Kejadian 8:1-3 (TB):
BUMI MENJADI KERING
Dalam bagian penutup dari pasal sebelumnya, kita meninggalkan dunia dalam kehancuran dan jemaat dalam kesesakan. Tetapi dalam pasal ini kita mendapati dunia diperbaiki dan jemaat diperluas. Sekarang pemandangannya berubah, dan wajah lain dari segala sesuatu mulai diperlihatkan kepada kita, dan sisi terang di balik awan yang sebelumnya tampak begitu hitam dan pekat. Sebab, meskipun Allah berbantah untuk waktu yang lama, bukan untuk selama-lamanya Ia hendak berbantah, tidak pula Ia akan selalu murka. Di sini kita mendapati,
I. Bumi diperbaharui, dengan meredanya air, dan munculnya tanah kering, untuk kedua kalinya sekarang, dan kedua-duanya secara perlahan.
1. Naiknya air dihentikan (ay. 1-2).
2. Air terlihat mulai berkurang (ay. 3).
3. Setelah surut selama enam belas hari, bahtera itu kandas (ay. 4).
4. Setelah surut selama enam puluh hari, puncak-puncak gunung tampak mengatasi air (ay. 5).
5. Setelah surut selama empat puluh hari, dan dua puluh hari sebelum gunung-gunung tampak, Nuh mulai mengirimkan mata-matanya, seekor burung gagak dan seekor burung merpati, untuk mendapat informasi (ay. 6-12).
6. Dua bulan setelah kemunculan puncak-puncak gunung, air sudah lenyap, dan permukaan bumi menjadi kering (ay. 13), meskipun belum kering untuk didiami manusia secara layak sampai hampir dua bulan kemudian (ay. 14).
II. Manusia ditempatkan kembali di atas bumi, di mana,
1. Nuh mengeluarkan muatan bahtera dan ia sendiri keluar darinya (ay. 15-19).
2. Ia mempersembahkan korban pujiannya kepada Allah atas kebebasannya (ay. 20).
3. Allah menerima korbannya, dan dalam kesempatan itu Ia berjanji untuk tidak menenggelamkan dunia lagi (ay. 21-22). Dan dengan demikian, pada akhirnya, belas kasihan menang atas penghakiman.
Bumi Menjadi Kering (Kejadian 8:1-3)
Inilah,
I. Sebuah tindakan anugerah Allah: Allah mengingat Nuh dan segala makhluk hidup. Ini adalah ungkapan cara manusia. Sebab tak satu pun dari ciptaan-Nya (Luk. 12:6), terlebih lagi siapa pun dari umat-Nya, yang dilupakan-Nya (Yes. 49:15-16). Tetapi,
1. Seluruh bangsa manusia, kecuali Nuh dan keluarganya, sekarang sudah punah, dan dicampakkan ke negeri segala lupa, untuk tidak diingat lagi. Karena itu, diingatnya Nuh oleh Allah berarti kembalinya belas kasihan-Nya terhadap umat manusia, yang tidak akan dibinasakan-Nya sepenuhnya. Ungkapan ini aneh (Yeh. 5:13), Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga Aku merasa puas. Tuntutan-tuntutan keadilan ilahi telah dipenuhi dengan kehancuran orang-orang berdosa itu. Ia telah melampiaskan dendam-Nya kepada para lawan-Nya (Yes. 1:24), dan sekarang roh-Nya menjadi tenteram (Za. 6:8), lalu Ia mengingat Nuh dan segala makhluk hidup. Ia mengingat kasih sayang dalam murka (Hab. 3:2), teringat kepada zaman dahulu kala (Yes. 63:11), mengingat keturunan yang kudus, dan kemudian mengingat Nuh.
2. Nuh sendiri, walaupun merupakan seorang yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan, tampak terlupakan di dalam bahtera, dan mungkin mulai berpikiran begitu. Sebab kita tidak mendapati Allah memberi tahu dia berapa lama ia harus terkurung dan kapan ia harus dibebaskan. Orang-orang yang sangat baik terkadang akan segera menyimpulkan bahwa mereka dilupakan Allah, terutama apabila penderitaan-penderitaan mereka luar biasa pedih dan lama. Mungkin Nuh, walaupun merupakan seorang yang mempunyai iman besar, ketika mendapati air bah terus berlangsung begitu lama sementara sudah seharusnya air itu berhenti, tergoda untuk merasa takut kalau-kalau Dia yang menyuruhnya untuk masuk akan tetap mengurungnya di sana. Dan ia mulai bertanya-tanya, berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku? Tetapi pada akhirnya Allah kembali dalam belas kasihan kepadanya, dan ini diungkapkan dengan ungkapan Allah mengingatnya. Perhatikanlah, orang-orang yang mengingat Allah pasti akan diingat oleh-Nya, seberapa pun susah dan menyedihkannya keadaan mereka. Ia akan menetapkan waktu bagi mereka dan mengingat mereka (Ayb. 14:13).
