Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 12:1-3 (MHC)

Kejadian 12:1-3 (TB):
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
PANGGILAN TERHADAP ABRAM

Garis keturunan dan keluarga Abram kita dapati dalam pasal sebelumnya. Di sini Roh Kudus masuk ke dalam kisah Abram, dan mulai sekarang Abram serta keturunannya menjadi hampir satu-satunya pelaku dalam sejarah suci. Dalam pasal ini diceritakan tentang,

I. Panggilan Allah terhadap Abram untuk pergi ke tanah Kanaan (ay. 1-3).
II. Ketaatan Abram terhadap panggilan ini (ay. 4-5).
III. Kedatangannya di tanah Kanaan (ay. 6-9).
IV. Perjalanannya ke Mesir, disertai dengan cerita tentang apa yang terjadi dengan dia di sana. Kepergian Abram dan kesalahan yang diperbuatnya (ay. 10-13). Bahaya yang menimpa Sarai dan pembebasannya (ay. 14-20).

Panggilan terhadap Abram (Kejadian 12:1-3)

Di sini kita mendapati panggilan yang melaluinya Abram dipindahkan dari tanah kelahirannya ke tanah perjanjian. Hal ini dirancang baik untuk menguji iman dan ketaatannya maupun untuk memisahkan dan mengkhususkan dia bagi Allah. Juga, untuk pelayanan-pelayanan dan kebaikan-kebaikan khusus yang dirancang untuk masa selanjutnya. Keadaan-keadaan di seputar panggilan in bisa kita ketahui sedikit banyak berdasarkan perkataan Stefanus (Kis. 7:2), yang di dalamnya kita diberi tahu,

1. Bahwa Allah yang mahamulia menampakkan diri kepadanya untuk memberinya panggilan ini. Dia menampakkan diri dalam rupa kemuliaan-Nya yang begitu rupa sehingga tidak meninggalkan ruang bagi Abram untuk meragukan adanya wewenang ilahi dalam panggilan ini. Setelah itu Allah berbicara kepadanya dengan pelbagai cara. Tetapi untuk kali pertama ini, ketika hubungan-Nya dengan Abram akan ditetapkan, Ia menampakkan diri kepadanya sebagai Allah yang Mahamulia, dan berbicara kepadanya.

2. Bahwa panggilan ini diberikan kepadanya di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran. Oleh sebab itu, benarlah jika kita membacanya, TUHAN sudah berfirman kepada Abram, yaitu di UrKasdim. Dan, dalam ketaatan terhadap panggilan ini, seperti yang diungkapkan lebih lanjut oleh Stefanus (Kis. 7:4), keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran, sekitar lima tahun, dan dari sana, setelah ayahnya meninggal, melalui perintah baru, yang sesuai dengan perintah sebelumnya, Allah memindahkan dia ke tanah Kanaan. Menurut sebagian orang, Haran terletak di Kasdim, dan dengan demikian masih merupakan bagian dari negeri asal Abram, atau bahwa Abram, setelah tinggal di sana selama lima tahun, mulai menyebutnya sebagai negerinya, dan sudah merasa betah di sana, sampai Allah memberi tahu dia bahwa ini bukanlah tempat yang dimaksudkan-Nya bagi dia. Perhatikanlah, jika Allah mengasihi kita, dan menyediakan belas kasihan-Nya bagi kita, maka Ia tidak akan membiarkan kita menjadikan negeri mana saja sebagai tempat peristirahatan kita apabila negeri itu tidak lebih baik dari Kanaan. Tetapi Ia dengan penuh rahmat akan mengulangi kembali panggilan ini, sampai pekerjaan baik yang sudah dimulai dilaksanakan, dan jiwa kita berdiam hanya di dalam Allah. Dalam panggilan itu sendiri kita mendapati sebuah perintah dan sebuah janji.

I. Sebuah perintah yang menguji: Pergilah dari negerimu (ay. 1). Sekarang,

1. Dengan perintah ini ia diuji apakah ia mencintai tanah kelahirannya dan teman-teman terkasihnya, dan apakah ia bisa meninggalkan semuanya dengan rela, untuk pergi mengikuti Allah. Negerinya sudah jatuh ke dalam penyembahan berhala, sanak saudara dan rumah bapaknya senantiasa menjadi godaan baginya, dan ia tidak bisa terus berada bersama mereka tanpa terhindar dari bahaya akan tertular oleh mereka. Oleh sebab itu, keluarlah kamu, lk-lk Vade tibi, pergilah kamu, cepat-cepat, larilah demi nyawamu, dan janganlah menoleh ke belakang (19:17). Perhatikanlah, orang-orang yang berada dalam keadaan dosa perlu cepat-cepat keluar darinya dengan segera. Keluarlah demi dirimu sendiri (begitu sebagian orang membacanya), maksudnya, demi kebaikanmu sendiri. Perhatikanlah, orang-orang yang meninggalkan dosa-dosa mereka, dan berbalik kepada Allah, akan dengan sendirinya mendapat keuntungan yang tak terkira dari perubahan itu (Ams. 19:12). Perintah yang diberikan Allah kepada Abram ini amat serupa dengan panggilan Injil yang melaluinya semua keturunan rohani dari Abram yang beriman dibawa masuk ke dalam kovenan dengan Allah. Sebab,

(1) Kasih sayang alami harus memberi jalan pada anugerah ilahi. Bangsa kita tentu saja kita sayangi, sanak saudara kita lebih kita sayangi lagi, dan rumah bapak kita paling kita sayangi dari semuanya. Walaupun demikian, semuanya itu harus dibenci (Luk. 14:26), maksudnya, kita tidak boleh mengasihi mereka lebih daripada Kristus. Kita harus membenci mereka demi Dia, dan, bilamana siapa saja dari mereka ini bersaing dengan Kristus, mereka harus dikesampingkan, dan yang lebih diutamakan adalah kehendak dan kehormatan Tuhan Yesus.
(2) Dosa, dan semua kesempatan yang menimbulkannya, haruslah ditinggalkan, dan khususnya pergaulan yang buruk. Kita harus mencampakkan semua berhala pelanggaran yang telah terpancang di dalam hati kita, dan menjauh dari jalan godaan, bahkan mencungkil mata yang kanan yang membawa kita pada dosa (Mat. 5:29). Kita harus rela berpisah dari apa yang paling kita sayangi, apabila kita tidak dapat mempertahankannya tanpa membahayakan kelurusan hidup kita. Orang-orang yang bertekad menjalankan perintah-perintah Allah haruslah meninggalkan pergaulan dengan para pembuat kejahatan (Mzm. 119:115; Kis. 2:40).
(3) Dunia, dan segala kenikmatan kita di dalamnya, haruslah kita pandang hina dan anggap remeh dengan hati kudus. Kita tidak boleh lagi memandangnya sebagai negeri kita, atau rumah kita, melainkan sebagai tempat penginapan saja, dan karena itu tidak boleh melekat padanya dan hidup tidak terikat olehnya, bebas dari rasa sayang terhadapnya.

2. Dengan perintah ini ia diuji apakah ia dapat mempercayai Allah lebih jauh daripada yang dilihatnya. Sebab ia harus meninggalkan negerinya sendiri, untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya. Allah tidak berkata, “ Itu adalah sebuah negeri yang akan Kuberikan kepadamu,” melainkan hanya, “sebuah negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Tidak pula Allah memberi tahu dia negeri apa itu, atau seperti negeri itu. Ia hanya harus mengikuti Allah dengan iman semata, dan percaya saja pada apa yang dikatakan Allah dalam hal ini, secara umum, meskipun ia tidak diberi jaminan khusus bahwa ia tidak akan rugi dengan meninggalkan negerinya untuk mengikuti Allah. Perhatikanlah, orang-orang yang ingin berurusan dengan Allah harus berurusan dengan mengandalkan kepercayaan. Kita harus meninggalkan apa yang kelihatan demi apa yang tidak kelihatan, dan menerima penderitaan-penderitaan zaman sekarang ini dengan berharap akan menerima kemuliaan yang masih akan dinyatakan (Rm. 8:18). Sebab, belum nyata apa keadaan kita kelak (1Yoh. 3:2), sama seperti belum nyata bagi Abram, ketika Allah memanggilnya untuk pergi ke sebuah negeri yang akan ditunjukkan-Nya kepadanya. Dengan cara ini Abram diajar untuk hidup dengan terus bergantung pada petunjuk-Nya, dan dengan mata yang senantiasa tertuju pada-Nya.

II. Inilah janji yang membesarkan hati, bahkan, ini adalah perpaduan dari janji-janji, dari banyak janji, janji-janji yang amat besar dan berharga. Perhatikanlah, semua perintah Allah disertai dengan janji-janji bagi mereka yang taat. Ia menyatakan diri-Nya juga sebagai Pemberi imbalan: jika kita menuruti perintah-Nya, Allah tidak akan ingkar untuk menepati janji-Nya. Di sini ada enam janji:

1. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar. Ketika Allah mengambilnya dari bangsanya sendiri, Ia berjanji akan menjadikannya pemimpin bangsa lain. Ia memotongnya supaya tidak menjadi ranting pohon zaitun yang liar, supaya ia menjadi akar pohon zaitun yang baik. Janji ini merupakan,

(1) Suatu kelegaan besar bagi beban Abram. Sebab, pada saat ini ia tidak mempunyai anak. Perhatikanlah, Allah tahu bagaimana menyesuaikan kebaikan-kebaikan-Nya dengan apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya. Dia yang mempunyai perban untuk setiap luka akan menyediakan satu perban untuk luka pertama yang paling menyakitkan itu.
(2) Suatu ujian besar bagi iman Abram. Sebab, istrinya sudah lama mandul, sehingga, jika ia percaya, ia harus percaya meskipun tidak ada harapan, dan imannya harus dibangun hanya berdasarkan kuasa yang dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu, dan menjadikan mereka sebagai sebuah bangsa yang besar. Perhatikanlah,

[1] Allah menjadikan bangsa-bangsa: oleh Dia mereka dilahirkan dalam satu kali (Yes. 66:8), dan Ia berkata, untuk membangun dan menanam mereka (Yer. 18:9). Dan,
[2] Jika sebuah bangsa dijadikan besar dalam kekayaan dan kekuasaan, Allah-lah yang menjadikannya besar.
[3] Allah dapat membangkitkan bangsa-bangsa yang besar dari tanah gersang, dan dapat membuat yang paling kecil menjadi kaum yang besar.

2. Aku akan memberkati engkau, secara khusus dengan berkat untuk beranak cucu dan bertambah banyak, sebagaimana Ia telah memberkati Adam dan Nuh, maupun secara umum, “Aku akan memberkati engkau dengan segala macam berkat, baik dari sumber-sumber di atas maupun sumber-sumber di bawah. Tinggalkanlah rumah bapakmu, maka Aku akan memberimu berkat sebagai bapa, yang lebih baik daripada berkat bapa-bapa leluhurmu.” Perhatikanlah, orang-orang percaya yang taat pasti akan mewarisi berkat.

3. Aku akan membuat namamu masyhur. Dengan meninggalkan negerinya, ia kehilangan namanya di sana. “Jangan khawatirkan itu,” firman Allah, “tetapi percayalah kepada-Ku, maka Aku akan menjadikan namamu lebih besar daripada yang dapat engkau miliki di sana.” Karena tidak mempunyai anak, ia takut kalau-kalau ia tidak akan meninggalkan nama. Tetapi Allah akan menjadikannya bangsa yang besar, dan dengan demikian membuat namanya besar. Perhatikanlah,

(1) Allah adalah sumber kehormatan, dan dari Dialah datang kemajuan hidup (1Sam. 2:8).
(2) Nama orang-orang percaya yang taat pasti akan dikenang dan dijadikan besar. Kesaksian terbaik adalah kesaksian yang diperoleh bapa-bapa leluhur dengan iman (Ibr. 11:2).

4. Engkau akan menjadi berkat. Yakni,

(1) “Kebahagiaanmu akan menjadi teladan kebahagiaan, sehingga jika orang-orang mau memberkati sahabat-sahabat mereka, mereka akan berdoa agar Allah mau menjadikan mereka seperti Abram,” seperti dalam Rut 4:11. Perhatikanlah, cara-cara Allah berurusan dengan orang-orang percaya yang taat begitu baik dan penuh rahmat sehingga kita tidak perlu menginginkan yang lebih baik lagi bagi kita atau teman-teman kita. Jika Allah adalah Teman kita, itu sudah merupakan berkat yang cukup.
(2) “Hidupmu akan menjadi berkat bagi tempat-tempat di mana engkau akan tinggal sebagai orang asing.” Perhatikanlah, orang-orang baik adalah berkat bagi bangsa mereka, dan merupakan kehormatan serta kebahagiaan mereka yang tak terucapkan bahwa mereka dijadikan demikian.

5. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Pernyataan ini membuat Allah dan Abram seperti membentuk semacam tim, baik untuk menyerang maupun bertahan. Abram dengan sepenuh hati mendukung kepentingan Allah, dan di sini Allah berjanji untuk melibatkan diri-Nya dalam kepentingannya.

(1) Ia berjanji akan menjadi Teman bagi teman-temannya, akan menerima kebaikan yang ditunjukkan kepadanya sebagai kebaikan yang diperbuat bagi diri-Nya sendiri, dan membalas mereka sesuai dengan itu. Allah akan memastikan agar tak seorang pun rugi pada akhirnya, karena suatu pelayanan yang dilakukan bagi umat-Nya. Bahkan secangkir air dingin sekalipun akan diberi imbalan.
(2) Ia berjanji akan bangkit melawan musuh-musuhnya. Ada orang-orang yang bahkan membenci dan mengutuk Abram sendiri. Tetapi, sementara kutuk-kutuk mereka yang tak beralasan tidak dapat menyakiti Abram, kutuk Allah yang benar pasti akan mengalahkan dan menghancurkan mereka (Bil. 24:9). Ini merupakan alasan yang baik mengapa kita harus memberkati orang-orang yang mengutuk kita, sebab sudah cukup bahwa Allah akan mengutuk mereka (Mzm. 38:14-16).

6. Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Ini merupakan janji yang memahkotai semua janji lainnya. Sebab janji itu menunjuk pada Mesias, yang di dalam Dia semua janji adalah “ya” dan “Amin.”. Perhatikanlah,

(1) Yesus Kristus adalah berkat yang besar bagi dunia, berkat terbesar yang dengannya dunia pernah diberkati. Ia menjadi berkat bagi keluarga, dan oleh-Nya keselamatan dibawa ke dalam rumah (Luk. 19:9). Apabila kita menghitung-hitung segala berkat bagi keluarga kita, hendaklah kita menempatkan Kristus imprimis – di tempat pertama, sebagai berkat dari segala berkat. Tetapi bagaimanakah semua kaum di bumi diberkati di dalam Kristus, sementara begitu banyak orang masih menjadi orang-orang asing bagi-Nya? Jawabannya,

[1] Semua orang yang diberkati berarti diberkati di dalam Dia (Kis. 4:12).
[2] Semua orang yang percaya, dari kaum apa pun mereka berasal, akan diberkati di dalam Dia.
[3] Sebagian dari semua kaum di bumi diberkati di dalam Dia.
[4] Ada sebagian berkat yang dengannya semua kaum di bumi diberkati di dalam Kristus. Sebab keselamatan Injil adalah keselamatan bersama (Yud. 1:3).

(2) Adalah suatu kehormatan besar untuk dihubungkan dengan Kristus. Inilah yang membuat nama Abram besar, bahwa Mesias akan lahir dari keturunannya, jauh lebih besar daripada kenyataan bahwa ia akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Adalah kehormatan bagi Abram untuk menjadi bapa-Nya secara alami. Dan akan menjadi kehormatan bagi kita untuk menjadi saudara-saudari-Nya oleh anugerah (Mat. 12:50).

No comments: