Kejadian 9:12-17 (TB):
BUSUR DI AWAN SEBAGAI TANDA PERJANJIAN
Pasal-pasal perjanjian di antara manusia biasanya dibubuhi meterai atau tanda, supaya perjanjian itu menjadi lebih sungguh-sungguh dan pelaksanaan perjanjian itu menjadi lebih pasti bagi kepuasan bersama. Oleh karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah menegaskan kovenan-Nya dengan meterai (Ibr. 6:17), yang membuat dasar yang di atasnya kita membangun dapat berdiri teguh (2Tim 3:19). Meterai yang digunakan dalam kovenan alam ini juga cukup alami, yaitu sebuah pelangi. Tanda ini mungkin sudah terlihat sebelumnya di awan-awan dan terjadi karena penyebab lain, tetapi tidak pernah dipakai sebagai sebuah meterai kovenan sampai saat itu ketika ditetapkan oleh Allah. Nah, mengenai tanda kovenan ini, amatilah sebagai berikut,
1. Tanda ini diikuti dengan jaminan-jaminan yang dinyatakan berulang-ulang untuk menegaskan kebenaran janji itu. Ini dirancang sebagai pengesahan akan janji itu: Busurku Kutaruh di awan (ay. 13), akan tampak di awan (ay. 14), supaya mata dapat memengaruhi hati dan menegaskan iman. Ia akan menjadi tanda perjanjian (ay. 12-13), dan Aku akan mengingat perjanjian-Ku, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah (ay. 15). Bahkan, seolah-olah Sang Akal Budi Kekal itu sendiri pun membutuhkan tanda peringatan, Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian- Ku yang kekal (ay. 16). Dengan demikian, baris demi baris di sini diberikan supaya kita yang telah menerima pengharapan ini boleh memiliki penghiburan yang pasti dan teguh.
2. Pelangi itu akan muncul ketika awan-awan dalam keadaan sangat basah, dan kembali lagi setelah hujan turun. Ketika kita memiliki alasan yang kuat untuk merasa takut akan hujan yang mengancam, maka Allah menunjukkan tanda kovenan ini bahwa hujan itu tidak akan menang. Begitulah Allah menghapus ketakutan kita dengan dorongan-dorongan semangat demikian yang sesuai dan tepat waktu.
3. Semakin tebal awan itu, akan semakin cerah busur di awan itu. Demikianlah, semakin berlimpah-limpah kesengsaraan menghantam, akan semakin berlimpah-limpah pula penghiburan yang membangkitkan semangat (2Kor. 1:5).
4. Pelangi itu muncul ketika satu bagian dari langit dalam keadaan cerah, yang menunjukkan bahwa kasih akan diingatkan kembali di tengah-tengah kemurkaan, dan awan-awan itu akan mengitarinya seolah-olah menyatu dengan pelangi itu, sehingga kegelapan tidak dapat memenuhi langit, sebab busur itu adalah hujan yang berwarna atau pinggiran awan yang dihiasi.
5. Pelangi itu adalah pantulan sinar matahari, yang menunjukkan bahwa semua kemuliaan dan makna penting dari meterai kovenan itu berasal dari Kristus yang adalah Matahari kebenaran, yang juga digambarkan dengan sebuah pelangi yang melingkungi takhta-Nya (Why. 4:3) dan sebuah pelangi yang ada di atas kepala-Nya (Why. 10:1), yang bukan saja menunjukkan kemuliaan-Nya, melainkan juga tindakan keperantaraan-Nya.
6. Pelangi itu memiliki warna yang cemerlang, untuk menunjukkan bahwa meskipun Allah tidak akan menenggelamkan bumi ini lagi, namun dunia ini akan dimusnahkan dengan api ketika rahasia Allah digenapi.
7. Sebuah busur berbicara tentang kengerian, namun busur ini tidak dilengkapi dengan tali atau anak panah seperti busur yang dipersiapkan untuk melawan para penganiaya (Mzm. 7:13-14). Lagi pula, sebuah busur sendiri tidak dapat melakukan banyak hukuman. Itu adalah sebuah busur yang di arahkan ke atas, bukan ke bumi, sebab tanda kovenan itu dimaksudkan untuk menghibur, bukan untuk menyebarkan rasa takut.
8. Ketika Allah melihat busur itu, Ia dapat mengingat kovenan itu. Demikian jugalah hendaknya kita, supaya kita selalu ingat akan kovenan itu dengan iman dan rasa syukur.
No comments:
Post a Comment