Kejadian 8:13-14 (TB):
BUMI TELAH KERING
Di sini,
1. Bumi menjadi kering (ay. 13), maksudnya, semua air sudah lenyap darinya, yang disaksikan sendiri oleh Nuh pada hari pertama dalam bulan pertama (sungguh hari pertama di tahun baru yang menggembirakan). Ia membuka tutup bahtera itu, tidak seluruhnya, tetapi hanya secukupnya saja supaya ia bisa melihat pemandangan bumi di sekelilingnya. Dan sungguh itu suatu pemandangan yang paling menghibur. Sebab lihatlah, lihat dan takjublah, muka bumi sudah mulai kering. Perhatikanlah,
(1) Adalah suatu belas kasihan yang besar bagi kita untuk melihat tanah di sekeliling kita. Nuh lebih menyadarinya pada waktu itu daripada kita sekarang. Sebab segala belas kasihan yang dipulihkan jauh lebih menyentuh daripada segala belas kasihan yang berlanjut terus.
(2) Kuasa ilahi yang sekarang memperbarui wajah bumi dapat memperbarui wajah jiwa yang menderita dan kesusahan serta wajah gereja yang kesulitan dan teraniaya. Ia dapat membuat tanah kering muncul sekalipun tampaknya sudah terhilang dan terlupakan (Mzm. 18:17).
2. Bumi telah kering (ay. 14), sehingga layak untuk didiami Nuh. Amatilah, meskipun Nuh melihat tanah kering pada hari pertama di bulan pertama, Allah tidak mengizinkannya keluar dari bahtera hingga hari kedua puluh tujuh pada bulan kedua. Mungkin Nuh, karena sudah agak lelah dengan kekangannya, ingin cepat-cepat keluar pada awalnya. Tetapi Allah, dalam kebaikan hati kepadanya, menyuruhnya untuk tinggal jauh lebih lama lagi. Perhatikanlah, Allah lebih mengutamakan keuntungan kita daripada keinginan-keinginan kita. Sebab Ia lebih tahu apa yang baik bagi kita daripada kita sendiri, dan berapa lama kekangan-kekangan kita pantas diteruskan dan belas kasihan yang kita rindukan pantas ditunda. Kita ingin keluar dari bahtera sebelum tanah mengering, dan mungkin, jika pintunya tertutup, kita akan segera membuka tingkap dan memanjat dari tempat lain. Tetapi kita harus puas bahwa waktu Allah untuk menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita pasti merupakan waktu yang terbaik, yaitu ketika belas kasihan sudah matang bagi kita dan kita siap untuknya.
No comments:
Post a Comment