Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 3:16 (MHC)

Kejadian 3:16 (TB)

Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."


HUKUMAN YANG DIBERIKAN KEPADA HAWA

Di sini kita melihat hukuman yang diberikan kepada si perempuan itu untuk dosanya. Dia dihukum dengan dua hal: keadaan susah payah dan keadaan dikuasai, hukuman yang pantas bagi dosa yang di dalamnya dia memuaskan kesenangan dan kesombongannya.

I. Di sini dia ditempatkan dalam keadaan susah payah, yang diperinci dengan satu hal tertentu saja, yaitu dalam melahirkan anak. Walaupun begitu, hal ini mencakup semua kesan kesedihan dan ketakutan yang cenderung diterima oleh pikiran kaum yang lembut itu, dan semua bencana umum yang dapat menimpa mereka. Perhatikanlah, dosa membawa susah payah ke dalam dunia. Inilah yang menjadikan dunia lembah air mata, menurunkan hujan masalah ke atas kepala kita, dan membuka mata air kesedihan di hati kita, sehingga membanjiri dunia ini. Seandainya kita tidak mengenal kesalahan, kita tidak akan mengenal kesedihan. Kesakitan karena melahirkan anak, yang merupakan suatu hal yang bagus dalam salah satu amsal Alkitab, adalah akibat dosa. Setiap kesakitan dan setiap erangan perempuan yang melahirkan menyuarakan dengan lantang akibat yang sangat buruk dari dosa, yang dihasilkan dari memakan buah terlarang. Perhatikanlah,

1. Susah payah itu di sini dikatakan dibuat banyak, sangat banyak. Semua susah payah di masa kini pun seperti itu, banyak bencana yang dapat menimpa kehidupan manusia, dalam berbagai jenis, dan sering terulang, seperti awan kembali setelah hujan, dan tidak heran jika susah payah kita menjadi banyak saat dosa kita pun banyak. Keduanya adalah keburukan yang tidak terhitung. Susah payah karena melahirkan anak itu banyak, karena bukan hanya mencakup kesakitan pada waktu melahirkan, namun juga gangguan kesehatan sebelumnya (susah payah karena kehamilan), dan kerepotan serta kekesalan karena menyusui setelah itu. Setelah itu, jika anak-anak ternyata nakal dan bodoh, mereka menjadi beban berat bagi ibu yang melahirkan mereka, lebih dari sebelumnya. Demikianlah susah payah menjadi banyak. Ketika satu kesedihan berlalu, kesedihan lain menggantikannya di dunia ini.

2. Allahlah yang memperbanyak susah payah kita: akan Kubuat. Allah melakukannya sebagai Hakim yang benar, dan ini harus membuat kita diam dalam susah payah kita. Sebanyak apa pun susah payah kita, kita pantas menerima semua itu, dan lebih lagi. Bahkan Allah, sebagai Bapa yang lembut, melakukannya karena perlu memperbaiki kita, supaya kita direndahkan karena dosa, dan oleh susah payah kita dilepaskan dari ketergantungan kita pada dunia. Dan kebaikan yang kita dapatkan melalui susah payah kita, dengan penghiburan yang kita dapatkan ketika mengalaminya, akan mengimbangi susah payah kita dengan berlimpah-limpah, betapa pun besarnya susah payah itu diperbanyak.

II. Di sini si perempuan itu ditempatkan dalam keadaan dikuasai. Seluruh kaum perempuan, yang pada waktu penciptaan setara dengan laki-laki, kini, karena dosa, dibuat lebih rendah, dan dilarang memerintah (1Tim. 2:11-12). Dengan ini istri secara khusus ditempatkan di bawah kekuasaan suaminya, dan tidak sui juris mengikuti kehendaknya sendiri. Lihatlah contohnya dalam hukum itu (Bil. 30:6-8), di mana suami diberi wewenang untuk membatalkan nazar yang dibuat istrinya jika dia menginginkannya. Hukuman ini sama saja dengan perintah: Istri-istri, tunduklah kepada suamimu, tetapi masuknya dosa telah membuat tugas itu menjadi hukuman, sedangkan tanpa dosa itu bukanlah suatu hukuman. Jika laki-laki tidak pernah berbuat dosa, dia akan selalu memerintah dengan kebijaksanaan dan kasih, dan jika perempuan tidak pernah berbuat dosa, dia akan selalu menurut dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Maka kekuasaan tidak akan menimbulkan kesedihan. Namun dosa dan kebodohan kita sendiri yang membuat kuk kita berat. Jika saja Hawa tidak memakan buah terlarang, dan tidak membujuk suaminya untuk memakannya, dia tidak akan pernah mengeluh tentang dirinya dikuasai. Oleh karena itu, keadaan tersebut seharusnya tidak pernah dikeluhkan, walaupun sulit, melainkan dosalah yang harus dikeluhkan, karena dosalah yang menyebabkannya. Istri-istri yang bukan saja merendahkan dan membangkang terhadap suami mereka, tetapi juga berkuasa atas mereka, tidak mempertimbangkan bahwa mereka bukan hanya melanggar hukum ilahi, tetapi juga melawan hukuman ilahi.

III. Perhatikanlah di sini bagaimana belas kasihan bercampur dengan kemurkaan dalam hukuman ini. Perempuan akan mengalami susah payah, tetapi itu akan dialami pada waktu melahirkan anak, dan susah payah itu akan dilupakan karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia (Yoh. 16:21). Dia akan dikuasai, tetapi oleh suaminya sendiri yang mencintai dia, bukan oleh orang asing, atau seorang musuh. Hukuman tersebut bukanlah kutukan, untuk membawa dia kepada kehancuran, melainkan penyucian, untuk membawa dia kepada pertobatan. Suatu hal yang baik bahwa permusuhan tidak diadakan antara laki-laki dan perempuan seperti yang terjadi antara si ular dan perempuan itu.

No comments: