Keluaran 2:1-10 (TB):
WANITA DALAM RENCANA ALLAH. (Minggu, 4 Januari 2009)
Tidak terduga cara Allah bertindak dalam memelihara umat-Nya. "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?" (Yes. 40:13). Bagaimana Dia berkarya dalam perikop ini? Dengan memakai tiga wanita dalam kehidupan Musa.
Pertama, ibu kandungnya. Yokhebed (Kel. 6:19) hanyalah wanita biasa. Ia adalah ibu rumah tangga sebuah keluarga Ibrani, keturunan Lewi. Nenek moyang mereka, yaitu Lewi, putra Yakub, pernah dikutuk kehilangan hak waris karena sifat kejamnya (Kej. 49:5-7a). Namun melalui Yokhebed, Musa lahir. Lewat keberanian dan kecerdikan si ibu, tiga bulan lamanya Musa dilindungi di rumahnya dari rencana keji Firaun untuk menumpas bayi-bayi lelaki Ibrani. Dengan hikmat Tuhan, Yokhebed kemudian menyembunyikan bayi Musa dalam sebuah peti pandan di tepi Sungai Nil.
Kedua, kakak perempuan Musa. Anak remaja ini dengan berani dan setia menjaga sang adik yang disembunyikan di tepi sungai Nil itu. Tuhan memakai Miryam (Kel. 15:20) untuk menjadi penghubung bagi ibu Musa untuk menjadi inang pengasuh putranya sendiri, yang nantinya diangkat anak oleh putri Firaun. Ketiga, ibu angkat Musa, yaitu sang putri Firaun. Dalam kedaulatan Tuhan, putri Firaun jadi jatuh hati dan mengangkat Musa sebagai anak. Dalam hikmat Tuhan, Musa mendapatkan perlindungan-Nya justru di rumah sang musuh, yaitu Firaun.
Sama seperti Tuhan memakai tiga wanita tersebut untuk memelihara Musa, yang kelak akan menyelamatkan umat Israel, demikian Tuhan memakai Maria. Gadis perawan itu melahirkan bayi Yesus yang akan menyelamatkan umat manusia, sebagaimana kita rayakan dua minggu yang lalu. Baik Anda pria atau wanita, dari suku dan budaya bahkan bahasa apapun, berpendidikan tinggi atau rendah, status sosial tinggi atau rendah, Tuhan mau memakai Anda menjadi alat anugerah-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Maukah dan siapkah Anda untuk Tuhan pakai?
PERANAN ORANGTUA DALAM RENCANA ALLAH. (Jumat, 4 Mei 2013)
Orang tua adalah figur penting dalam keluarga, juga dalam rencana Allah bagi umat. Ini kita lihat dalam hidup Musa.
Ketika rencananya gagal, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki Israel dengan membuang mereka ke sungai Nil. Pada waktu itulah Musa lahir. Ibu Musa melihat anak itu baik dan sehat. Namun, Stefanus memberikan gambaran bahwa Musa itu elok di mata Allah (Kis. 7:20). Jelas ibu Musa tidak dapat menyerahkan anaknya kepada tentara Mesir. Lalu ia menyembunyikan Musa selama tiga bulan (2). Tampaknya masa itu dipakai si ibu untuk memikirkan cara menyelamatkan bayinya. Karena sesudah masa tiga bulan ia meletakkan bayinya dalam peti dan menghanyutkannya di sungai Nil. Tentu bukan kebetulan jika si bayi hanyut dengan melewati tempat puteri Firaun mandi. Bukan kebetulan pula jika sang putri memutuskan untuk memelihara bayi itu, meski ia memperkirakan bayi itu adalah bayi orang Israel. Tidak tersirat kekhawatiran mengenai perintah sang raja menyangkut bayi orang Israel.
Kakak Musa yang mengikuti "perjalanan" bayi Musa di sungai, langsung mendatangi putri Firaun dan menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Menurut Anda sebijak itukah kakak si bayi? Tentu ibu mereka pegang peranan dalam hal ini. Si ibu tidak mau kehilangan anak laki-lakinya sehingga ia mempersiapkan kakak si bayi untuk memantau si adik dan kemudian berbicara seperti itu kepada sang putri. Suatu strategi yang cemerlang!
Dari rangkaian peristiwa ini, kita melihat Allah yang memakai si ibu untuk menyelamatkan bayinya, bukan hanya demi hidup si bayi melainkan bagi kepentingan besar di masa mendatang. Dan Allah memberikan kehormatan kepada orang tua Musa untuk mempersiapkan anaknya dalam menggenapi rencana Allah. Sejalan dengan itu, tentu ada tanggung jawab besar dalam mendidik anak untuk memahami rencana Tuhan bagi diri mereka. Maka orang tua harus melihat pentingnya peran yang diberikan Tuhan kepada mereka. Peran itu harus dijalankan dengan serius, peka terhadap tuntunan Tuhan, serta dengan mengandalkan kekuatan yang dari Tuhan.
Tidak terduga cara Allah bertindak dalam memelihara umat-Nya. "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?" (Yes. 40:13). Bagaimana Dia berkarya dalam perikop ini? Dengan memakai tiga wanita dalam kehidupan Musa.
Pertama, ibu kandungnya. Yokhebed (Kel. 6:19) hanyalah wanita biasa. Ia adalah ibu rumah tangga sebuah keluarga Ibrani, keturunan Lewi. Nenek moyang mereka, yaitu Lewi, putra Yakub, pernah dikutuk kehilangan hak waris karena sifat kejamnya (Kej. 49:5-7a). Namun melalui Yokhebed, Musa lahir. Lewat keberanian dan kecerdikan si ibu, tiga bulan lamanya Musa dilindungi di rumahnya dari rencana keji Firaun untuk menumpas bayi-bayi lelaki Ibrani. Dengan hikmat Tuhan, Yokhebed kemudian menyembunyikan bayi Musa dalam sebuah peti pandan di tepi Sungai Nil.
Kedua, kakak perempuan Musa. Anak remaja ini dengan berani dan setia menjaga sang adik yang disembunyikan di tepi sungai Nil itu. Tuhan memakai Miryam (Kel. 15:20) untuk menjadi penghubung bagi ibu Musa untuk menjadi inang pengasuh putranya sendiri, yang nantinya diangkat anak oleh putri Firaun. Ketiga, ibu angkat Musa, yaitu sang putri Firaun. Dalam kedaulatan Tuhan, putri Firaun jadi jatuh hati dan mengangkat Musa sebagai anak. Dalam hikmat Tuhan, Musa mendapatkan perlindungan-Nya justru di rumah sang musuh, yaitu Firaun.
Sama seperti Tuhan memakai tiga wanita tersebut untuk memelihara Musa, yang kelak akan menyelamatkan umat Israel, demikian Tuhan memakai Maria. Gadis perawan itu melahirkan bayi Yesus yang akan menyelamatkan umat manusia, sebagaimana kita rayakan dua minggu yang lalu. Baik Anda pria atau wanita, dari suku dan budaya bahkan bahasa apapun, berpendidikan tinggi atau rendah, status sosial tinggi atau rendah, Tuhan mau memakai Anda menjadi alat anugerah-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Maukah dan siapkah Anda untuk Tuhan pakai?
PERANAN ORANGTUA DALAM RENCANA ALLAH. (Jumat, 4 Mei 2013)
Orang tua adalah figur penting dalam keluarga, juga dalam rencana Allah bagi umat. Ini kita lihat dalam hidup Musa.
Ketika rencananya gagal, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki Israel dengan membuang mereka ke sungai Nil. Pada waktu itulah Musa lahir. Ibu Musa melihat anak itu baik dan sehat. Namun, Stefanus memberikan gambaran bahwa Musa itu elok di mata Allah (Kis. 7:20). Jelas ibu Musa tidak dapat menyerahkan anaknya kepada tentara Mesir. Lalu ia menyembunyikan Musa selama tiga bulan (2). Tampaknya masa itu dipakai si ibu untuk memikirkan cara menyelamatkan bayinya. Karena sesudah masa tiga bulan ia meletakkan bayinya dalam peti dan menghanyutkannya di sungai Nil. Tentu bukan kebetulan jika si bayi hanyut dengan melewati tempat puteri Firaun mandi. Bukan kebetulan pula jika sang putri memutuskan untuk memelihara bayi itu, meski ia memperkirakan bayi itu adalah bayi orang Israel. Tidak tersirat kekhawatiran mengenai perintah sang raja menyangkut bayi orang Israel.
Kakak Musa yang mengikuti "perjalanan" bayi Musa di sungai, langsung mendatangi putri Firaun dan menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Menurut Anda sebijak itukah kakak si bayi? Tentu ibu mereka pegang peranan dalam hal ini. Si ibu tidak mau kehilangan anak laki-lakinya sehingga ia mempersiapkan kakak si bayi untuk memantau si adik dan kemudian berbicara seperti itu kepada sang putri. Suatu strategi yang cemerlang!
Dari rangkaian peristiwa ini, kita melihat Allah yang memakai si ibu untuk menyelamatkan bayinya, bukan hanya demi hidup si bayi melainkan bagi kepentingan besar di masa mendatang. Dan Allah memberikan kehormatan kepada orang tua Musa untuk mempersiapkan anaknya dalam menggenapi rencana Allah. Sejalan dengan itu, tentu ada tanggung jawab besar dalam mendidik anak untuk memahami rencana Tuhan bagi diri mereka. Maka orang tua harus melihat pentingnya peran yang diberikan Tuhan kepada mereka. Peran itu harus dijalankan dengan serius, peka terhadap tuntunan Tuhan, serta dengan mengandalkan kekuatan yang dari Tuhan.
No comments:
Post a Comment