Kejadian 9:1-17 (TB):
SATU LAGI KESEMPATAN UNTUK MANUSIA DARI ALLAH! Selasa, 11 Februari 2003)
Manusia diberikan satu lagi kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dari awal. Kesempatan dari Allah tersebut seharusnya menjadi cambuk yang menyakitkan bagi kita. Betapa tidak, Allah yang telah kita kecewakan, malah melimpahkan semarak berkat-Nya. Allah tidak hanya memberi kesempatan, tetapi juga menitipkan ciptaan baru-Nya itu kepada kita. Sungguh suatu penghormatan yang luar biasa!
Perikop ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, ayat 1-7, yang memuat tentang mandat Allah kepada Nuh untuk menghuni, menguasai, dan memelihara bumi. Uraian ini tampaknya merupakan pengulangan dari pasal 1:1-2:4a, tentang riwayat penciptaan. Pertama, perintah untuk memenuhi bumi (ayat 1,7) dan janji Allah untuk membuat ciptaan lain tunduk kepada manusia (ayat 2), tepat seperti yang telah ucapkan Allah kepada Adam di pasal 1:28. Kedua, Allah memberi jaminan bahwa Ia akan mempertahankan kelangsungan hidup mereka (ayat 5). Ketiga, Allah tetap mengklaim bahwa manusia adalah gambar Allah (ayat 6), merupakan penegasan ulang dari pasal 1:26-27. Manusia masih diberi kehormatan untuk menyandang gambar Allah.
Bagian kedua adalah ayat 8-17. Pada bagian ini, Allah memanggil segala makhluk hidup (ayat 9,10) untuk mengadakan perjanjian dengan Dia dalam alam ciptaan yang sudah dipulihkan. Isi perjanjian adalah bahwa Allah berjanji untuk tidak mendatangkan lagi air bah (ayat 11). Janji yang ditandakan dengan pelangi "busur" (ayat 12) ini mengandung pengertian bahwa seakan-akan Allah meletakkan senjata-Nya seraya mengumumkan damai. Pelangi melambangkan kasih pemeliharaan Sang Pencipta yang melingkupi (melengkung) di atas segala ciptaan.
Renungkan: Allah yang telah menjadikan kita, sekalipun kita menolak-Nya, masih tetap mengasihi kita.
HARMONIS DENGAN ALLAH (Kamis, 5 Mei 2011)
Perjanjian yang ada di dalam Alkitab biasanya melibatkan tiga hal: pihak-pihak yang berjanji, isi perjanjian, dan syarat-syarat perjanjian. Isi perjanjian biasanya menyangkut tentang apa yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Syarat perjanjian adalah sanksi yang diberlakukan kalau seandainya salah satu pihak tidak setia kepada isi perjanjian yang dibuat. Dalam perjanjian antara Allah dan manusia, tentu saja Allah tidak mungkin tidak setia karena Ia selalu menggenapi janji-Nya kepada umat-Nya.
Dalam perjanjian antara Allah dan Nuh, Allah memerintahkan Nuh dan keturunannya untuk beranakcucu, memenuhi bumi, serta menguasainya (1-2, 7). Perintah ini sama seperti perintah yang Tuhan telah berikan sebelumnya kepada Adam. Selain perintah tersebut, Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya dengan mengizinkan Nuh untuk tidak membatasi jenis makanannya hanya dengan tumbuh-tumbuhan saja seperti sebelumnya (3-4). Namun ada perintah lain lagi yang Tuhan berikan kepada Nuh dan keturunannya, yaitu perintah untuk menghargai nyawa sesama manusia alias dilarang untuk membunuh (6). Sanksinya adalah Tuhan sendiri yang akan menuntut balas (5)!
Setelah menyatakan apa yang akan dilakukan Nuh dan keturunannya, Tuhan menyatakan apa yang akan Dia lakukan. Tuhan berjanji untuk tidak lagi memusnahkan penghuni bumi dengan air bah (11). Dan sebagai tanda yang mengingatkan Dia kelak, Tuhan akan memperlihatkan busur-Nya bila awan menunjukkan tanda akan hujan.
Pemulihan alam ciptaan memberikan mandat baru bagi Nuh dan keturunannya, suatu mandat yang harus mereka pikul. Namun mandat itu disertai dengan janji pemeliharaan Allah. Kembali kita melihat keharmonisan hubungan Allah dengan manusia, yang mau berjalan di jalan-Nya. Manusia melakukan segala perintah Allah, dan Allah pun akan menjalankan pemeliharaan-Nya atas manusia dengan setia.
Bagaimana hubungan Anda saat ini dengan Allah? Kiranya Tuhan menolong kita untuk berada di dalam hubungan yang erat terpaut dengan Allah.
No comments:
Post a Comment