Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 3:17-19 (MHC)

Kejadian 3:17-19 (TB):
17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
HUKUMAN YANG DIBERIKAN KEPADA ADAM; AKIBAT KEJATUHAN

Hukuman yang Diberikan kepada Adam; Akibat Kejatuhan (Kejadian 3:17-19)
Di sini kita mendapati hukuman yang diberikan kepada Adam, yang didahului dengan penjabaran kejahatannya: Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu (ay. 17). Dia melepaskan diri dari kesalahan dengan cara melemparkannya kepada istrinya: Dialah yang memberikannya kepadaku. Namun Allah tidak menerima alasan itu. Perempuan itu hanya dapat mencobai dia, namun tidak dapat memaksa dia. Walaupun perempuan itu bersalah karena membujuk dia untuk makan, tetapi dia bersalah karena mendengarkannya. Demikianlah pembelaan ceroboh manusia bukan hanya akan ditolak pada hari penghakiman Allah, namun juga berbalik melawan mereka, dan menjadi dasar hukuman bagi mereka. Aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri.

Perhatikanlah,

I. Allah memberikan tanda-tanda ketidaksenangannya pada Adam dalam tiga hal:

1. Tempat tinggalnya dikutuk melalui hukuman ini: Terkutuklah tanah karena engkau, dan akibat dari kutuk itu adalah: Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu. Di sini tersirat bahwa tempat tinggalnya akan beralih. Dia tidak akan lagi tinggal di taman firdaus yang istimewa dan penuh berkat, melainkan akan berpindah ke tanah yang biasa dan terkutuk. Yang dimaksudkan dengan tanah, atau bumi, di sini adalah seluruh ciptaan yang kasat mata, yang oleh dosa manusia, ditaklukkan kepada kesia-siaan. Beberapa bagiannya tidak terlalu dapat digunakan untuk kenyamanan dan kebahagiaan manusia, walaupun dirancang untuk itu ketika diciptakan, dan akan seperti itu jika manusia tidak berdosa. Allah memberikan bumi kepada anak-anak manusia, merancangnya untuk menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi mereka. Tetapi dosa telah mengubah sifatnya. Sekarang tanah dikutuk karena dosa manusia, artinya itu merupakan tempat tinggal yang tidak terhormat, memperlihatkan bahwa manusia itu rendah, bahwa dasarnya di dalam debu. Tanah itu tempat tinggal yang kering dan tandus, hasil alaminya sekarang adalah rumput liar dan tanaman berduri, sesuatu yang memuakkan atau berbahaya. Apa pun hasil baik yang dikeluarkannya harus diperas darinya dengan kepandaian dan kerajinan manusia. Dulu kesuburan adalah berkatnya, untuk melayani manusia (1:11, 29), dan sekarang ketandusan adalah kutuknya, untuk menghukum manusia. Sekarang tidak lagi seperti dulu pada hari tanah diciptakan. Dosa mengubah tanah yang subur menjadi tandus, dan manusia, setelah menjadi seperti anak keledai liar, mendapatkan tanah liar, tanah dataran sebagai tempat kediamannya, dan padang masin sebagai tempat tinggalnya (Ayb. 39:9; Mzm. 68:7). Kalau kutuk ini tidak dicabut sebagian, setahu saya, bumi akan selamanya tandus, dan tidak pernah menghasilkan apa pun kecuali semak duri dan rumput duri. Tanah menjadi terkutuk, artinya ditetapkan akan mengalami kehancuran di akhir zaman, ketika bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap karena dosa manusia, saat tindakan terhadap pelaku kejahatan akan menjadi lengkap saat itu (2Ptr. 3:7, 10). Namun perhatikanlah campuran belas kasihan dalam hukuman ini.

(1) Adam sendiri tidak dikutuk seperti si ular (ay. 14), melainkan hanya tanah yang dikutuk karena dia. Allah memiliki berkat-berkat di dalam dia, bahkan tunas yang kudus: Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! (Yes. 65:8). Dan Dia memiliki berkat-berkat yang tersimpan untuk dia. Oleh karena itu dia tidak secara langsung dan saat itu juga dikutuk, tetapi melalui pihak lain.

(2) Dia masih di atas tanah. Bumi tidak terbuka dan menelan dia, hanya tidak seperti sebelumnya: selama dia terus hidup, walaupun mengalami penurunan dari kemurnian dan kebenarannya di masa lalu, bumi juga terus menjadi tempat tinggalnya, walaupun mengalami penurunan dari keindahan dan kesuburannya di masa lalu.

(3) Kutuk atas tanah ini, yang mengakhiri semua harapan adanya kebahagiaan di dalam hal-hal yang ada di bumi, dapat mengarahkan dan merangsang dia supaya hanya mencari kebahagiaan dan kepuasan di dalam hal-hal yang ada di sorga.

2. Semua pekerjaan dan kesenangannya akan terasa pahit bagi dia.

(1) Mulai saat itu semua usahanya akan menjadi kerja keras baginya, dan dia akan terus melakukannya dengan berpeluh (ay. 19). Sebelum dia berbuat dosa, usahanya selalu menyenangkan baginya, waktu itu taman dihiasi tanpa kerja keras apa pun yang menyulitkan, dan dipelihara tanpa kekhawatiran apa pun yang menggelisahkan. Tetapi sekarang pekerjaannya akan melelahkan dan merusak tubuhnya, kekhawatirannya akan menjadi siksaan dan akan menyusahkan pikirannya. Kutuk atas tanah, yang menjadikannya tandus dan menghasilkan semak duri dan rumput duri, membuat pekerjaannya yang berkaitan dengan tanah jauh lebih sulit dan melelahkan. Jika Adam tidak berbuat dosa, dia tidak akan berpeluh. Perhatikanlah di sini,

[1] Bekerja adalah tugas kita, yang harus kita lakukan dengan setia. Kita wajib bekerja, bukan hanya sebagai makhluk saja, tetapi juga sebagai para penjahat. Ini adalah bagian dari hukuman kita, yang sangat mendapat perlawanan dari kemalasan.

[2] Kesulitan dan kelelahan yang menyertai pekerjaan adalah hukuman yang adil bagi kita, yang harus kita terima dengan sabar, dan tanpa mengeluh, karena hukuman ini tidak sebanyak yang patut kita dapatkan karena kejahatan kita. Janganlah kita, dengan kekhawatiran dan pekerjaan yang sangat banyak, membuat hukuman kita lebih berat dari yang dibuat Allah. Lebih baik kita belajar meringankan beban kita, dan menghapus peluh kita, dengan memandang kepada Pemelihara dalam segala hal dan menantikan istirahat yang segera tiba.

(2) Sejak saat itu makanannya akan menjadi tidak memuaskan bagi dia, jika dibandingkan dengan apa yang dia dapatkan sebelumnya.

[1] Bahan makanannya berubah. Sekarang dia harus memakan tumbuh-tumbuhan dari padang, dan tidak boleh lagi berpesta dengan makanan-makanan lezat dari taman firdaus. Karena dengan dosa dia membuat dirinya seperti binatang yang dibinasakan, dia pantas menjadi sesama jelata dengan mereka, dan makan rumput seperti lembu, sampai dia mengakui, bahwa Sorgalah yang mempunyai kekuasaan.

[2] Ada perubahan dalam cara dia memakannya: Dengan bersusah payah (ay. 17), dan dengan berpeluh (ay. 19). Adam hanya dapat makan dengan bersusah payah setiap hari dalam hidupnya, mengingat buah terlarang yang telah dia makan, serta rasa bersalah dan malu yang dia derita karenanya. Perhatikanlah, pertama, bahwa hidup manusia menjadi terbuka terhadap ancaman banyak kesengsaraan dan malapetaka, yang sangat memahitkan sisa-sisa kesenangan dan kegembiraannya yang malang. Beberapa orang tidak pernah makan dengan nikmat (Ayb. 21:25, KJV), karena sakit atau kesedihan. Semua orang, bahkan orang-orang yang paling baik, mempunyai alasan untuk makan dengan susah payah karena dosa, dan semua orang, bahkan orang-orang yang paling bahagia di dunia ini, memiliki beberapa hal yang mengurangi kebahagiaan mereka: sejumlah penyakit, malapetaka, dan kematian dalam berbagai bentuk masuk ke dalam dunia bersama dosa, dan masih merusak dunia. Kedua, bahwa keadilan Allah harus diakui dalam segala akibat dosa yang menyedihkan. Mengapa orang hidup mengeluh? Namun terdapat pula campuran belas kasihan di dalam bagian hukuman ini. Dia akan berpeluh, namun kerja kerasnya akan membuat istirahatnya lebih diterima dengan senang hati ketika dia kembali kepada buminya, seperti kalau dia kembali ke tempat tidurnya. Dia akan bersedih hati, namun tidak akan kelaparan. Dia akan bersusah payah, namun dengan susah payahnya itu dia akan memakan makanannya, yang akan menguatkan hatinya dalam susah payahnya. Dia tidak dihukum memakan debu seperti si ular, melainkan hanya memakan tumbuh-tumbuhan dari padang.

3. Hidupnya juga singkat saja. Jika kita pertimbangkan betapa hari-harinya penuh dengan kesulitan, ini hal yang menguntungkan baginya, bahwa hari-harinya sedikit. Sekalipun kematian itu mengerikan secara alami (ya, sekalipun hidup tidak menyenangkan), itulah yang mengakhiri hukuman. “Engkau akan kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil. Tubuhmu, bagian dirimu yang diambil dari tanah, akan kembali menjadi tanah lagi, karena engkau debu.” Ini menunjuk kepada sumber utama tubuhnya. Tubuhnya terbuat dari debu, bahkan dibuat debu, dan masih seperti itu, sehingga yang diperlukan hanyalah menarik kembali pemberian kekekalan, dan mengambil kekuatan yang dikeluarkan untuk menopangnya, maka dia pun tentunya akan kembali menjadi debu. Atau, ini menunjuk kepada kerusakan dan kemerosotan akal budinya sekarang. Engkau debu, artinya, “Jiwamu yang berharga sekarang hilang dan terkubur dalam tubuh debu dan daging lumpur. Jiwamu itu diciptakan rohani dan sorgawi, tetapi telah menjadi penuh nafsu kedagingan dan duniawi.” Karena itu hukumannya ditafsirkan: “ Engkau akan kembali menjadi debu. Tubuhmu akan ditinggalkan oleh jiwamu, dan menjadi gumpalan debu, dan kemudian akan diletakkan di liang kubur, tempat yang pantas untuknya, dan berbaur dengan debu tanah,” debu kita (Mzm. 104:29, KJV). Dari tanah kembali ke tanah, dari debu kembali ke debu. Perhatikanlah di sini,

(1) Bahwa manusia adalah makhluk yang hina dan lemah, kecil seperti debu, sebutir debu pada neraca. Ringan seperti debu, seluruhnya lebih ringan daripada angin. Lemah seperti debu, dan tidak kokoh. Kekuatan kita bukanlah kekuatan batu. Dia yang menciptakan kita mempertimbangkannya, dan ingat, bahwa kita ini debu (Mzm. 103:14). Manusia memang debu dataran yang pertama (Ams. 8:26), namun dia tetaplah debu.

(2) Bahwa manusia adalah makhluk yang akan mati, yang segera menuju ke liang kubur. Debu bisa saja terangkat untuk sementara waktu menjadi sebentuk awan kecil, dan tampak besar selama ditopang oleh angin yang mengangkatnya. Namun, ketika kekuatan angin itu berlalu, debu itu jatuh lagi, dan kembali ke tanah dari mana dia diangkat. Demikian juga halnya dengan manusia. Orang besar hanyalah sekumpulan besar debu, dan harus kembali ke tanahnya.

(3) Bahwa dosa membawa kematian masuk ke dalam dunia. Kalau saja Adam tidak berbuat dosa, dia tidak akan pernah mati (Rm. 5:12). Allah mempercayakan sepercik kehidupan kekal kepada Adam, yang dengan kesabaran terus-menerus dalam berbuat baik, dapat saja menjadi kobaran yang abadi, namun dengan bodohnya dia meniup percikan itu sampai mati dengan dosa yang disengaja. Dan sekarang kematian adalah upah dosa, dan dosa adalah sengat maut.

II. Kita tidak boleh meninggalkan pembahasan tentang hukuman atas nenek moyang pertama kita ini, yang sangat berkaitan erat dengan kita semua, dan kita semua rasakan, sampai hari ini, tanpa mempertimbangkan dua hal:

1. Bagaimana akibat dosa yang menyedihkan terhadap jiwa Adam dan rasnya yang berdosa secara tepat dilambangkan dan ditetapkan dengan hukuman ini, dan mungkin hal ini disengaja, lebih dari yang kita sadari. Walaupun kesengsaraan yang disebutkan hanya yang berdampak pada tubuh, namun itu adalah pola kesengsaraan rohani, kutuk yang masuk ke dalam jiwa.

(1) Kesakitan seorang perempuan ketika melahirkan melambangkan kengerian dan kepedihan karena hati nurani yang bersalah. Dengan cara ini hati nurani dibuat sadar akan dosa. Dari gambaran tentang hawa nafsu, susah payah ini sangat diperbanyak, dan cepat atau lambat akan menimpa orang berdosa, seperti kesakitan yang menimpa perempuan yang melahirkan, tanpa dapat dihindari.

(2) Keadaan dikuasai yang dialami perempuan melambangkan hilangnya kemerdekaan rohani dan kebebasan kehendak sebagai akibat dosa. Kekuasaan dosa di dalam jiwa disamakan dengan kekuasaan suami (Rm. 7:1-5). Keinginan orang berdosa selalu mengarah kepada dosa, karena dia sangat menyukai perbudakannya, dan dosa itu berkuasa atas dia.

(3) Kutuk ketandusan yang ditimpakan kepada tanah, sehingga tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, adalah lambang yang cocok untuk ketandusan jiwa yang bejat dan berdosa dalam hal yang baik, dan kesuburannya dalam hal yang jahat. Jiwa penuh ditumbuhi dengan duri seluruhnya, dan jelatang menutupi permukaannya, sehingga sudah dekat pada kutuk (Ibr. 6:8).

(4) Kerja keras dan peluh memperlihatkan kesulitan yang, melalui kelemahan daging, dialami manusia dalam bekerja, dalam melayani Allah dan pekerjaan ibadah, sehingga sekarang menjadi begitu berat untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Terpujilah Allah, bahwa hal itu tidak mustahil.

(5) Menjadi pahitnya makanan bagi dia memperlihatkan kebutuhan jiwanya akan penghiburan dari anugerah Allah, yaitu hidup, dan roti hidup.

(6) Jiwa, seperti tubuh, kembali menjadi debu dunia ini. Kecenderungannya mengarah ke sana, dan memiliki noda berbau tanah (Yoh. 3:31).

2. Bagaimana penebusan yang dibuat Tuhan Yesus melalui kematian dan penderitaannya menjawab hukuman yang diberikan kepada nenek moyang pertama kita di sini dengan cara yang mengagumkan.

(1) Apakah kesakitan pada waktu melahirkan masuk bersama dosa? Kita membaca tentang kesusahan jiwa Kristus (Yes. 53:11), dan sengsara maut yang menahan-Nya disebut odinai (Kis. 2:24), kesakitan seperti perempuan yang hendak melahirkan.

(2) Apakah keadaan menjadi tunduk masuk bersama dosa? Kristus takluk kepada hukum Taurat (Gal. 4:4).

(3) Apakah kutuk masuk bersama dosa? Kristus menjadi kutuk karena kita, mati melalui kematian yang terkutuk (Gal. 3:13).

(4) Apakah duri masuk bersama dosa? Dia dimahkotai dengan duri karena kita.

(5) Apakah peluh masuk bersama dosa? Karena kita Dia berpeluh seperti titik-titik darah yang bertetesan.

(6) Apakah kesengsaraan masuk bersama dosa? Dia adalah seorang yang penuh kesengsaraan, dalam pergumulan-Nya jiwa-Nya sangat sedih.

(7) Apakah kematian masuk bersama dosa? Dia taat sampai mati.

Demikianlah pembalutnya selebar lukanya. Terpujilah Allah karena Yesus Kristus!

No comments: