Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 6:1-2 (MHC)

Kejadian 6:1-2 (TB):
1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
KERUSAKAN DUNIA

Rekaman paling menakjubkan yang kita miliki tentang dunia lama adalah kehancurannya yang menyeluruh oleh air bah. Kisah tentang ini dimulai dalam pasal ini, yang di dalamnya kita mendapati,

I. Kejahatan yang melimpah dalam dunia yang fasik itu (ay. 1-5, 11-12).

II. Kebencian yang adil dari Allah yang benar terhadap kejahatan yang melimpah itu, dan tekad-Nya yang kudus untuk menghukumnya (ay. 6-7).

III. Kasih karunia Allah yang istimewa terhadap Nuh hamba-Nya.

1. Dalam sifat yang digambarkan tentangnya (ay. 8-10).
2. Dalam penyampaian maksud Allah kepadanya (ay. 13-17).
3. Dalam petunjuk-petunjuk yang diberikan Allah kepadanya untuk membuat bahtera demi keamanannya sendiri (ay. 14-16).
4. Dalam dipekerjakannya dia untuk memelihara kelangsungan semua makhluk lainnya (ay. 18-21). Dan yang terakhir, dalam kepatuhan Nuh terhadap perintah-perintah yang diberikan kepadanya (ay. 22).

Dan perkara mengenai dunia lama ini ditulis sebagai peringatan bagi kita, yang kini tengah menyongsong datangnya kesudahan dari dunia baru.

Kerusakan Dunia (Kejadian 6:1-2)

Demi kemuliaan keadilan Allah, dan demi memperingatkan dunia yang fasik, maka sebelum diceritakan sejarah tentang kehancuran dunia lama, kita mendapati gambaran penuh tentang kemerosotan dunia lama itu, kemurtadannya dari Allah, dan pemberontakannya melawan Dia. Penghancuran terhadap dunia lama itu merupakan sebuah tindakan yang bukan berdasar pada kedaulatan mutlak, melainkan pada tuntutan keadilan, untuk mempertahankan kehormatan pemerintahan Allah. Sekarang di sini kita mendapati gambaran tentang dua hal yang mengakibatkan timbulnya kefasikan dalam dunia lama itu:

1. Bertambah banyaknya umat manusia: Manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi. Ini merupakan hasil dari berkat itu (1:28), namun kerusakan manusia menyalahgunakan dan menyelewengkan berkat ini sedemikian rupa sehingga berkat itu berubah menjadi kutuk. Demikianlah dosa memanfaatkan belas kasihan Allah untuk berbuat dosa yang semakin besar. Jika orang fasik bertambah, bertambahlah pula pelanggaran (Ams. 26:16). Semakin banyak orang berdosa, semakin besarlah dosanya, dan banyaknya para pelanggar hukum membuat orang semakin berani. Penyakit-penyakit menular paling merusak di kota-kota yang padat penduduk, dan dosa adalah penyakit kusta yang menyebar. Demikian pulalah dalam jemaat Perjanjian Baru, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut (Kis. 6:1). Juga, kita membaca tentang sebuah bangsa yang makin bertambah, namun tidak membawa sukacita yang makin besar (Yes. 9:2, KJV). Keluarga-keluarga besar perlu diatur dengan baik, sebab kalau tidak, mereka akan menjadi keluarga-keluarga yang fasik.

2. Perkawinan-perkawinan campur (ay. 2): Anak-anak Allah (maksudnya, orang-orang beragama, yang dipanggil dengan nama Tuhan, dan dipanggil untuk menyerukan nama itu), mengambil isteri dari antara anak-anak perempuan manusia, maksudnya, orang-orang yang cemar, dan orang-orang yang asing bagi Allah dan kesalehan. Keturunan Set tidak menjaga diri mereka, seperti yang seharusnya mereka lakukan, baik untuk memelihara kemurnian mereka sendiri maupun dalam kebencian terhadap kemurtadan. Mereka bercampur baur dengan keturunan Kain yang dikucilkan: Mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Tetapi apa yang salah dalam perkawinan-perkawinan ini?

(1) Mereka hanya memilih dengan mata mereka: Mereka melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, dan itu saja yang mereka lihat.

(2) Mereka mengikuti pilihan yang dibuat oleh perasaan-perasaan mereka sendiri yang sudah rusak: mereka mengambil siapa saja yang disukai mereka, tanpa nasihat dan pertimbangan. Tetapi,

(3) Apa yang ternyata membawa dampak buruk bagi mereka itu adalah bahwa mereka memperisteri perempuan-perempuan asing, dan menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya (2Kor. 6:14). Hal ini dilarang bagi umat Israel (Ul. 7:3-4). Hal itu menjadi penyebab yang amat disayangkan dari kemurtadan Salomo (1Raj. 11:1-4), dan membawa dampak buruk bagi orang-orang Yahudi setelah mereka kembali dari Babel (Ezr. 9:1-2).

Perhatikanlah, orang-orang beragama, bila menikah atau menikahkan anak-anak mereka, haruslah sadar bahwa mereka harus memperhatikan batas-batas pengakuan iman mereka. Orang jahat lebih cepat merusakkan orang baik daripada orang baik memperbarui orang jahat. Orang-orang yang mengaku sebagai anak-anak Allah tidak boleh menikah tanpa restu-Nya, yang tidak mereka dapatkan jika mereka mengikat tali pernikahan dengan musuh-musuh-Nya.

No comments: