Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 12:14-20 (MHC)

Kejadian 12:14-20 (TB):
14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik,
15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.
16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.
17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.
18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu?
19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!"
20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.
ABRAM MENYANGKAL ISTRINYA

Inilah,
I. Bahaya yang mengancam Sarai karena membiarkan kemurniannya direnggut oleh raja Mesir. Tidak diragukan lagi bahwa bahaya dosa adalah bahaya terbesar yang dapat mengancam kita. Punggawa-punggawa Firaun (atau lebih tepatnya mucikari-mucikarinya) melihat Sarai, dan, dengan mengamati betapa ia adalah wanita yang elok, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, bukan atas apa yang benar-benar merupakan pujian baginya – kebajikan dan kebersahajaannya, iman dan kesalehannya (semua ini bukanlah keutamaan-keutamaan di mata mereka), melainkan atas kecantikannya, yang mereka anggap terlalu indah untuk jatuh ke dalam pelukan seorang hamba. Mereka menyarankannya kepada raja, dan sekarang ia dibawa masuk ke dalam rumah Firaun, seperti Ester dibawa masuk ke dalam istana Ahasyweros (Est. 2:8), untuk diajak ke tempat tidurnya.
Nah, kita tidak boleh melihat Sarai sebagai orang yang mendapat kesempatan emas untuk naik kedudukan, melainkan sebagai orang yang masuk ke dalam pencobaan. Dan yang menyebabkan hal itu adalah kecantikannya sendiri (yang menjadi jerat bagi banyak orang) dan kebohongan Abram, suatu dosa yang biasanya menjadi jalan masuk bagi dosa yang lebih besar. Selama Sarai sedang berada dalam bahaya ini, Abram mendapat perlakuan yang lebih baik oleh karena dia. Firaun memberi dia kambing domba, lembu sapi, dan sebagainya (ay. 16), untuk mendapat hatinya, supaya Firaun bisa berhasil dengan lebih mudah untuk mendapatkan Sarai, yang dikiranya sebagai adik Abram. Kita tidak bisa berpikir bahwa Abram sudah menduga hal ini akan terjadi ketika ia turun ke Mesir, apalagi sampai mengharapkan untuk menyangkal istrinya. Tetapi Allah mendatangkan kebaikan dari keburukan. Dan dengan demikian kekayaan orang-orang berdosa ternyata, dalam satu atau lain cara, ditumpuk bagi orang benar.

II. Dibebaskannya Sarai dari bahaya ini. Dengan kehendak-Nya sendiri Allah berulang kali membebaskan kita dari segala kesesakan dan kesusahan yang kita datangkan karena dosa dan kebodohan kita sendiri. Kalau Dia tidak melakukan ini, kita sudah binasa segera, bahkan sudah lama binasa. Kita tidak bisa mengharapkan Allah untuk berjanji melakukan penyelamatan seperti ini kepada kita. Ia tidak memperlakukan kita seperti yang sepantasnya sudah harus kita dapatkan.

1. Allah menghajar Firaun, dan dengan demikian mencegah dia melakukan dosa selanjutnya. Perhatikanlah, sungguh membahagiakan penghajaran-penghajaran yang mencegah kita di jalan dosa, dan yang secara berhasil membawa kita pada kewajiban kita, dan secara khusus pada kewajiban untuk mengembalikan apa yang sudah kita ambil dan pertahankan dengan salah. Amatilah, bukan Firaun saja, melainkan juga seisi istananya tertimpa tulah, mungkin terutama punggawa-punggawa yang sudah menyarankan Sarai kepada Firaun. Perhatikanlah, kawan dalam dosa sudah sewajarnya dijadikan kawan dalam hukuman. Orang yang melayani hawa nafsu orang lain harus bersiap-siap akan berbagi dalam tulah mereka. Kita tidak diberi tahu secara khusus tulah-tulah apa ini. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa ada sesuatu di dalam tulah-tulah itu sendiri, atau suatu penjelasan yang ditambahkan padanya, yang cukup untuk meyakinkan mereka bahwa karena Sarailah mereka ditimpa tulah seperti itu.
2. Firaun menegur Abram, dan kemudian menyuruhnya pergi dengan hormat.

