Kejadian 4:17-26 (TB):
1. NYANYIAN LAMA (Kamis, 6 Februari 2003)
2. MEMAKNAI PELAJARAN (Rabu, 27 April 2011)
Ada ungkapan mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Orang yang belajar dari pengalaman akan menuai hal yang baik. Namun orang yang tidak mau belajar, bisa mengulangi kesalahan yang sama. Namun banyak orang yang justru belajar secara salah dari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya. Mereka tidak mampu memahami makna dan inti yang sebenarnya dari peristiwa yang telah terjadi. Inilah yang dialami oleh Lamekh dalam bacaan kita hari ini.
Lamekh adalah cucu Kain, saudara Habel yang mati dibunuh Kain. Lamekh banyak tahu tentang kisah yang terjadi antara Kain dan Habel. Dia bahkan tahu bahwa Allah telah berfirman untuk melindungi Kain dalam pelariannya (15). Kisah Kain ini rupa-rupanya tertanam dalam pikiran Lamekh sehingga ketika terjadi peristiwa Lamekh membunuh seorang laki-laki karena berseteru dengan dia, Lamekh mengklaim bahwa Allah juga akan melakukan hal yang sama terhadap dia, bahkan lebih dari pada itu (23-24). Ini merupakan keyakinan sepihak dari Lamekh, karena sesungguhnya Allah tidak pernah datang kepadanya dan menyampaikan hal demikian. Lamekh mendasarkan hal ini pada pemahamannya yang salah tentang pengalaman Kain, kakeknya. Lamekh mengerti secara keliru mengenai kebaikan dan kedaulatan Allah yang diberikan kepada Kain. Dia menganggap bahwa hal yang sama dapat juga berlaku atas dirinya. Lamekh menghalalkan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah demi mencapai tujuannya sendiri (24). Kebaikan Allah dimaknai Lamekh secara sempit, demi pembenaran diri.
Kisah Lamekh menarik untuk direnungkan. Apa yang dia alami adalah contoh keyakinan yang salah dan kekeliruan dalam memahami sebuah pengalaman. Tuhan memberikan kepada kita begitu banyak kisah dalam Alkitab. Mari kita belajar dengan baik dan memahami kebenaran yang sesungguhnya ada di balik setiap peristiwa yang terjadi. Jangan sampai keliru dalam memetik pelajaran sebab apabila kita salah, kita dapat menerapkan hal yang salah pula dalam kehidupan kita. Tak mungkin menjadi pelaku kebenaran dalam kekeliruan.
Alkitab kini berbicara tentang kebudayaan. Manusia semakin kaya, berpakaian dan berharga diri. Sayang, semuanya itu adalah kemiskinan di mata Allah. Kain pun beranak cucu. Ia mendirikan kota pertama dalam sejarah manusia. Silsilah berlanjut sampai ke Lamekh. Setelah kasus Kain, kita bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi dalam drama umat manusia. Bagian narasi ini memberitahukan kita kelanjutannya. Manusia makin bobrok.Lamekh mengambil 2 istri padahal Allah berfirman bahwa laki-laki akan menikah dengan seorang istri (ayat 2:24). Ia juga membunuh seorang laki-laki. Pembunuhan ini adalah pembunuhan berdasarkan ketidakadilan. Kalau Tuhan berbicara mengenai pembalasan 7 kali lipat kepada Kain (=pembalasan setimpal), maka Lamekh berbicara tentang pembalasan yang berlebihan (ayat 70 kali lipat). Celakanya, Lamekh begitu bangga sampai menyanyikan nyanyian dendam. Kasih makin lenyap dari kehidupan manusia.
Sebagai pengganti Habel, lahirlah Set. Kalau kita memperhatikan bahwa Set lahir ketika Adam berumur 130 tahun (ayat 5:3), maka sebenarnya Set lahir sebelum generasi ketujuh Adam, Lamekh. Pertanyaannya, mengapa urutan ini ditempatkan tidak sesuai generasi? Tentu penekanannya adalah garis keturunan yang akan diperkenan Allah. Setelah Set melahirkan anaknya, orang-orang mulai beribadah kepada Tuhan, menyerukan nama Tuhan. Maka, terbagilah umat manusia ke dalam dua jalur: mereka yang menentang Allah, dan mereka yang bersandar kepada Allah.
Nyanyian lama adalah nyanyian pembalasan dendam. Tidak demikian dengan nyanyian baru. Nyanyian baru adalah nyanyian pembebasan, nyanyian kasih yang menang, kasih yang ditunjukkan oleh Anak Domba Allah (Why. 5:9)!
Renungkan: Nyanyian apa yang Anda nyanyikan selama hidup berbudaya di dunia?
2. MEMAKNAI PELAJARAN (Rabu, 27 April 2011)
Ada ungkapan mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Orang yang belajar dari pengalaman akan menuai hal yang baik. Namun orang yang tidak mau belajar, bisa mengulangi kesalahan yang sama. Namun banyak orang yang justru belajar secara salah dari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya. Mereka tidak mampu memahami makna dan inti yang sebenarnya dari peristiwa yang telah terjadi. Inilah yang dialami oleh Lamekh dalam bacaan kita hari ini.
Lamekh adalah cucu Kain, saudara Habel yang mati dibunuh Kain. Lamekh banyak tahu tentang kisah yang terjadi antara Kain dan Habel. Dia bahkan tahu bahwa Allah telah berfirman untuk melindungi Kain dalam pelariannya (15). Kisah Kain ini rupa-rupanya tertanam dalam pikiran Lamekh sehingga ketika terjadi peristiwa Lamekh membunuh seorang laki-laki karena berseteru dengan dia, Lamekh mengklaim bahwa Allah juga akan melakukan hal yang sama terhadap dia, bahkan lebih dari pada itu (23-24). Ini merupakan keyakinan sepihak dari Lamekh, karena sesungguhnya Allah tidak pernah datang kepadanya dan menyampaikan hal demikian. Lamekh mendasarkan hal ini pada pemahamannya yang salah tentang pengalaman Kain, kakeknya. Lamekh mengerti secara keliru mengenai kebaikan dan kedaulatan Allah yang diberikan kepada Kain. Dia menganggap bahwa hal yang sama dapat juga berlaku atas dirinya. Lamekh menghalalkan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah demi mencapai tujuannya sendiri (24). Kebaikan Allah dimaknai Lamekh secara sempit, demi pembenaran diri.
Kisah Lamekh menarik untuk direnungkan. Apa yang dia alami adalah contoh keyakinan yang salah dan kekeliruan dalam memahami sebuah pengalaman. Tuhan memberikan kepada kita begitu banyak kisah dalam Alkitab. Mari kita belajar dengan baik dan memahami kebenaran yang sesungguhnya ada di balik setiap peristiwa yang terjadi. Jangan sampai keliru dalam memetik pelajaran sebab apabila kita salah, kita dapat menerapkan hal yang salah pula dalam kehidupan kita. Tak mungkin menjadi pelaku kebenaran dalam kekeliruan.
No comments:
Post a Comment