Kejadian 13:1-18 (TB):
ARIF, BUKAN NAIF (Rabu, 28 April 2004)
Ketika timbul permasalahan lahan penggembalaan antara gembala-gembala Lot dan Abram, Abram sekali lagi membuat kalkulasi pribadi. Dia seorang yang lembut, tidak mau membuat masalah. Oleh karena itu ia mempersilakan Lot memilih lahan mana yang akan menjadi tempat Lot menetap dan menggembalakan domba-dombanya. Sebenarnya, tanah Kanaan adalah lahan dari Allah untuk Abram dan keturunannya, bukan untuk Lot! Apa yang akan terjadi kalau Lot memilih wilayah Barat, yaitu Kanaan itu sendiri. Tentu sesuai dengan janji Abram, ia harus menyingkir ke Timur dan itu berarti sekali lagi meninggalkan Kanaan. Kali ini akan permanen (dibandingkan ketika turun ke Mesir, hanya untuk sementara, lih. 12:10 'tinggal di situ sebagai orang asing'). Sebenarnya tindakan Abram itu terlalu naif. Naif terhadap maksud TUHAN bagi dirinya. Seha-rusnya Abram menetapkan untuk tetap bertahan di tanah Kanaan dan mempersilakan Lot berpindah ke Timur. Syukurlah, hal ini terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena kedaulatan TUHAN-lah Lot memilih berpindah ke Timur!
PILIHAN TEPAT DI TENGAH KONFLIK (Jumat, 13 Mei 2011)
Setiap orang pasti pernah mengalami konflik, tetapi belum tentu dapat mengambil keputusan yang baik ketika konflik itu datang. Robert Schuller berkata "Kita adalah makhluk pilihan; kita mempunyai kemampuan untuk memilih, bagaimana cara kita bereaksi terhadap keadaan apa saja".
Abram berpegang kepada janji Allah dan bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Namun seiring berjalannya waktu, kepercayaan itu diuji. Pertama, dengan adanya kelaparan di negeri Kanaan (Kej. 12:10-20). Kedua, perselisihan dengan keponakannya sendiri, Lot. Ia harus menghadapi konflik di mana mereka harus berbagi tempat satu sama lain. Dari sini kita melihat bahwa yang namanya masalah akan selalu ada, tetapi hal yang penting adalah bagaimana kita merespons masalah itu.
Abram tidak mengulangi kesalahan seperti yang di lakukan di Mesir. Ketika terjadi perkelahian antara gembalanya dan gembala Lot, Abram berinisiatif untuk menyelesaikan konflik itu dengan damai. Ia mempersilakan Lot untuk memilih tempat terlebih dahulu, meskipun ia pamannya dan berdasarkan usia, tentu Abram lebih tua. Namun ini berbeda dengan Lot. Bagi Lot, kesempatan memilih lebih dahulu menjadi kesempatan untuk mendapatkan apa yang terbaik. Lot memilih tempat yang menurut dia terbaik tanpa mempertimbangkan lingkungan di sekitarnya. Padahal orang-orang yang tinggal di Sodom dan Gomora adalah orang yang jahat dan berdosa (13). Namun Allah tidak lupa akan janji-Nya kepada Abram. Karena situasi dan kondisi apa pun tidak akan menghalangi Tuhan untuk menggenapi janji-Nya.
Berada di tengah konflik dengan orang lain, memang tidak gampang. Kita akan mudah terdorong untuk mendahulukan kepentingan diri kita sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Namun marilah kita mengingat pesan Paulus kepada jemaat Filipi "..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Flp 2:3-4)
Biasanya kisah Abram dan Lot ini dijadikan cerita moral mengenai bagaimana Abram adalah seorang paman yang baik, sebaliknya Lot seorang keponakan yang serakah. Tetapi coba kita lihat dari sisi rencana Allah bagi dan melalui Abram.
Ketika timbul permasalahan lahan penggembalaan antara gembala-gembala Lot dan Abram, Abram sekali lagi membuat kalkulasi pribadi. Dia seorang yang lembut, tidak mau membuat masalah. Oleh karena itu ia mempersilakan Lot memilih lahan mana yang akan menjadi tempat Lot menetap dan menggembalakan domba-dombanya. Sebenarnya, tanah Kanaan adalah lahan dari Allah untuk Abram dan keturunannya, bukan untuk Lot! Apa yang akan terjadi kalau Lot memilih wilayah Barat, yaitu Kanaan itu sendiri. Tentu sesuai dengan janji Abram, ia harus menyingkir ke Timur dan itu berarti sekali lagi meninggalkan Kanaan. Kali ini akan permanen (dibandingkan ketika turun ke Mesir, hanya untuk sementara, lih. 12:10 'tinggal di situ sebagai orang asing'). Sebenarnya tindakan Abram itu terlalu naif. Naif terhadap maksud TUHAN bagi dirinya. Seha-rusnya Abram menetapkan untuk tetap bertahan di tanah Kanaan dan mempersilakan Lot berpindah ke Timur. Syukurlah, hal ini terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena kedaulatan TUHAN-lah Lot memilih berpindah ke Timur!
Kita perlu lebih peka akan pimpinan Tuhan dalam hidup kita. Jangan sampai kenaifan kita justru menimbulkan masalah. Alih-alih mau beramah-ramah dengan orang lain, justru nama Tuhan diinjak-injak. Saya terkesan dengan keberanian yang arif seorang hamba Tuhan ketika seorang menghina Tuhan Yesus. Hamba Tuhan itu berkata kepada orang tersebut,"Agama dan kitab sucimu menaruh hormat kepada Tuhan Yesus saya, paling tidak sebagai nabi Allah. Siapakah kamu, berani menghujat yang dihormati oleh Allahmu?"
Untuk dilakukan: Kasih bukan berarti mandah diinjak-injak. Ketika nama Tuhan dihujat, kita harus berani membela dengan arif!
PILIHAN TEPAT DI TENGAH KONFLIK (Jumat, 13 Mei 2011)
Setiap orang pasti pernah mengalami konflik, tetapi belum tentu dapat mengambil keputusan yang baik ketika konflik itu datang. Robert Schuller berkata "Kita adalah makhluk pilihan; kita mempunyai kemampuan untuk memilih, bagaimana cara kita bereaksi terhadap keadaan apa saja".
Abram berpegang kepada janji Allah dan bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Namun seiring berjalannya waktu, kepercayaan itu diuji. Pertama, dengan adanya kelaparan di negeri Kanaan (Kej. 12:10-20). Kedua, perselisihan dengan keponakannya sendiri, Lot. Ia harus menghadapi konflik di mana mereka harus berbagi tempat satu sama lain. Dari sini kita melihat bahwa yang namanya masalah akan selalu ada, tetapi hal yang penting adalah bagaimana kita merespons masalah itu.
Abram tidak mengulangi kesalahan seperti yang di lakukan di Mesir. Ketika terjadi perkelahian antara gembalanya dan gembala Lot, Abram berinisiatif untuk menyelesaikan konflik itu dengan damai. Ia mempersilakan Lot untuk memilih tempat terlebih dahulu, meskipun ia pamannya dan berdasarkan usia, tentu Abram lebih tua. Namun ini berbeda dengan Lot. Bagi Lot, kesempatan memilih lebih dahulu menjadi kesempatan untuk mendapatkan apa yang terbaik. Lot memilih tempat yang menurut dia terbaik tanpa mempertimbangkan lingkungan di sekitarnya. Padahal orang-orang yang tinggal di Sodom dan Gomora adalah orang yang jahat dan berdosa (13). Namun Allah tidak lupa akan janji-Nya kepada Abram. Karena situasi dan kondisi apa pun tidak akan menghalangi Tuhan untuk menggenapi janji-Nya.
Berada di tengah konflik dengan orang lain, memang tidak gampang. Kita akan mudah terdorong untuk mendahulukan kepentingan diri kita sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Namun marilah kita mengingat pesan Paulus kepada jemaat Filipi "..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Flp 2:3-4)
No comments:
Post a Comment