Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 6:22 (MHC)

Kejadian 6:22 (TB)

Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya. 


KETAATAN NUH

Perhatian dan ketekunan Nuh dalam membangun bahtera bisa dipandang,

1. Sebagai buah dari imannya kepada firman Allah. Allah sudah memberi tahu dia bahwa sebentar lagi Ia akan menenggelamkan dunia. Dia mempercayainya, dia takut pada air bah yang mengancam itu, dan, dalam ketakutan itu, ia mempersiapkan bahtera. Perhatikanlah, kita harus memadukan iman dengan pewahyuan yang telah dinyatakan oleh Allah tentang murka-Nya atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Kata-kata yang mengancam itu bukanlah tanda bahaya palsu. Mungkin ada banyak alasan untuk mempertanyakan kebenaran dari peringatan yang diberikan Nuh ini. “Siapa yang bisa percaya bahwa Allah yang bijak, yang menjadikan dunia, akan begitu cepat memusnahkannya kembali, bahwa Ia yang telah menarik air dari tanah kering (1:9-10) lalu membuat air itu menutupinya kembali? Bagaimana hal ini bisa dicocokkan dengan belas kasihan Allah, yang mengatasi segala pekerjaan-Nya, terutama bahwa makhluk-makhluk yang tidak berdosa harus mati bagi dosa manusia? Dari mana air bisa dikumpulkan dengan cukup untuk menenggelamkan dunia? Dan, jika memang harus demikian, mengapa itu hanya diberitahukan kepada Nuh saja?” Tetapi iman Nuh menang atas semua alasan yang rusak ini.

2. Sebagai tindakan yang taat kepada perintah Allah. Seandainya ia meminta nasihat pada darah dan daging, maka akan ada banyak keberatan untuk membantahnya. Untuk membangun sebuah bangunan, bangunan yang tidak pernah dilihatnya, yang begitu luas, dan dengan ukuran-ukuran yang begitu tepat, itu akan membuatnya bekerja sangat keras, bersusah payah, dan mengeluarkan banyak sekali biaya. Pekerjaan itu akan memakan waktu. Pekerjaan itu dipersiapkan untuk masa yang masih jauh ke depan. Tetangga-tetangganya akan mengolok-olok dia karena begitu mudahnya ia percaya, dan ia akan menjadi nyanyian bagi para pemabuk. Bangunannya akan disebut kebodohan Nuh. Jika yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi, seperti yang kita katakan, maka semua orang akan ikut-ikutan dengan tetangga-nya. Tetapi keberatan-keberatan ini, dan seribu keberatan lain yang serupa, diatasi Nuh dengan iman. Kepatuhannya siap dan bulat: Demikianlah yang dilakukan Nuh dengan hati yang rela dan gembira, tanpa bersungut-sungut dan membantah. Allah berkata, lakukanlah ini, dan ia melakukannya. Ia juga melakukannya dengan tepat dan tekun: ia melakukan semuanya persis sesuai perintah-perintah yang telah diberikan kepadanya, dan karena sudah mulai membangun, ia tidak akan meninggalkannya sebelum selesai. Demikianlah dilakukannya, dan demikianlah pula yang harus kita lakukan.

3. Sebagai contoh dari hikmat bagi kebaikannya sendiri, dan dengan demikian untuk menyiapkan keamanannya sendiri. Ia takut pada air bah itu, dan oleh sebab itu ia mempersiapkan bahtera. Perhatikanlah, apabila Allah memberikan peringatan akan penghakiman-penghakiman yang akan datang, maka berhikmatlah kita, dan sudah menjadi kewajiban kita, untuk membuat persediaan sebagaimana mestinya. Lihat Keluaran 9:20-21; Yehezkiel 3:18. Kita harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tuhan dalam penghakiman-penghakiman-Nya di bumi, berlari kepada-Nya sebagai menara kita yang kuat (Ams. 18:10), masuk ke dalam kamar kita (Yes. 26:20-21), dan terutama mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya pada saat kematian dan pada hari penghakiman agung, membangun di atas Kristus Sang Batu (Mat. 7:24), dan masuk ke dalam Kristus Sang Bahtera.

4. Sebagai sesuatu yang dimaksudkan sebagai peringatan bagi dunia yang sembrono. Dan itu adalah peringatan yang adil tentang air bah yang akan datang. Setiap pukulan kampak dan palunya merupakan panggilan untuk bertobat, panggilan bagi mereka untuk mempersiapkan bahtera-bahtera juga. Tetapi, karena dengannya ia tidak dapat menginsafkan dunia, maka dengannya ia menghukum dunia (Ibr. 11:7).

No comments: