Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 4:9-12 (MHC)

Kejadian 4:9-12 (TB):
9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"
10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.
11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.
12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi."
PENGHUKUMAN ATAS KAIN

Di sini kita mendapati gambaran penuh tentang pengadilan dan penghukuman terhadap si pembunuh yang pertama. Karena pengadilan masyarakat belum ditegakkan untuk perkara pembunuhan, seperti yang terjadi sesudahnya (9:6), maka Allah sendirilah yang bertindak sebagai Hakim. Sebab, Dia adalah Allah yang berhak mengadakan pembalasan, dan yang pasti akan mengadakan tuntutan bagi darah, terutama darah orang-orang kudus. Amatilah,

I. Dakwaan terhadap Kain: Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Sebagian orang berpendapat bahwa Kain diperiksa seperti itu pada hari Sabat berikutnya setelah pembunuhan itu dilakukan, ketika anak-anak Allah datang, seperti biasanya, untuk menghadap TUHAN, dalam perkumpulan ibadah, dan Habel tidak ada, padahal biasanya tempatnya tidak kosong. Sebab, Allah di sorga memperhatikan siapa yang hadir dan siapa yang tidak dalam ibadah-ibadah umum. Kain ditanya, bukan hanya karena ada alasan yang benar untuk mencurigainya, sebab ia sudah mengungkapkan kebencian terhadap Habel dan merupakan orang yang terakhir kali bersamanya, melainkan juga karena Allah tahu bahwa ia bersalah. Walaupun begitu, Ia tetap bertanya kepadanya, agar Ia dapat membuat Kain mengakui kejahatannya, sebab orang-orang yang mau dibenarkan di hadapan Allah harus mendakwa diri mereka sendiri, dan orang yang bertobat akan berbuat demikian.

II. Pembelaan Kain: ia membela diri sebagai tidak bersalah, dan dengan demikian menambah dosanya dengan pemberontakan. Sebab,

1. Ia berusaha menutup-nutupi pembunuhan yang disengaja dengan dusta yang disengaja: Aku tidak tahu. Ia tahu betul apa yang sudah terjadi dengan Habel, namun dengan kurang ajar ia berani menyangkalnya. Dengan demikian, dalam diri Kain, Iblis sudah menjadi baik pembunuh maupun pendusta sejak mulanya. Lihatlah bagaimana pikiran orang-orang berdosa dibutakan, dan hati mereka dikeraskan dengan tipu daya dosa: sungguh buta dan aneh orang-orang yang menyangka bahwa mungkin bagi mereka untuk menyembunyikan dosa-dosa mereka dari Allah yang melihat semuanya. Dan sungguh keras hati, lagi aneh, orang-orang yang menyangka bahwa akan menguntungkan bagi mereka jika mereka menyembunyikan dosa-dosa mereka dari Allah, yang hanya mengampuni orang-orang yang mengakuinya.

2. Dengan kurang ajar Kain menuduh Hakimnya bodoh dan tidak adil, dengan mengajukan pertanyaan ini kepada-Nya: Apakah aku penjaga adikku? Seharusnya ia merendahkan dirinya sendiri, dan berkata, bukankah aku pembunuh adikku? Tetapi ia menampar wajah Allah sendiri, seolah-olah Allah menanyakan kepadanya pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya, yang sama sekali tidak harus dijawabnya: “ Apakah aku penjaga adikku? Tentu ia sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri, dan aku pun tidak pernah bertanggung jawab atasnya.” Sebagian orang berpendapat bahwa ia bermaksud mencela Allah dan pemeliharaan-Nya, seolah-olah ia berkata, “Bukankah Engkau penjaganya? Jika ia hilang, Engkaulah yang harus dipersalahkan, dan bukan aku, yang tidak pernah menjaganya.” Perhatikanlah, perhatian yang penuh kasih terhadap saudara-saudara kita, untuk menjagai mereka, adalah kewajiban besar, yang secara ketat dituntut dari kita, tetapi pada umumnya justru kita abaikan. Orang yang tidak memperhatikan urusan saudara-saudara mereka, dan tidak mau peduli ketika ada kesempatan, untuk mencegah terjadinya bahaya pada tubuh mereka, harta benda mereka, atau nama baik mereka, terutama jiwa mereka, pada dasarnya telah bersikap seperti Kain. Lihat Imamat 19:17; Filipi 2:4.

III. Kebersalahan Kain (ay. 10). Allah tidak memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan ini, tetapi menolak pembelaannya sebagai dusta dan tidak ada harganya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Engkau menganggap remeh perbuatan ini. Tetapi sudahkah engkau pertimbangkan betapa jahatnya perbuatan ini, betapa tebalnya noda, dan betapa beratnya beban dari kesalahan ini? Engkau ingin menyembunyikannya, tetapi itu tidak ada gunanya, bukti melawanmu sudah jelas dan tidak bisa dibantah: Darah adikmu itu berteriak.” Allah berbicara seolah-olah darah itu sendiri adalah saksi sekaligus penuntut, karena pengetahuan Allah sendiri bersaksi melawannya dan keadilan Allah sendiri menuntut untuk dipuaskan. Amatilah di sini,

1. Pembunuhan adalah dosa yang berteriak, tidak ada dosa lain yang berteriak lebih keras. Darah menuntut darah, darah yang dibunuh menuntut darah si pembunuh. Darah itu berteriak dalam seruan Zakharia dalam kematiannya (2Taw. 24:22), semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas. Atau darah jiwa-jiwa di bawah mezbah (Why. 6:10), berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar? Orang-orang yang menderita dengan sabar berseru meminta pengampunan (Bapa, ampunilah mereka), tetapi darah mereka berteriak meminta pembalasan. Meskipun mereka diam, darah mereka berteriak dengan nyaring dan terus-menerus, dan kepada teriakan itu telinga Allah yang benar senantiasa terbuka.

2. Darah dikatakan berteriak dari tanah, dari bumi, yang dikatakan mengangakan mulutnya untuk menerima darah adiknya dari tangannya (ay. 11). Bumi, seolah-olah, merah padam melihat mukanya sendiri ternoda oleh darah seperti itu, dan oleh sebab itu mengangakan mulutnya untuk menyembunyikan apa yang tidak bisa dihalanginya. Ketika langit menyingkapkan kesalahan Kain, bumi juga bangkit melawannya (Ayb. 20:27), dan mengeluh karena telah ditaklukkan kepada kesia-siaan seperti itu (Rm. 8:20-22). Kain, ada kemungkinan, menguburkan darah dan mayat Habel, untuk menyembunyikan kejahatannya. Tetapi “pembunuhan akan tersingkap.” Ia tidak bisa menguburkannya sedemikian dalam sehingga teriakannya tidak sampai ke langit.

3. Dalam bahasa aslinya kata itu berbentuk jamak, darah-darah adikmu, bukan hanya darahnya, melainkan juga darah semua orang yang mungkin akan menjadi keturunannya. Atau darah semua keturunan perempuan, yang harus, dengan cara serupa, memeteraikan kebenaran dengan darah mereka. Kristus menanggungkan semua darah itu pada satu angkatan (Mat. 23:35). Atau setiap tetes darah yang tercurah semuanya terhitung. Betapa baiknya bagi kita bahwa darah Kristus berbicara tentang hal-hal yang lebih baik daripada darah Habel! (Ibr. 12:24). Darah Habel berteriak meminta pembalasan, darah Kristus berteriak meminta pengampunan.

IV. Hukuman dijatuhkan atas Kain: Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah (ay. 11). Amatilah di sini,

1. Ia terkutuk, dipisahkan untuk segala kejahatan, ditempatkan di bawah murka Allah, seperti yang dinyatakan dari sorga melawan segala kefasikan dan kelaliman manusia (Rm. 1:18). Siapa yang tahu luas dan beratnya kutuk ilahi, seberapa jauh ia menjangkau, seberapa dalam ia menusuk? Jika Allah menyatakan orang terkutuk, maka terkutuklah orang itu. Sebab siapa yang dikutuk-Nya benar-benar terkutuk. Kutuk bagi ketidaktaatan Adam berakhir pada tanah: Terkutuklah tanah karena engkau. Tetapi, kutuk untuk pemberontakan Kain langsung menimpa dirinya sendiri: Terkutuklah engkau. Sebab Allah menyediakan belas kasihan bagi Adam, tetapi tidak bagi Kain. Kita semua pantas mendapatkan kutuk ini, dan hanya di dalam Kristuslah orang-orang percaya diselamatkan dari kutuk itu dan mewarisi berkat (Gal. 3:10-13).

2. Ia terkutuk dari bumi. Dari sana teriak itu sampai kepada Allah, dari sana kutuk itu sampai kepada Kain. Allah bisa saja mengadakan pembalasan melalui hantaman langsung dari sorga, melalui pedang malaikat, atau melalui sambaran petir. Namun, Ia memilih untuk menjadikan bumi sebagai penuntut darah, untuk membuatnya terus hidup di atas bumi, dan tidak langsung membinasakannya, dan hal ini pun dibuat menjadi kutuk baginya. Bumi selalu dekat dengan kita, kita tidak bisa lari darinya. Karena itu, jika bumi ini dijadikan sebagai pelaksana murka Allah, hukuman kita tidak bisa dihindari: itu adalah dosa, yakni, hukuman dosa, yang mengintip di depan pintu. Kain mendapatkan hukumannya di tempat ia memilih bagiannya dan mematrikan hatinya. Ada dua hal yang kita harapkan dari bumi, dan dengan kutuk ini kedua-duanya dijauhkan dari Kain dan diambil darinya: makanan dan tempat tinggal.

(1) Makanan dari bumi di sini ditahan darinya. Ini adalah kutuk bagi dia dalam penghiburan-penghiburannya, dan secara khusus dalam panggilan hidupnya: Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu. Perhatikanlah, setiap makhluk bagi kita adalah sebagaimana Allah menjadikannya, penghiburan atau salib, berkat atau kutuk. Jika bumi tidak memberikan hasil sepenuhnya kepada kita, maka kita harus mengakui kebenaran Allah sehubungan dengan hal tersebut. Sebab, kita tidak memberikan hasil kita sepenuhnya kepada-Nya. Sebelumnya tanah dikutuk untuk Adam, tetapi sekarang tanah itu dikutuk dua kali lipat untuk Kain. Bagian dari tanah yang menjadi miliknya, dan yang dikerjakannya, dibuat tidak subur dan tidak nyaman baginya karena darah Habel. Perhatikanlah, kefasikan orang fasik membawa kutuk pada segala sesuatu yang mereka kerjakan dan mereka miliki (Ul. 28:15, dst.), dan kutuk ini membuat pahit semua yang mereka miliki dan membuat mereka kecewa dalam segala sesuatu yang mereka kerjakan.

(2) Tempat tinggal di bumi sini tidak diberikan kepadanya: Engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi. Dengan ini ia dikutuk,

[1] Mendapat aib dan cela untuk selama-lamanya di tengah-tengah manusia. Harus selalu dipandang sebagai hal yang memalukan jika ada orang yang menampungnya, bercakap-cakap dengannya, atau memberinya sambutan apa pun. Dan sudah sewajarnyalah orang yang melepaskan dirinya dari segala perikemanusiaan itu dibenci dan ditinggalkan oleh seluruh umat manusia, dan menanggung nama buruk.

[2] Merasakan kegelisahan dan kengerian untuk selama-lamanya dalam pikirannya sendiri. Hati nuraninya sendiri yang merasa bersalah akan menghantuinya ke mana pun ia pergi, dan menjadikannya sebagai magormissabib, kegentaran-dari-segala-jurusan. Tempat peristirahan apa, tempat tinggal apa, yang bisa didapat oleh orang-orang yang membawa serta kegelisahan dalam hati mereka sendiri ke mana pun mereka pergi? Pastilah orang-orang yang diombang-ambingkan seperti itu merasa seperti pelarian. Tidak ada seorang pelarian di bumi ini yang merasa gelisah lebih daripada orang yang terus-menerus dikejar oleh rasa bersalahnya sendiri. Atau, tidak ada pengembara yang lebih keji daripada orang yang tunduk pada hawa nafsunya sendiri.

Ini adalah hukuman yang dijatuhkan atas Kain. Dan bahkan di dalam hukuman ini tercampur belas kasihan, sejauh bahwa ia tidak langsung dibinasakan, tetapi diberi ruang untuk bertobat. Sebab, Allah itu panjang sabar terhadap kita, Ia tidak ingin seorang pun binasa.

No comments: