Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 4:25-26 (MHC)

Kejadian 4:25-26 (TB):
25 Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya."
26 Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.
KELAHIRAN SET

Ini pertama kalinya Adam disebutkan dalam cerita pada pasal ini. Tidak diragukan lagi, pembunuhan terhadap Habel, dan ketidakbertobatan serta kemurtadan Kain, teramat sangat mendukakan dia dan Hawa. Dan kedukaan itu semakin besar karena kefasikan mereka sendiri sekarang menghajar mereka, dan kemurtadan-kemurtadan mereka menegur mereka. Kebodohan mereka telah membuat dosa dan maut masuk ke dalam dunia. Dan sekarang mereka dibuat susah olehnya, karena, melalui dosa dan maut itu, mereka kehilangan kedua anak mereka pada satu hari juga (27:45). Apabila orangtua dibuat berduka oleh kefasikan anak-anak mereka, mereka harus memanfaatkan kesempatan ini untuk meratapi kebobrokan sifat yang diturunkan dari mereka sendiri, yang merupakan akar kepahitan. Tetapi di sini kita mendapati apa yang membawa kelegaan bagi orangtua kita yang pertama dalam penderitaan mereka.

I. Allah mengizinkan mereka untuk melihat dibangunnya kembali keluarga mereka, yang dengan parah telah digoncang dan dibuat lemah oleh peristiwa yang menyedihkan itu. Sebab,

1. Mereka melihat anak mereka, anak yang lain sebagai ganti Habel (ay. 25). Lihatlah kebaikan dan kelembutan Allah terhadap umat-Nya, dalam cara-Nya berurusan dengan mereka melalui pemeliharaan-Nya. Apabila Ia mengambil satu penghiburan dari mereka, Ia memberi mereka penghiburan lain sebagai gantinya, yang bisa saja ternyata merupakan berkat yang lebih besar bagi mereka daripada apa yang sebelumnya mereka anggap sebagai gantungan hidup mereka. Anak yang lain ini adalah dia yang di atasnya jemaat akan dibangun dan dilanggengkan, dan dia datang sebagai ganti Habel, sebab pergantian para pengaku iman merupakan kebangunan para martir, dan seolah-olah menjadi kebangkitan para saksi Allah yang telah dibunuh. Demikianlah kita dibaptis bagi orang mati (1Kor. 15:29), yakni, kita, melalui baptisan, diperbolehkan masuk ke dalam jemaat, bagi atau sebagai ganti orang-orang yang, karena kematian, terutama yang mati syahid, dipindahkan darinya. Dan kita mengisi tempat yang mereka tinggalkan. Mereka yang membunuh hamba-hamba Allah berharap bahwa dengan berbuat demikian mereka akan menghabiskan orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi. Tetapi, mereka akan tertipu. Kristus akan tetap melihat keturunan-Nya. Allah bisa saja mengangkat anak-anak bagi-Nya dari batu-batu, dan menjadikan darah para martir sebagai benih jemaat, yang negerinya, kita yakin, tidak akan pernah terhilang karena ketiadaan ahli waris. Anak ini, melalui roh nubuat, mereka namai Set (artinya, tetap, menetap, atau ditempatkan), karena dalam keturunannya umat manusia akan terus berlanjut sampai akhir zaman, dan darinya Mesias akan diturunkan. Bila Kain, si pemimpin kemurtadan, dijadikan pengembara, maka Set, yang darinya jemaat yang benar akan muncul, adalah orang yang menetap. Hanya di dalam Kristus dan jemaat-Nya sajalah terdapat satu-satunya kediaman yang sejati.

2. Mereka melihat cucu mereka (ay. 26). Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga yang bernama Enos, nama umum untuk semua umat manusia, yang menunjukkan kelemahan, kerapuhan, dan kesengsaraan keadaan manusia. Orang-orang yang paling baik sifatnya teramat peka akan hal-hal ini, baik dalam diri mereka sendiri maupun dalam diri anak-anak mereka. Kita tidak akan pernah betul-betul menetap, tetapi harus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita ini rapuh.

II. Allah mengizinkan mereka untuk melihat hidupnya kembali agama dalam keluarga mereka: Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN (ay. 26). Orang bisa saja punya kesempatan untuk bisa melihat anak-anak dari anak-anaknya sendiri, namun itu tidaklah cukup untuk membuatnya benar-benar terhibur jikalau ia pun tidak sampai melihat damai atas Israel dan orang-orang yang diturunkan darinya berjalan di dalam kebenaran. Tidak diragukan lagi bahwa nama Allah sudah dipanggil-panggil sebelumnya, tetapi sekarang,

1. Para penyembah Allah mulai menggugah diri mereka sendiri untuk berbuat lebih banyak dalam hal agama daripada yang sudah mereka perbuat sebelumnya. Mungkin tidak lebih daripada yang sudah dilakukan pada awal mulanya, tetapi lebih daripada apa yang sudah dilakukan belakangan ini, semenjak agama ditinggalkan Kain. Sekarang manusia mulai menyembah Allah, bukan hanya di dalam kamar-kamar dan keluarga-keluarga mereka sendiri, melainkan juga di dalam perkumpulan-perkumpulan ibadah jemaat bersama secara khidmat. Atau sekarang ada pembaharuan yang begitu besar dalam agama sehingga seolah-olah suatu permulaan yang baru sedang mulai. Waktu itu mungkin bukan merujuk pada kelahiran Enos, melainkan pada keseluruhan cerita sebelumnya: waktu itu, melalui hati nurani yang bekerja secara alami, manusia melihat dalam diri Kain dan Lamekh dampak-dampak yang menyedihkan dari dosa. Ketika itu mereka melihat penghakiman-penghakiman Allah atas dosa dan orang-orang berdosa. Waktu itu mereka begitu hidup dan giat dalam beragama. Semakin buruk orang lain, semakin baik kita seharusnya, dan semakin gigih.

2. Para penyembah Allah mulai membedakan diri mereka sendiri. Dalam keterangan tersirat dikatakan bahwa waktu itu manusia mulai disebut dengan nama Tuhan, atau menyebut diri mereka sendiri dengan nama Tuhan. Oleh karena sekarang Kain dan orang-orang yang sudah meninggalkan agama mendirikan sebuah kota, dan mulai menyatakan diri tidak mau hidup saleh dan menjauhi agama, dan menyebut diri mereka sebagai anak-anak manusia, maka orang-orang yang setia pada Allah mulai menyatakan diri sebagai milik-Nya dan menyembah-Nya, dan menyebut diri mereka sebagai anak-anak Allah. Sekarang dimulailah pembedaan antara para pengaku iman dan orang-orang cemar, yang sudah dipertahankan sejak saat itu, dan akan terus demikian selama dunia masih berada.

No comments: