Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 4:8 (MHC)

Kejadian 4:8 (TB)

Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.


KAIN MEMBUNUH HABEL

Di sini kita mendapati kelanjutan dari amarah Kain, dan berujung pada pembunuhan Habel, yang dapat dipandang dengan dua cara:

I. Sebagai dosa Kain. Dan sungguh dosa itu merah seperti kirmizi dan kain kesumba, dosa kelas kakap, dosa melawan terang dan hukum alam, yang bahkan membuat ngeri hati nurani orang jahat. Lihatlah di dalamnya,

1. Dampak-dampak yang menyedihkan dari masuknya dosa ke dalam dunia dan ke dalam hati manusia. Lihatlah betapa sifat yang rusak itu merupakan akar kepahitan, yang menghasilkan racun dan ipuh ini. Dimakannya buah terlarang oleh Adam tampak hanya sebagai dosa kecil, tetapi dosa itu membuka pintu bagi dosa yang paling besar.

2. Buah permusuhan yang ada di dalam keturunan ular melawan keturunan perempuan. Seperti halnya Habel memimpin pasukan para martir yang mulia (Mat. 23:35), demikian pula Kain berdiri di depan pasukan para penganiaya yang memalukan (Yud. 1:11). Begitu cepatnya dia yang diperanakkan menurut daging menganiaya yang diperanakkan menurut Roh. Demikian juga sekarang ini, kurang lebih (Gal. 4:29), dan akan demikianlah sampai perang akan berakhir dalam keselamatan kekal bagi semua orang kudus dan kebinasaan kekal bagi semua orang yang membenci mereka.

3. Lihatlah juga apa yang dihasilkan dari iri hati, kebencian, kekejian, dan segala perbuatan yang tak mengenal belas kasihan. Jika semua itu dimanjakan dan dituruti di dalam jiwa, maka ada bahaya bahwa itu akan melibatkan manusia dalam perbuatan membunuh yang jelas-jelas salah dan mengerikan. Lekas marah berarti membunuh di dalam hati (Mat. 5:21-22). Jauh terlebih lagi kebencian. Siapa yang membenci saudaranya sudah menjadi pembunuh di hadapan Allah, dan, jika Allah membiarkan dia sendirian begitu saja, maka tidak ada yang diinginkannya lagi selain kesempatan untuk menjadi pembunuh di hadapan dunia. Banyak hal yang memperberat dosa Kain.

(1) Saudaranyalah, saudaranya sendiri, yang dibunuhnya, anak ibunya sendiri (Mzm. 50:20), yang seharusnya dikasihinya, adiknya, yang seharusnya dilindunginya.

(2) Ia seorang adik yang baik, adik yang tidak pernah berbuat salah terhadapnya, atau membuatnya marah melalui perkataan atau perbuatan. Sebaliknya, keinginan adiknya itu selalu tertuju padanya, dan yang seperti sudah-sudah, dalam segala hal patuh dan hormat terhadapnya.

(3) Ia sudah diperingatkan dengan baik sebelumnya akan dosa ini. Allah sendiri sudah memberi tahu dia apa yang akan ditimbulkan oleh dosa itu, namun ia bersikeras dalam rancangannya yang biadab.

(4) Tampak bahwa ia menutup-nutupinya dengan menunjukkan sikap ramah dan baik: ia berbicara dengan Habel adiknya (KJV), begitu lepas dan akrab, sebab kalau tidak, Habel akan mencium adanya bahaya dan menjauh darinya. Demikian jugalah Yoab mencium Abner, lalu membunuhnya. Demikian jugalah Absalom menjamu Amnon kakaknya, lalu membunuhnya. Menurut Septuaginta [terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani, yang menurut pandangan orang diterjemahkan oleh tujuh puluh dua orang Yahudi, atas keinginan Ptolomeus Filadelfos, lebih dari 200 tahun sebelum Kristus], Kain berkata kepada Habel, marilah kita pergi ke padang. Jika demikian, kita yakin bahwa Habel tidak memahaminya (sesuai dengan pengertian sekarang) sebagai suatu tantangan, sebab kalau tidak, ia pasti tidak akan menerimanya. Sebaliknya, ia memahaminya sebagai undangan dari seorang kakak untuk pergi bekerja bersama-sama. Terjemahan bahasa Aram menambahkan bahwa Kain, ketika mereka bercakap-cakap di ladang, berkata bahwa tidak ada penghakiman yang akan datang, tidak ada kehidupan di masa depan, tidak ada imbalan dan hukuman di dunia lain, dan bahwa ketika Habel berbicara untuk membela kebenaran, Kain mengambil kesempatan itu untuk menjatuhkannya. Bagaimanapun juga,

(5) Apa yang dikatakan Kitab Suci kepada kita sebagai alasan mengapa ia membunuhnya sudah cukup untuk memperberat tindak pembunuhan itu. Hal itu karena segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar, sehingga dalam hal ini ia menunjukkan dirinya sebagai orang yang berasal dari si jahat (1Yoh. 3:12), anak Iblis, sebagai musuh segala kebenaran, bahkan musuh saudaranya sendiri, dan, dalam hal ini, ia digerakkan langsung oleh si pembinasa. Bahkan,

(6) Dalam membunuh saudaranya, ia langsung menghantam Allah sendiri. Sebab, tindakan Allah yang menerima Habel adalah apa yang dianggap memancing amarahnya, dan persis untuk alasan inilah ia membenci Habel, yaitu karena Allah mengasihinya.

(7) Pembunuhan terhadap Habel itu lebih tidak manusiawi lagi karena pada waktu itu ada begitu sedikit manusia yang mengisi dunia. Hidup manusia berharga kapan saja. Tetapi, secara khusus berharga pada waktu itu, dan kejahatan seharusnya dicegah.

II. Sebagai penderitaan Habel. Maut berkuasa sejak Adam berdosa, tetapi kita tidak membaca tentang siapa pun yang menjadi tawanannya sampai kisah ini. Dan sekarang,

1. Yang pertama mati adalah seorang kudus, seorang yang diterima dan dikasihi Allah, untuk menunjukkan bahwa, walaupun keturunan yang dijanjikan akan menghancurkan dia yang berkuasa atas maut, untuk menyelamatkan orang-orang percaya dari sengatnya, namun tetap saja mereka harus diperhadapkan pada hantamannya. Yang pertama masuk ke kubur masuk ke sorga. Allah ingin menyimpan bagi diri-Nya buah-buah yang pertama, yang pertama dari antara orang mati, yang pertama kali membuka rahim menuju dunia lain. Biarlah hal ini melenyapkan kengerian maut, bahwa sejak semula maut merupakan bagian dari umat pilihan Allah, yang mengubah sifat maut itu. Bahkan,

2. Yang pertama mati adalah seorang martir, dan mati bagi agamanya. Dan untuk orang-orang seperti itulah, daripada untuk para prajurit, lebih benar jika dikatakan bahwa mereka mati dalam kehormatan. Kematian Habel bukan saja tidak mengandung kutuk, melainkan juga ada mahkota di dalamnya. Begitu baik dan mengagumkannya sifat maut diubah, sehingga maut bukan saja dianggap tidak bersalah dan tidak menyakitkan bagi orang-orang yang mati di dalam Kristus, tetapi juga terhormat dan mulia bagi orang-orang yang mati bagi Dia. Janganlah kita menganggap aneh pencobaan yang membakar kita, atau mundur jika kita dipanggil untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Sebab, kita tahu ada mahkota kehidupan bagi semua orang yang setia sampai mati.

No comments: