Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 8:20-22 (MHC)

Kejadian 8:20-22 (TB):
20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
KORBAN NUH

Inilah,

I. Ungkapan syukur Nuh atas kebaikan Allah kepadanya, yang melengkapi belas kasihan bagi pembebasannya (ay. 20).

1. Ia mendirikan mezbah. Sampai saat ini ia tidak berbuat apa pun tanpa petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah khusus dari Allah. Ia diberi panggilan khusus untuk masuk ke dalam bahtera, dan panggilan lain lagi untuk keluar darinya. Tetapi, karena mezbah dan korban bakaran sudah merupakan ketetapan ilahi dan ibadah, ia tidak menunggu perintah khusus seperti itu untuk mengungkapkan rasa syukurnya. Orang-orang yang sudah menerima belas kasihan dari Allah haruslah menjadi yang terdepan dalam mengucap syukur, dan melakukannya bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela. Allah berkenan pada persembahan-persembahan yang dinaikkan dengan kehendak bebas, dan pada puji-pujian yang menanti-nantikan Dia. Nuh sekarang keluar menuju dunia yang dingin dan porak-poranda, di mana, orang akan menyangka, yang pertama-tama akan diperhatikannya adalah membangun rumah bagi dirinya sendiri. Namun, lihatlah, ia memulai dengan mendirikan mezbah bagi Allah. Allah, sebagai yang pertama, haruslah yang pertama dilayani. Dan barangsiapa memulai dengan Allah memulai dengan baik.

2. Ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbahnya, dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram – masing-masing satu, dari pasangan yang ketujuh, seperti yang sudah kita baca (7:2-3). Di sini amatilah,

(1) Ia hanya mempersembahkan binatang-binatang yang halal.Sebab, mempersembahkan korban saja tidak cukup, kita juga harus mengorbankan apa yang ditentukan oleh Allah, sesuai dengan hukum korban, dan bukan apa yang cacat.

(2) Meskipun persediaan ternaknya begitu sedikit, dan itu pun diselamatkan dari kehancuran dengan biaya dan perawatan yang begitu besar, namun ia tidak bersungut-sungut dalam memberikan kepada Allah apa yang pantas didapatkan-Nya dari ternak itu. Ia bisa saja berkata, “Bukankah aku hanya mempunyai tujuh domba untuk memulai dunia, dan haruskah salah satu dari ketujuh domba ini disembelih dan dibakar sebagai korban? Bukankah akan lebih baik jika kita menundanya sampai kita mempunyai jauh lebih banyak domba?” Tidak, untuk membuktikan ketulusan kasih dan rasa syukurnya, ia dengan gembira memberikan domba yang ketujuh kepada Allahnya, sebagai pengakuan bahwa semua adalah milik-Nya, dan ada berkat Dia. Melayani Allah dengan sedikit yang kita punya adalah jalan untuk membuatnya bertambah banyak. Dan kita tidak boleh menganggap sia-sia apa yang membuat Allah dihormati.

(3) Lihatlah di sini keberadaan agama yang sudah sejak dulu kala: hal pertama yang kita dapati diperbuat di dunia baru adalah suatu ibadah (Yer. 6:16). Dewasa ini kita mengungkapkan rasa syukur kita bukan dengan korban bakaran, melainkan dengan korban pujian dan korban kebenaran, dengan ibadah yang saleh dan perilaku hidup yang saleh.

II. Allah dengan penuh rahmat berkenan pada ungkapan syukur Nuh. Ini sudah menjadi aturan tetap di zaman bapa-bapa leluhur: Jika engkau berbuat baik, engkau akan diterima. Demikianlah Nuh diterima. Sebab,

1. Allah amat berkenan pada ibadahnya itu (ay. 21). Ia mencium persembahan yang harum itu, atau, seperti dalam bahasa Ibraninya, bau harum peristirahatan dari persembahan itu. Sama seperti, setelah menjadikan dunia pada mulanya di hari ketujuh, Ia beristirahat dan disegarkan, demikian pula, sekarang setelah memperbaharuinya, Ia beristirahat pada korban ketujuh. Ia amat berkenan pada semangat Nuh yang saleh, dan pada permulaan-permulaan yang menjanjikan dari dunia baru ini, seperti halnya manusia senang dengan bau yang harum dan wangi. Meskipun korbannya sedikit, itu sesuai dengan kemampuannya, dan Allah menerimanya. Setelah membuat murka-Nya berdiam atas dunia orang-orang berdosa, di sini Ia membuat kasih-Nya berdiam atas sedikit orang percaya yang tersisa ini.

2. Dalam kesempatan ini, Ia bertekad untuk tidak pernah menenggelamkan dunia lagi. Dalam hal ini pandangan-Nya tidak tertuju pada korban Nuh melainkan terlebih pada korban Kristus sendiri, yang diperlambangkan dan diwakilkan olehnya, dan yang memang merupakan persembahan dan korban yang harum (Ef. 5:2). Keamanan yang pasti di sini diberikan, dan apa yang bisa diandalkan itu adalah,

(1) Bahwa penghakiman ini tidak akan pernah diulangi. Nuh mungkin berpikir, “Untuk apa dunia diperbaiki apabila, dalam segala kemungkinan, oleh karena kefasikannya, dunia akan dengan cepat dihancurkan secara serupa lagi?” “Tidak,” firman Allah, “dunia tidak akan dihancurkan seperti itu lagi.” Dikatakan dalam pasal 6:6, menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, tetapi sekarang di sini Ia berbicara seolah-olah Ia menyesal bahwa Ia telah menghancurkan manusia. Namun, tidak satu pun dari kedua pernyataan ini berarti bahwa ada perubahan pada pikiran-Nya. Sebaliknya, ini berarti bahwa ada perubahan pada jalan-Nya. Menyesallah Dia atas apa yang terjadi pada hamba-hamba-Nya (Ul. 32:36, KJV; TB: Ia merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya – pen.). Dua cara untuk mengungkapkan tekad ini:

[1] Aku takkan mengutuk bumi ini lagi. Dalam bahasa Ibrani: Aku takkan menambah kutuk lagi pada bumi. Allah sudah mengutuk bumi pada saat dosa masuk pertama kali (3:17), dan ketika Ia menenggelamkannya, Ia menambahkan kutuk padanya. Tetapi sekarang Ia bertekad untuk tidak menambahkan kutuk lagi padanya.

[2] Dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup. Maksudnya, sudah ditetapkan bahwa sekalipun Allah bisa menimpakan bencana ke atas pribadi-pribadi, keluarga-keluarga, atau bangsa-bangsa tertentu, Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan dunia secara keseluruhan hingga tiba hari ketika waktu tidak ada lagi. Tetapi alasan untuk tekad ini sangat mengejutkan, sebab hasilnya tampak sama saja dengan alasan yang diberikan untuk menghancurkan dunia: Karena segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (6:5). Tetapi terdapat perbedaan ini – di sana dikatakan, segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, yaitu, “pelanggaran-pelanggarannya yang nyata terus-menerus berteriak melawannya.” Sedangkan di sini dikatakan, yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya. Kecenderungan itu sudah mendarah daging. Ia membawanya bersama-sama dengan dia ke dalam dunia. Ia dibentuk dan dikandung di dalamnya. Nah, orang akan berpikir bahwa seharusnya pernyataan itu diikuti dengan, “Oleh sebab itu, bangsa yang bersalah itu akan dimusnahkan seluruhnya, dan Aku akan menghabiskan.” Tetapi, tidak, sebaliknya itu diikuti dengan, “Oleh sebab itu, Aku tidak akan lagi memakai cara yang keras ini. Sebab,” pertama, “ia harus terlebih dikasihani, sebab itu semua merupakan dampak dari dosa yang berdiam di dalam dia. Dan cuma itulah yang bisa diharapkan dari bangsa yang sudah merosot seperti itu: ia disebut pemberontak sejak dari kandungan, dan oleh sebab itu tidaklah aneh jika ia berbuat khianat sekeji-kejinya” (Yes. 48:8). Demikianlah Allah ingat bahwa mereka itu daging, rusak dan berdosa (Mzm. 78:39). Kedua, “Ia akan hancur sepenuhnya. Sebab, jika ia diperlakukan sebagaimana mestinya, maka satu air bah harus disusul dengan air bah lain sampai semuanya dihancurkan.” Lihatlah di sini,

1. Bahwa penghakiman-penghakiman lahiriah, meskipun dapat membuat manusia ngeri dan tertahan, ia tidak dapat menguduskan dan memperbaharui manusia. Anugerah Allah harus bekerja bersama-sama dengan penghakiman-penghakiman itu. Sifat manusia itu berdosa setelah air bah, sama seperti sebelumnya.

2. Bahwa dari keberdosaan manusia, kebaikan Allah mendapat kesempatan untuk semakin mengagungkan dirinya dengan terlebih lagi. Alasan-alasan untuk belas kasihan-Nya bersumber pada diri-Nya sendiri, bukan pada apa pun dalam diri kita.

(2) Bahwa peredaran alam tidak akan pernah diputuskan (ay. 22): “ Selama bumi masih ada, dan manusia hidup di atasnya, akan selalu ada musim dingin dan panas (bukan seluruhnya musim dingin seperti yang terjadi pada tahun terakhir ini), siang dan malam,” bukan seluruhnya malam, seperti yang mungkin terjadi selama hujan turun. Di sini,

[1] Dengan jelas ditunjukkan bahwa bumi ini tidak akan selalu ada. Bumi, dan segala isinya, akan segera dibakar habis. Dan kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, ketika semua ini harus dilenyapkan. Tetapi,

[2] Selama bumi masih ada, pemeliharaan Allah akan dengan hati-hati mempertahankan pergantian waktu dan musim secara teratur, dan membuat mereka mengetahui tempat mereka masing-masing. Berkat inilah dunia masih berdiri, dan roda alam tetap pada jalurnya. Lihatlah di sini betapa waktu bisa diubah, tetapi juga betapa ia tidak bisa diubah. Pertama, peredaran alam selalu berubah. Seperti halnya waktu, demikian pula peristiwa-peristiwa di dalam waktu tunduk pada perubahan– siang dan malam, musim dingin dan musim panas, datang silih berganti. Di sorga dan neraka tidak demikian, tetapi di bumi Allah menetapkan yang satu berpadanan dengan yang lain. Kedua, namun peredaran alam itu tidak pernah berubah. Peredaran itu tetap dalam ketidaktetapan ini. Musim-musim ini tidak pernah berhenti, dan juga tidak akan berhenti, selama matahari terus menjadi pengukur waktu yang begitu tetap, dan bulan menjadi suatu saksi yang setia di awan-awan. Inilah kovenan Allah dengan siang dan dengan malam, yang ketetapannya disebutkan untuk meneguhkan iman kita akan kovenan anugerah, yang sama-sama tidak dapat dilanggar (Yer. 33:20-21). Kita melihat bahwa janji-janji Allah kepada makhluk ciptaan ditepati dengan baik, dan dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa janji-janji-Nya kepada semua orang percaya juga akan demikian.

No comments: