Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 1:31 -- 2:4 (SH)

Kejadian 1:31 (TB):
31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.
Kejadian 2:1-4 (TB):
1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —
1. MAKAN DAN ISTIRAHAT (Jumat, 31 Januari 2003)

Banyak orang yang berwawasan pemikiran modern, mengerti keilahian Allah secara aristotelianis: Allah itu tidak terbatas! Ia tidak membutuhkan sesuatu yang di luar diri-Nya, dan tidak mengalami degradasi dalam bentuk apa pun. Lalu mengapa Allah bisa menghasilkan suatu konsep yang sangat finit, materialis, manusiawi dan seperti makanan? Ada apa pula sehingga Allah berhenti dari pekerjaan-Nya dan beristirahat? (kata Ibrani syabat pada ayat 2-3 mengandung arti "berhenti" dan "beristirahat", bdk. BIS dan mayoritas versi bhs. Inggris)

Pasti Anda bisa menjawab ini dengan teologis dan benar: Allah beristirahat dan menciptakan makanan bukan karena keterbatasan- Nya, tetapi karena kehendak bebas-Nya yang berdaulat. Ini betul, tetapi implikasi dari pernyataan ini yang sering luput dari perhatian Kristen masa kini. Makan dan beristirahat adalah sesuatu yang baik, karena Allah yang menciptakan makanan dan mendesain kebutuhan untuk makan (mengapa hanya biji-bijian? bdk. 9:2-4), serta Ia juga memberi teladan dengan beristirahat (bdk. Kel. 20:8-11). Karena itu, kedua hal ini juga bersifat rohani karena spiritualitas kita seharusnya juga terwujud dari pandangan dan tindakan kita terhadap makanan dan istirahat. Kristen yang rohani tidak menyalahgunakan dengan berlebihan keduanya -- menjadi rakus dan malas -- dan juga tidak meniadakan dan menyangkali kebaikan dari kedua anugerah Allah ini.

Kristen di Indonesia kini punya panggilan besar untuk menunjukkan kesaksiannya, ketika dunia sekitar kita makin terbelah dua antara mereka yang sangat kekurangan dan kelebihan makanan, dan ketika dunia menjadi makin mencintai kesibukan.

Renungkan: Ketika manusia makan dan beristirahat dengan baik, ini menjadi berita kepada segenap alam bahwa ciptaan dan pemeliharaan Allah itu baik. Inikah yang berita yang diterima orang lain ketika mereka melihat kita makan dan pengaturan hidup kita?


2. MAKNA SABAT (Rabu, 2 April 2008)

Apa tujuan Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan-Nya pada hari yang ketujuh dan menguduskan hari itu? Apakah Allah membutuhkan istirahat setelah mengeluarkan energi yang luar biasa untuk menghasilkan karya ciptaan yang begitu sangat baik (ayat 1:31)? Tentu jawabannya tidak!

Ada dua jawaban atas pertanyaan pertama. Pertama, Allah telah menyelesaikan semua karya penciptaan-Nya secara sempurna. Oleh karena itu, hari ketujuh adalah hari perayaan atas mahakarya itu. Dengan berhenti bekerja pada hari sabat (kata sabat berasal dari kata kerja syabat yang berarti berhenti), kita sedang ikut dalam perayaan sukacita bersama Allah dalam mengagumi dan menikmati keindahan dan kesempurnaan karya-Nya itu.

Kedua, dengan berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh, Allah menyediakan model pola keteraturan kerja bagi manusia. Hanya manusia yang diberi mandat dan tugas dari Allah untuk mengelola dunia ini. Manusia yang terdiri dari roh dan tubuh dengan sendirinya memiliki keterbatasan secara fisik. Ia tidak bisa bekerja terus menerus tanpa henti. Ia membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaganya. Jauh lebih penting dari itu, peraturan Sabat mengajar manusia bahwa hidup bukan untuk bekerja saja, tetapi juga untuk menikmati hasil kerja, seperti Allah juga menikmati karya-Nya yang sungguh amat baik itu.

Berhenti bekerja untuk beristirahat menunjukkan bahwa kita tidak diperbudak oleh kerja. Dosa membuat manusia diperbudak oleh banyak hal yang kelihatannya baik, tetapi menjerat dalam ketiadaan makna yang benar. Kerja bukan lagi dilihat sebagai bagian pengabdian kita pada Tuhan, tetapi sebagai pemuasan nafsu dan ketergantungan pada diri sendiri, bukan pada Allah. Dengan beristirahat, kita mengakui bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri melainkan milik Allah yang harus dipelihara dengan baik agar dapat digunakan Allah untuk maksud-maksud-Nya.

No comments: