Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 2:4-7 (MHC)

Kejadian 2:4-7 (TB):
4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —
5 belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;
6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu —
7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
PENCIPTAAN MANUSIA

Di dalam ayat-ayat ini,

I. Sebuah nama diberikan kepada Sang Pencipta yang sampai di sini belum kita temui, yaitu Yahweh – atau TUHAN (LORD), dengan huruf-huruf besar yang terus digunakan dalam terjemahan bahasa Inggris (dan Indonesia) untuk menyiratkan bahwa dalam bahasa asli, yang dipakai adalah nama Yahweh. Di dalam seluruh pasal pertama Ia disebut Elohim – Allah yang penuh kuasa. Tetapi sekarang Ia disebut Yahweh Elohim – Allah yang penuh kuasa dan kesempurnaan, Allah yang menyelesaikan. Sama seperti kita mendapati bahwa Ia dikenal dengan nama Yahweh ketika menyatakan diri untuk melaksanakan apa yang telah dijanjikan-Nya (Kel. 6:3), demikian pula kita mengenal Dia dengan nama itu, ketika Ia telah menyempurnakan apa yang telah dimulai-Nya. Yahweh adalah nama Allah yang agung dan tidak dapat diperkatakan, yang menunjukkan bahwa Ia memiliki keberadaan-Nya dari diri-Nya sendiri, dan Ia memberikan keberadaan kepada semua makhluk. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya Ia disebut dengan nama itu setelah langit dan bumi selesai diciptakan.

II. Perhatian selanjutnya yang diberikan pada pengadaan tumbuh-tumbuhan dan semak, karena mereka diciptakan dan ditetapkan untuk menjadi makanan bagi manusia (ay. 5-6). Perhatikanlah di sini,

1. Bumi tidak menghasilkan buah dengan sendirinya atau melalui kemampuan pembawaannya sendiri, melainkan semata-mata melalui kuasa Allah yang tak terbatas yang membentuk setiap tanaman dan semak sebelum bertumbuh di tanah. Demikian pulalah kasih karunia di dalam jiwa, atau tanaman kemasyhuran, tidak tumbuh dengan sendirinya di tanah, tetapi merupakan hasil karya tangan Allah sendiri.

2. Hujan juga merupakan pemberian Allah. Hujan tidak turun sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi. Ketika tidak turun hujan, Allah sendirilah yang menahannya. Ketika hujan turun dengan deras pada musimnya, Allah sendirilah yang menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain (Am. 4:7).

3. Walaupun Allah biasanya bekerja dengan menggunakan sarana, Ia tidak terikat pada sarana itu. Sebaliknya, Ia bisa saja melaksanakan pekerjaan-Nya tanpa sarana itu. Sama seperti tumbuh-tumbuhan dijadikan sebelum matahari diciptakan, tanaman juga sudah tumbuh sebelum ada hujan untuk membasahi bumi atau manusia untuk mengolahnya. Oleh sebab itu janganlah kita mencobai Allah bila tidak ada sarana, tetapi justru mempercayakan diri kepada Allah di tengah tiadanya sarana.

4. Melalui satu atau lain cara, Allah mampu membasahi tumbuh-tumbuhan yang ditanam-Nya sendiri. Walaupun ketika itu belum ada hujan, Allah menciptakan kabut yang setara dengan hujan, dan dengan kabut itu Ia membasahi seluruh permukaan bumi. Demikianlah Ia memilih untuk mencapai tujuan-Nya melalui sarana yang paling lemah, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah. Kasih karunia ilahi turun bagaikan kabut atau embun yang senyap dan membasahi jemaat tanpa bunyi (Ul. 32:2).

III. Uraian yang lebih terperinci perihal penciptaan manusia (ay. 7). Manusia bagaikan dunia kecil yang terdiri atas langit dan bumi, jiwa dan tubuh. Di sini kita melihat uraian tentang asal mula dan penyatuan keduanya. Marilah kita merenungkannya dengan sungguh dan berkata untuk memuji Pencipta kita, kejadianku dahsyat dan ajaib (Mzm. 139:14). Pada zaman para bapa leluhur, Elihu merujuk kepada sejarah ini ketika ia berkata (Ayb. 33:6), aku pun dibentuk dari tanah liat, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup (ay. 4), dan juga roh yang di dalam manusia (32:8). Jadi amatilah,