(1) Teguran itu tenang, tetapi sangat adil: Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Sungguh suatu hal yang tak pantas! Sungguh tidak patut dilakukan oleh orang yang bijak dan baik! Perhatikanlah, jika orang-orang yang mengaku beragama melakukan apa yang tidak baik dan tidak jujur, terutama apabila mereka mengatakan sesuatu yang sudah masuk di dalam wilayah dusta, maka mereka harus sadar bahwa dusta mereka itu akan ketahuan, dan berterima kasih kepada orang-orang yang mau memberitahukannya kepada mereka. Kita mendapati seorang nabi Tuhan pantas ditegur dan dimarahi oleh seorang nakhoda kafir (Yun. 1:6). Firaun berbantah dengannya: Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu?, yang menunjukkan bahwa, seandainya ia sudah mengetahui hal ini, ia tidak akan membawa Sarai ke dalam istananya. Perhatikanlah, adalah suatu kesalahan yang begitu sering dilakukan oleh orang-orang baik bahwa mereka selalu curiga terhadap orang lain melebihi yang sebenarnya. Sering kali kita mendapati lebih banyak kebajikan, kehormatan, dan hati nurani pada sebagian orang daripada yang kita duga. Jadi seharusnya kita bergembira ketika kita menjadi kecewa, seperti Abram yang mendapati bahwa Firaun itu ternyata seorang yang baik melebihi sangkaannya. Kemurahan hati mengajar kita untuk mengharapkan yang terbaik.

(2) Perintah Firaun agar Abram pergi sungguh baik dan sangat murah hati. Ia mengembalikan istrinya kepada dia tanpa melakukan sesuatu yang menghina kehormatannya: Inilah isterimu, ambillah (ay. 19). Perhatikanlah, orang-orang yang ingin mencegah dosa harus menyingkirkan godaannya, atau menjauhkan diri darinya. Firaun juga menyuruh Abram pergi dengan damai, dan sama sekali tidak mempunyai rancangan untuk membunuhnya, seperti yang dikhawatirkan Abram, tetapi sebaliknya justru memedulikannya secara khusus. Perhatikanlah, kita sering kali membingungkan dan menjerat diri kita sendiri dengan ketakutan-ketakutan yang akan segera terlihat tidak berdasar sama sekali. Kita sering kali takut pada saat kita tidak perlu takut. Kita terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan, padahal sebenarnya tidak ada bahaya (Yes. 51:13). Abram akan lebih mendapat pujian dan penghiburan jika ia mengatakan yang sebenarnya pada awalnya. Sebab, bagaimanapun juga, kejujuran adalah jalan yang paling aman. Bahkan, dikatakan (ay. 20), Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, yakni,

[1] Ia menyuruh mereka untuk tidak menyakiti Abram sedikit pun. Perhatikanlah, tidak cukup bagi orang-orang yang berkuasa untuk tidak menyakiti, tetapi mereka juga harus mencegah hamba-hamba mereka, dan orang-orang di sekeliling mereka, untuk menyakiti. Atau,
[2] Firaun menunjuk mereka sebagai pengawal, ketika Abram bersiap-siap kembali pulang, setelah kelaparan itu, untuk mengantarnya ke luar dari negeri itu dengan aman. Ada kemungkinan ia menjadi ketakutan karena tulah-tulah itu (ay. 17), dan menyimpulkan darinya bahwa Abram adalah orang kesayangan Sorga, dan oleh sebab itu, karena takut tulah-tulah itu akan datang kembali, ia memastikan secara khusus agar Abram tidak mendapat luka sedikit pun di negerinya. 

Perhatikanlah, Allah sering kali membangkitkan sahabat-sahabat bagi umat-Nya, dengan membuat orang-orang tahu bahwa merekalah yang akan terancam bahaya jika mereka menyakiti umat-Nya. Sungguh berbahaya jika kita menyakiti anak-anak kecil milik Kristus (Mat. 18:6). Kepada bacaan inilah, selain bacaan-bacaan lain, sang pemazmur merujuk mazmurnya (Mzm. 105:13-15), raja-raja dihukum-Nya oleh karena mereka: “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi!” Mungkin jika Firaun tidak menyuruhnya pergi, ia akan tergoda untuk tinggal di Mesir dan melupakan tanah perjanjian. Perhatikanlah, kadang-kadang Allah memanfaatkan musuh-musuh umat-Nya untuk menginsafkan mereka, dan mengingatkan mereka, bahwa dunia ini bukanlah tempat peristirahatan bagi mereka, tetapi bahwa mereka harus berpikir untuk meninggalkannya.

Yang terakhir, amatilah kemiripan antara pembebasan Abram dari Mesir ini dan pembebasan keturunannya dari sana: 430 tahun sesudah Abram pergi ke Mesir karena kelaparan, mereka pergi ke sana karena kelaparan juga. Ia dibawa keluar dengan tulah-tulah yang menimpa Firaun, demikian pula dengan mereka. Sama seperti Abram disuruh pergi oleh Firaun, dan diperkaya dengan jarahan dari orang-orang Mesir, demikian pula dengan mereka. Sebab pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya adalah sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya

No comments: