Kejadian 5:21-24 (TB):
PENGANGKATAN HENOKH
[1] Urusan hidup Henokh, kepedulian dan pekerjaannya senantiasa. Sementara orang lain hidup bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia, ia hidup bagi Allah.
[2] Itu merupakan sukacita dan penopang hidupnya. Baginya, bersekutu dengan Allah lebih baik daripada hidup itu sendiri. Bagiku hidup adalah Kristus (Flp. 1:21).
2. Tahun hidup beragamanya. Dikatakan bahwa (ay. 21), setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Tetapi (ay. 22) Henokh hidup bergaul dengan Allah setelah ia memperanakkan Metusalah, yang menunjukkan bahwa ia belum mulai terkenal sebagai orang saleh sampai sekitar pada waktu itu. Pada awalnya ia hidup seperti orang-orang lainnya. Orang-orang kudus yang besar sampai pada keunggulan mereka secara bertahap.
3. Kelangsungan hidup beragamanya: ia bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun, selama ia terus ada di dunia ini. Orang munafik tidak akan selalu berdoa. Tetapi orang yang betul-betul kudus, yang bertindak berdasarkan suatu asas, dan membuat agama sebagai pilihannya, akan bertekun sampai pada akhirnya, dan bergaul dengan Allah selagi ia hidup, seperti orang yang berharap untuk hidup selama-lamanya bersama dengan Dia (Mzm. 104:33).
II. Dipindahkannya dia secara mulia ke dunia yang lebih baik. Karena ia tidak hidup seperti orang lain, maka ia pun tidak mati seperti orang lain (ay. 24): Lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Yakni, seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 11:5, Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Amatilah,
1. Kapan ia diangkat seperti itu.
(1) Dalam tahun hidupnya. Itu terjadi ketika ia baru hidup selama tiga ratus enam puluh lima tahun (jumlah genap dalam tahun), yaitu, menurut panjangnya umur manusia pada waktu itu, ketika usianya paruh baya. Sebab tak seorang pun dari bapa-bapa leluhur sebelum air bah yang hidupnya tidak melebihi dua kali lipat dari umur itu. Tetapi mengapa Allah mengambilnya begitu cepat? Tentu saja, karena dunia, yang sekarang sudah menjadi rusak, tidak layak baginya, atau karena ia begitu jauh mengatasi dunia, dan begitu lelah dengannya, sehingga ingin cepat-cepat berpindah darinya, atau karena pekerjaannya sudah selesai, dan selesai dengan lebih cepat karena ia mengerjakannya dengan begitu tekun. Perhatikanlah, Allah sering kali mengambil paling cepat orang-orang yang paling dikasihi-Nya, dan waktu yang terhilang dari mereka di bumi akan diperoleh di sorga, bagi keuntungan mereka yang tak terutarakan.
(2) Menurut waktu dunia. Itu terjadi ketika semua bapa leluhur yang disebutkan dalam pasal ini masih hidup, kecuali Adam, yang mati lima puluh tujuh tahun sebelumnya, dan Nuh, yang dilahirkan enam puluh sembilan tahun sesudahnya. Kedua orang itu diberi peneguhan-peneguhan yang nyata akan iman mereka dengan cara-cara lain, tetapi kepada semua orang lain, yang menjadi atau mungkin menjadi saksi-saksi dari pengangkatan Henokh, hal itu menjadi dorongan nyata bagi iman dan pengharapan mereka berkenaan dengan kehidupan yang akan datang.
2. Bagaimana pengangkatannya diungkapkan: Lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.
(1) Ia tidak ada lagi di dunia ini. Itu bukanlah akhir dari keberadaannya, melainkan dari keberadaannya di sini: ia tidak ditemukan, demikian Rasul Paulus menjelaskannya berdasarkan Septuaginta. Tidak ditemukan oleh teman-temannya, yang mencarinya seperti rombongan nabi mencari Elia (2Raj. 2:17). Tidak ditemukan oleh musuh-musuhnya, yang, menurut sebagian orang, sedang mengejar-ngejarnya, untuk membunuh dia dalam kegeraman mereka terhadapnya karena kesalehannya yang tersohor. Tampak dari nubuatannya bahwa pada waktu itu ada banyak orang berdosa yang tidak saleh, yang berkata-kata nista, dan mungkin berbuat nista juga, terhadap umat Allah (Yud. 1:15). Namun, Allah menyembunyikan Henokh dari mereka, bukan di bawah sorga, melainkan di dalam sorga.
(2) Allah mengangkat tubuh dan jiwanya bagi diri-Nya sendiri di taman sorga Firdaus, melalui pelayanan para malaikat, seperti sesudahnya Ia mengangkat Elia. Ia diubah, seperti orang-orang kudus didapati hidup nanti pada kedatangan Kristus untuk kali kedua. Bilamana orang baik meninggal, Allah mengambilnya, menjemputnya dari sini, dan menerimanya bagi diri-Nya sendiri. Berkenaan dengan Henokh, Rasul Paulus menambahkan bahwa sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah, dan ini adalah laporan baik yang diperolehnya. Perhatikanlah,
[1] Berjalan bersama Allah membuat Allah senang.
[2] Kita tidak dapat berjalan bersama Allah untuk menyenangkan-Nya kecuali dengan iman.
[3] Allah sendiri akan memberikan kehormatan kepada orang-orang yang dengan iman berjalan bersama-Nya untuk menyenangkan-Nya. Ia akan mengakui mereka sekarang, dan bersaksi bagi mereka di hadapan para malaikat dan manusia pada hari penghakiman agung. Orang-orang yang tidak mempunyai kesaksian ini sebelum pengangkatan, akan mendapatinya setelah itu.
[4] Orang-orang yang perilaku hidupnya di dunia benar-benar kudus akan mendapati perpindahan mereka dari dunia benar-benar membahagiakan. Pengangkatan Henokh bukan hanya merupakan suatu bukti dari iman akan adanya kehidupan yang akan datang, dan akan kemungkinan keberadaan tubuh dalam keadaan mulia di kehidupan itu, melainkan juga suatu dorongan bagi pengharapan semua orang yang berjalan bersama Allah bahwa mereka akan selama-lamanya berada bersama-sama dengan Dia: kesalehan yang gemilang akan dimahkotai dengan kehormatan-kehormatan yang gemilang.
Cerita-cerita di sini terus mengalir selama tujuh keturunan tanpa ada suatu apa pun yang luar biasa, atau suatu selingan, selain nama-nama dan angka-angka. Tetapi pada akhirnya datanglah seseorang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, yang harus diberi perhatian khusus, dan dia adalah Henokh, keturunan ketujuh dari Adam: semua yang lain, boleh kita duga, hidup menurut kebajikan, tetapi ia mengungguli mereka semua, dan merupakan bintang yang paling cemerlang di zaman para bapa leluhur. Yang dicatat tentang dia hanyalah sedikit. Namun demikian, yang sedikit ini sudah cukup untuk membuat namanya besar, lebih besar daripada nama Henokh yang lain itu, yang memiliki sebuah kota yang diberi nama sesuai namanya. Inilah dua hal berkenaan dengan dia:
I. Perilaku hidupnya yang mulia di dunia ini, yang dibicarakan sebanyak dua kali: Henokh hidup bergaul dengan Allah setelah ia memperanakkan Metusalah (ay. 22), dan lagi, Henokh hidup bergaul dengan Allah (ay. 24). Amatilah,
1. Sifat agamanya, dan maksud serta tujuan dari perilaku hidupnya: ia hidup bergaul dengan Allah, yang menandakan,
(1) Agama yang benar. Apa itu kesalehan, selain dari hidup bergaul dengan Allah? Orang yang tidak saleh dan cemar adalah tanpa Allah di dunia, mereka berjalan bertentangan dengan Dia: tetapi orang saleh berjalan bersama Allah, yang berarti pendamaian dengan Allah, sebab dua orang tidak bisa berjalan bersama-sama jika mereka belum berjanji (Am. 3:3), dan yang mencakup semua bagian serta contoh dari sebuah hidup yang saleh, benar, dan tenang. Berjalan bersama Allah berarti selalu menempatkan Dia di depan kita, dan bertindak seperti orang-orang yang selalu diawasi-Nya. Itu berarti hidup bersekutu dengan Allah baik dalam ketetapan-ketetapan maupun pemeliharaan-pemeliharaan ilahi. Itu berarti menjadikan firman Allah sebagai peraturan kita dan kemuliaan-Nya sebagai tujuan kita dalam segala perbuatan kita. Itu berarti kita harus senantiasa peduli dan berusaha dalam segala sesuatu untuk menyenangkan Allah, dan dalam hal apa pun tidak melanggar perintah-Nya. Itu berarti patuh kepada kehendak-Nya, setuju dengan rancangan-rancangan-Nya, dan menjadi pekerja bersama-sama dengan Dia. Itu berarti menjadi penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.
(2) Agama yang unggul. Ia sepenuhnya mati terhadap dunia ini, dan tidak hanya berjalan mengikuti Allah, seperti yang dilakukan semua orang baik, tetapi juga berjalan bersama-sama dengan Allah, seolah-olah ia sudah berada di sorga. Ia hidup di atas rata-rata, bukan saja melebihi orang-orang lain, tetapi juga orang-orang kudus lain. Ia bukan hanya bersikap baik dalam masa-masa yang buruk, tetapi juga terbaik dalam masa-masa yang baik.
(3) Kegigihan dalam memajukan agama di tengah-tengah orang lain. Melaksanakan jabatan imam disebut hidup di hadapan Allah (1Sam. 2:30-35), dan lihat Zakharia 3:7. Henokh, tampaknya, adalah seorang imam Allah yang mahatinggi, dan seperti Nuh, yang juga dikatakan bergaul dengan Allah, ia adalah seorang pemberita kebenaran, dan menubuatkan kedatangan Kristus untuk kali kedua. Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya (Yud. 1:14). Nah, Roh Kudus bukan berkata Henokh hidup, tetapi Henokh bergaul dengan Allah. Sebab hidup orang baik adalah bergaul dengan Allah. Ini merupakan,
[1] Urusan hidup Henokh, kepedulian dan pekerjaannya senantiasa. Sementara orang lain hidup bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia, ia hidup bagi Allah.
[2] Itu merupakan sukacita dan penopang hidupnya. Baginya, bersekutu dengan Allah lebih baik daripada hidup itu sendiri. Bagiku hidup adalah Kristus (Flp. 1:21).
2. Tahun hidup beragamanya. Dikatakan bahwa (ay. 21), setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Tetapi (ay. 22) Henokh hidup bergaul dengan Allah setelah ia memperanakkan Metusalah, yang menunjukkan bahwa ia belum mulai terkenal sebagai orang saleh sampai sekitar pada waktu itu. Pada awalnya ia hidup seperti orang-orang lainnya. Orang-orang kudus yang besar sampai pada keunggulan mereka secara bertahap.
3. Kelangsungan hidup beragamanya: ia bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun, selama ia terus ada di dunia ini. Orang munafik tidak akan selalu berdoa. Tetapi orang yang betul-betul kudus, yang bertindak berdasarkan suatu asas, dan membuat agama sebagai pilihannya, akan bertekun sampai pada akhirnya, dan bergaul dengan Allah selagi ia hidup, seperti orang yang berharap untuk hidup selama-lamanya bersama dengan Dia (Mzm. 104:33).
II. Dipindahkannya dia secara mulia ke dunia yang lebih baik. Karena ia tidak hidup seperti orang lain, maka ia pun tidak mati seperti orang lain (ay. 24): Lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Yakni, seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 11:5, Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Amatilah,
1. Kapan ia diangkat seperti itu.
(1) Dalam tahun hidupnya. Itu terjadi ketika ia baru hidup selama tiga ratus enam puluh lima tahun (jumlah genap dalam tahun), yaitu, menurut panjangnya umur manusia pada waktu itu, ketika usianya paruh baya. Sebab tak seorang pun dari bapa-bapa leluhur sebelum air bah yang hidupnya tidak melebihi dua kali lipat dari umur itu. Tetapi mengapa Allah mengambilnya begitu cepat? Tentu saja, karena dunia, yang sekarang sudah menjadi rusak, tidak layak baginya, atau karena ia begitu jauh mengatasi dunia, dan begitu lelah dengannya, sehingga ingin cepat-cepat berpindah darinya, atau karena pekerjaannya sudah selesai, dan selesai dengan lebih cepat karena ia mengerjakannya dengan begitu tekun. Perhatikanlah, Allah sering kali mengambil paling cepat orang-orang yang paling dikasihi-Nya, dan waktu yang terhilang dari mereka di bumi akan diperoleh di sorga, bagi keuntungan mereka yang tak terutarakan.
(2) Menurut waktu dunia. Itu terjadi ketika semua bapa leluhur yang disebutkan dalam pasal ini masih hidup, kecuali Adam, yang mati lima puluh tujuh tahun sebelumnya, dan Nuh, yang dilahirkan enam puluh sembilan tahun sesudahnya. Kedua orang itu diberi peneguhan-peneguhan yang nyata akan iman mereka dengan cara-cara lain, tetapi kepada semua orang lain, yang menjadi atau mungkin menjadi saksi-saksi dari pengangkatan Henokh, hal itu menjadi dorongan nyata bagi iman dan pengharapan mereka berkenaan dengan kehidupan yang akan datang.
2. Bagaimana pengangkatannya diungkapkan: Lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.
(1) Ia tidak ada lagi di dunia ini. Itu bukanlah akhir dari keberadaannya, melainkan dari keberadaannya di sini: ia tidak ditemukan, demikian Rasul Paulus menjelaskannya berdasarkan Septuaginta. Tidak ditemukan oleh teman-temannya, yang mencarinya seperti rombongan nabi mencari Elia (2Raj. 2:17). Tidak ditemukan oleh musuh-musuhnya, yang, menurut sebagian orang, sedang mengejar-ngejarnya, untuk membunuh dia dalam kegeraman mereka terhadapnya karena kesalehannya yang tersohor. Tampak dari nubuatannya bahwa pada waktu itu ada banyak orang berdosa yang tidak saleh, yang berkata-kata nista, dan mungkin berbuat nista juga, terhadap umat Allah (Yud. 1:15). Namun, Allah menyembunyikan Henokh dari mereka, bukan di bawah sorga, melainkan di dalam sorga.
(2) Allah mengangkat tubuh dan jiwanya bagi diri-Nya sendiri di taman sorga Firdaus, melalui pelayanan para malaikat, seperti sesudahnya Ia mengangkat Elia. Ia diubah, seperti orang-orang kudus didapati hidup nanti pada kedatangan Kristus untuk kali kedua. Bilamana orang baik meninggal, Allah mengambilnya, menjemputnya dari sini, dan menerimanya bagi diri-Nya sendiri. Berkenaan dengan Henokh, Rasul Paulus menambahkan bahwa sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah, dan ini adalah laporan baik yang diperolehnya. Perhatikanlah,
[1] Berjalan bersama Allah membuat Allah senang.
[2] Kita tidak dapat berjalan bersama Allah untuk menyenangkan-Nya kecuali dengan iman.
[3] Allah sendiri akan memberikan kehormatan kepada orang-orang yang dengan iman berjalan bersama-Nya untuk menyenangkan-Nya. Ia akan mengakui mereka sekarang, dan bersaksi bagi mereka di hadapan para malaikat dan manusia pada hari penghakiman agung. Orang-orang yang tidak mempunyai kesaksian ini sebelum pengangkatan, akan mendapatinya setelah itu.
[4] Orang-orang yang perilaku hidupnya di dunia benar-benar kudus akan mendapati perpindahan mereka dari dunia benar-benar membahagiakan. Pengangkatan Henokh bukan hanya merupakan suatu bukti dari iman akan adanya kehidupan yang akan datang, dan akan kemungkinan keberadaan tubuh dalam keadaan mulia di kehidupan itu, melainkan juga suatu dorongan bagi pengharapan semua orang yang berjalan bersama Allah bahwa mereka akan selama-lamanya berada bersama-sama dengan Dia: kesalehan yang gemilang akan dimahkotai dengan kehormatan-kehormatan yang gemilang.
No comments:
Post a Comment