Keluaran 18:1-12 (TB):
Mungkin di antara sanak saudara dan kerabat kita, ada yang tidak seiman dengan kita. Kita tentu memiliki kerinduan untuk membagikan Kabar Baik tentang Kristus kepada mereka. Namun bagaimana caranya?
Hari ini kita membaca bagaimana Musa memperlakukan mertuanya, yaitu Yitro, yang berkepercayaan lain. Saat Yitro datang mengunjungi Musa membawa serta istri Musa dan kedua anaknya, Musa menghormati Yitro dengan sujud di hadapannya (ayat 7). Padahal Musa saat itu adalah pemimpin bangsa. Sikap rendah hati seperti ini merupakan kesaksian yang baik. Kemudian Musa menceritakan kepada ayah mertuanya, mengenai segala sesuatu yang Tuhan sudah lakukan bagi mereka (ayat 8). Musa berkisah tentang bagaimana Tuhan menunjukkan kasih dan kuasa-Nya dalam menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Musa juga memberi kesaksian bahwa Tuhan sudah menolong dan memimpin mereka dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam per-jalanan di padang gurun. Kesaksian Musa berbuahkan pengakuan dari Yitro bahwa Tuhan Allah Israel lebih besar daripada segala allah (ayat 11). Bukan hanya pengakuan, tetapi Yitro bahkan ikut mempersembahkan kurban bakaran di hadapan Allah Israel, yang kemudian disantap bersama-sama dengan tetua Israel dan Harun (ayat 12). Artinya Yitro diterima di dalam persekutuan umat Tuhan.
Kunci kesaksian yang efektif adalah menceritakan apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita, yaitu pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan. Pengalaman hidup yang dimaksud tidak harus berupa pengalaman supra-natural atau mukjizat atau pengalaman yang luar biasa, tetapi bagaimana Tuhan memelihara dan membimbing kita setiap hari. Mukjizat yang terbesar adalah ketika Tuhan menyelamatkan jiwa kita dan bagaimana Dia mengubah karakter kita sedikit demi sedikit makin menyerupai Tuhan Yesus. Ketika kerabat melihat hidup kita yang berubah, Kristus pun dimuliakan dan mereka pun dimenangkan bagi Dia.
2. BERSAKSI TENTANG PERBUATAN TUHAN (Senin, 24 Juni 2013)
Orang Indonesia terkenal gemar bertukar cerita. Apa lagi jika seseorang baru melakukan perjalanan panjang, bahkan mencapai tempat-tempat yang jauh dan tak pernah dikunjungi kerabat dan kenalannya. Tentu saja, orang itu akan memilih cerita yang paling menarik perhatian. Makin seru dan aneh, makin bagus, walaupun belum tentu dirinya sendiri yang mengalaminya. Kepuasan tersendiri didapatkan ketika kerabat dan kenalan itu terpukau mendengar ceritanya.
Konteks Musa sedikit terbalik. Ia dan bangsa Israel sedang menempuh perjalanan jauh, tetapi Yitro, mertuanya, mendatangi dia beserta istri Musa dan kedua putranya (2-5). Saat bertemu, Musa menceritakan segala perbuatan Allah bagi Israel, mulai dari "segala sesuatu yang dilakukan Tuhan kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel, " dan juga segala kesusahan yang Israel alami dan "bagaimana Tuhan menyelamatkan mereka" (8). Setelah mendengar cerita itu, Yitro bersukacita (9) dan memuji Tuhan (10-11), lalu mempersembahkan korban bakaran dan sembelihan kepada Allah (12). Respons Yitro kontras dengan perbuatan Israel yang telah kita baca di dalam kisah sebelumnya. Yitro belum pernah melihat langsung perbuatan-perbuatan itu, hanya mendengar cerita Musa, tetapi ia memuji Allah karenanya. Bangsa Israel sudah berkali-kali melihat dan merasakan perbuatan ajaib Allah, tetapi masih saja menggerutu dan menunjukkan ketidakpercayaan.
Di dalam nas ini kita melihat teladan Musa, yang sigap menyampaikan kesaksian tentang perbuatan ajaib Allah. Sikap ini mesti kita contoh. Ada baiknya tiap perjumpaan dengan kerabat dan kenalan, kita isi dengan cerita-cerita yang menunjukkan anugerah penyertaan Allah di dalam hidup kita, dan bukan adu hebat cerita siapa yang paling menarik. Juga ada teladan dari Yitro. Meski tidak melihat langsung peristiwa yang disaksikan Musa, Yitro mengucap syukur kepada Allah. Kesiapan untuk bersyukur melihat anugerah penyertaan Allah pada orang lain merupakan bagian dari persekutuan kita dengan Allah dan sesama.
No comments:
Post a Comment