulis dalam sejarah mana pun mengenai salah satu dari para pendiri Babel ini. Philo Judaeus (ahli filsafat Helenisme berkebangsaan Yahudi tahun 50 SM – pen.) mengatakan bahwa mereka mengukir nama masing-masing di atas sebuah batu bata, in perpetuam rei memoriam – sebagai peringatan yang abadi, namun perbuatan mereka ini tidak mencapai tujuan yang dimaksud.
(3) Mereka melakukannya untuk mencegah penyebaran mereka: supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi. “ Hal itu dilakukan,” (kata Yosefus – sejarawan Yahudi), “dalam ketidaktaatan terhadap perintah, Penuhilah bumi (9:1).” Allah memerintahkan mereka untuk berserak-serak. “Tidak!” kata mereka, “Kami tidak mau, kami ingin hidup dan mati bersama-sama.” Dalam hal ini, mereka mengikat diri mereka masing-masing dan mengikatkan diri satu sama lain dalam kesepakatan yang sangat besar ini. Supaya dapat bersatu dalam satu kerajaan yang sangat jaya, mereka memutuskan untuk membangun kota dan menara ini, untuk menjadi kota utama kerajaan mereka serta pusat dari kesatuan mereka. Besar kemungkinan, Nimrod yang sangat haus akan kekuasaan itu ada di balik semua gerakan ini. Ia tidak puas dengan hanya memerintah kawasan tertentu, tetapi sangat menginginkan sebuah kerajaan yang mendunia. Supaya dapat mencapai cita-cita ini, ia berusaha menyatukan mereka di bawah satu lembaga dengan dalih demi keselamatan mereka bersama, sehingga dengan menempatkan mereka di bawah pengawasannya, ia dapat dengan mudah menguasai mereka. Perhatikan kelancangan orang-orang berdosa ini. Di sini kita mendapati,
[1] Sebuah perlawanan yang terang-terangan kepada Allah: “Kamu harus berserak-serak,” Allah berfirman. “Tetapi kami tidak mau,” sahut mereka. Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya.
[2] Sebuah persaingan yang terang-terangan dengan Allah. Merupakan hak istimewa Allah sajalah untuk memerintah seluruh dunia, sebagai TUHAN di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Orang yang menginginkan hak istimewa itu berarti berusaha melangkah ke dalam takhta Allah, yang tidak akan pernah memberikan kemuliaan-Nya kepada orang lain.
No comments:
Post a Comment