3. Bersama Nuh, Allah mengingat segala makhluk hidup. Sebab, walaupun kesenangan-Nya terutama pada anak-anak manusia, Ia juga bersuka atas segala hasil karya-Nya, dan tidak membenci satu pun dari apa yang telah dijadikan-Nya. Ia secara khusus memperhatikan umat-Nya bukan saja secara orang perorangan, melainkan juga kepunyaan-kepunyaan mereka, yaitu keluarga mereka dan segala sesuatu milik mereka. Ia memperhatikan ternak Niniwe (Yun. 4:11).
II. Sebuah tindakan kuasa Allah atas angin dan air, yang kedua-duanya tunduk pada perintah-Nya, meskipun tidak satu pun dari keduanya yang bisa dikendalikan manusia. Amatilah,
1. Ia memerintahkan angin, dan berkata kepadanya, pergi, lalu ia pun pergi, untuk menghalau air bah itu: Allah membuat angin menghembus melalui bumi. Lihatlah di sini,
(1) Apa yang diingat Allah tentang Nuh: bahwa Ia akan memberinya kelegaan. Perhatikanlah, orang-orang yang diingat Allah pasti diingat-Nya dengan benar, untuk selama-lama-nya. Ia mengingat kita untuk menyelamatkan kita, agar kita mengingat-Nya untuk melayani Dia.
(2) Betapa Allah memiliki kekuasaan yang berdaulat atas angin.
Ia mengumpulkan angin dalam genggaman-Nya (Ams. 30:4) dan mengeluarkannya dari dalam perbendaharaan-Nya (Mzm. 135:7). Ia mengirimkannya bilamana, ke mana, dan untuk tujuan-tujuan apa, sesuai yang dikehendaki-Nya. Bahkan angin badai sekalipun melakukan firman-Nya (Mzm. 148:8). Tampaknya, selagi air bertambah naik, tidak ada angin. Sebab hal itu akan semakin mengombang-ambingkan bahtera. Tetapi sekarang Allah mengirimkan angin, karena hal itu tidak akan begitu mengganggu. Ada kemungkinan angin itu adalah angin utara, sebab angin utara mengusir hujan. Apa pun itu, angin itu adalah angin yang mengeringkan, seperti angin yang dikirim Allah untuk membelah Laut Teberau di hadapan Israel (Kel. 14:21).
2. Ia menarik kembali air-air itu, dan berkata kepada mereka, mari datanglah ke sini, dan mereka pun datang.
(1) Ia menyingkirkan penyebabnya. Ia memeteraikan sumber-sumber air itu, mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit. Perhatikanlah,
[1] Seperti Allah memiliki kunci untuk membuka, demikian pula Ia mempunyai kunci untuk menutup kembali, dan untuk menahan laju penghakiman-penghakiman dengan menghentikan penyebab-penyebabnya. Begitulah, tangan yang sama yang mendatangkan kehancuran haruslah mendatangkan pembebasan. Oleh sebab itu, kepada tangan itulah mata kita harus tertuju. Hanya Dia yang melukai yang sanggup menyembuhkan. Lihat Ayub 12:14-15.
[2] Apabila penderitaan-penderitaan sudah melaksanakan pekerjaan yang untuknya mereka dikirim, entah pekerjaan untuk membunuh atau menyembuhkan, maka mereka akan dihapuskan. Firman Allah tidak akan kembali sia-sia (Yes. 55:10-11).
(2) Lalu dampaknya berhenti. Tidak sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur: Air itu turun (ay. 1), makin surut dari muka bumi (ay. 3). Mereka pergi dan kembali (dalam bahasa Ibrani), yang menandakan kepergian secara perlahan-lahan. Panasnya matahari mengeringkan banyak air itu, dan mungkin lubang-lubang besar di dalam tanah menyerap lebih banyak lagi. Perhatikanlah, seperti halnya bumi tidak ditenggelamkan dalam sehari, demikian pula ia tidak dikeringkan dalam sehari. Dalam penciptaan, hanya butuh satu hari kerja untuk membersihkan bumi dari air-air yang meliputinya, dan untuk menjadikannya tanah kering. Malah, hanya butuh separuh hari kerja (1:9-10). Tetapi, karena pekerjaan mencipta sudah selesai, maka pekerjaan pemeliharaan ilahi ini dilaksanakan melalui kuasa penyebab-penyebab alami yang bekerja secara bersamaan, namun yang dikerahkan sedemikian rupa oleh kekuatan Allah yang mahakuasa. Allah biasanya membebaskan umat-Nya secara perlahan, agar hari peristiwa-peristiwa kecil tidak dipandang hina, tidak pula orang kehilangan harapan akan hari peristiwa-peristiwa besar (Za. 4:10). Lihat Amsal 4:18.
No comments:
Post a Comment