1. Asal usul manusia yang bersahaja, tetapi juga susunan tubuhnya yang dibentuk dengan sangat cermat.

(1) Bahannya sangat hina. Ia dibentuk dari debu tanah, bahan yang sangat sulit dipercaya bisa membentuk manusia. Namun, kuasa tidak terbatas yang telah menciptakan bumi tanpa bahan apa pun, membentuk manusia, karya agung itu, dari bahan yang tidak ada apa-apanya. Ia dibentuk dari debu, debu halus yang menutupi permukaan tanah. Boleh jadi yang digunakan itu bukanlah debu kering melainkan debu yang dibasahi kabut yang naik dari bumi (ay. 6). Ia bukan dibentuk dari debu emas, serbuk mutiara, atau serbuk intan, melainkan debu biasa, debu dari tanah. Itulah sebabnya ia disebut berasal dari debu tanah, choikos– berdebu (1Kor. 15:47). Kita pun berasal dari debu tanah, sebab kita adalah keturunannya, dari cetakan yang sama. Begitu dekatnya pertalian di antara bumi dan orangtua kandung kita, hingga rahim ibu dari mana kita dilahirkan juga disebut bumi (Mzm. 139:15). Dan juga, tanah yang di dalamnya kita akan dikuburkan, disebut kandungan ibu (Ayb. 1:21). Dasar kita ada di dalam debu tanah (Ayb. 4:19). Susunan tubuh kita berasal dari tanah, dan pembentukannya seperti cara membuat bejana dari tanah liat (Ayb. 10:9). Makanan kita dihasilkan dari tanah (Ayb. 28:5). Kedekatan kita adalah dengan tanah (Ayb. 17:14). Bapa-bapa leluhur kita dikubur di dalam tanah, dan ke sanalah juga kita akan berakhir. Jadi apakah yang bisa kita banggakan?

(2) Walau demikian, Sang Pencipta sungguh agung, dan hasil ciptaannya sangat indah. TUHAN Allah, sumber keberadaan dan kuasa, membentuk manusia. Mengenai makhluk-makhluk lain, dikatakan bahwa semuanya diciptakan dan dibuat, tetapi manusia dikatakan dibentuk, yang menunjukkan proses bertahap dalam karya yang dikerjakan dengan ketepatan dan kecermatan yang tinggi. Untuk mengungkapkan penciptaan makhluk yang baru ini, Ia menggunakan istilah baru, yang (menurut beberapa orang) dipinjam dari kegiatan seorang tukang periuk yang sedang membentuk bejana di atas jentera. Kita tanah liatnya, sedangkan Allah yang membentuk kita (Yes. 64:8). Tubuh manusia dirancang dengan sangat cermat (Mzm. 139:15-16). Materiam superabat opus – Pembuatannya melebihi bahan-bahannya. Biarlah kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup (Rm. 12:1), sebagai bait Roh Kudus (1Kor. 6:19), dan kelak tubuh-tubuh fana ini akan dibentuk ulang serupa dengan tubuh Kristus yang mulia (Flp. 3:21).

2. Asal usul yang luhur dan kegunaan jiwa manusia yang mengagumkan.

(1) Jiwa manusia menjadi hidup karena nafas dari sorga dan dihasilkan darinya. Jiwa ini tidak dibuat dari debu tanah seperti halnya tubuh. Karena itu sungguh disayangkan apabila jiwa manusia melekat pada dunia dan mementingkan hal-hal duniawi. Jiwa manusia datang langsung dari Allah. Ia memberikannya untuk berdiam di dalam tubuh (Pkh. 12:7), sama seperti ketika Ia memberikan loh-loh batu dengan tulisan tangan-Nya sendiri untuk disimpan di dalam tabut, dan urim hasil rancangan-Nya sendiri itu untuk ditempatkan di tutup dada Harun. Oleh sebab itu, Allah bukan saja pembentuk, melainkan Bapa segala roh juga. Biarlah jiwa yang diembuskan Allah di dalam diri kita juga bernafas seperti Dia dan diperuntukkan bagi-Nya karena berasal dari Dia. Marilah kita percayakan roh kita ke dalam tangan-Nya, karena dari tangan-Nyalah kita menerimanya.

(2) Jiwa berdiam di dalam tempat dari tanah liat dan menjadi nyawa serta penyokongnya. Melalui jiwalah manusia menjadi makhluk yang hidup. Artinya, menjadi manusia yang hidup sebab jiwa adalah manusia itu sendiri. Tubuh akan menjadi kerangka yang tidak berharga, tidak berguna, dan menjijikkan apabila jiwa tidak menghidupkannya. Kepada Allah yang memberi jiwa kepada kita, kita harus memberikan pertanggungjawaban tidak lama lagi, perihal bagaimana kita memanfaatkan, menggunakan, menyesuaikan, dan menyia-nyiakannya. Jika kemudian didapati bahwa kita telah kehilangan semua ini, meskipun tujuannya adalah untuk meraih dunia, kita akan binasa selamanya. Mengingat bahwa asal usul jiwa begitu mulia dan sifat serta kemampuannya begitu tinggi, janganlah kita seperti orang-orang bodoh yang memandang rendah jiwa mereka sendiri dengan cara lebih mengutamakan tubuh jasmani (Ams. 15:32). Ketika Yesus Tuhan kita mengoleskan tanah liat ke mata orang buta, mungkin Ia sedang menyiratkan bahwa Dialah yang pertama membentuk manusia dari tanah liat. Ketika Ia mengembusi murid-murid-Nya dan berkata: “Terimalah Roh Kudus,” Ia menyiratkan bahwa Dialah yang pertama mengembuskan kehidupan ke lubang hidung manusia. Hanya Dia yang membuat jiwa sajalah yang mampu membuatnya baru.

No comments: