Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 4:1-2 (MHC)

Kejadian 4:1-2 (TB):
1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.
KAIN DAN HABEL

Dalam pasal ini kita mendapati baik dunia maupun jemaat di dalam sebuah keluarga, sebuah keluarga kecil, keluarga Adam. Digambarkan di sini juga sebuah contoh dari tabiat dan keadaan kedua-duanya pada masa-masa sesudahnya, bahkan, di segala masa, sampai akhir zaman. Seperti halnya seluruh umat manusia digambarkan di dalam diri Adam, demikian pula pembedaan besar umat manusia ke dalam orang-orang kudus dan orang-orang berdosa, orang-orang saleh dan orang-orang fasik, anak-anak Allah dan anak-anak si jahat, di sini digambarkan dalam diri Kain dan Habel. Diberikan juga sebuah contoh awal dari permusuhan yang baru saja tercipta antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Di sini kita mendapati,

I. Kelahiran, pemberian nama, dan panggilan hidup Kain dan Habel (ay. 1-2).

II. Agama mereka, dan keberhasilan mereka yang berbeda-beda di dalamnya (ay. 3-4, dan sebagian ay. 5).

III. Kemarahan Kain terhadap Allah, dan teguran terhadapnya karena kemarahan itu (ay. 5-7).

IV. Pembunuhan Kain terhadap saudaranya, dan pengusutan untuk melawannya atas pembunuhan itu. Pembunuhan yang dilakukan (ay. 8). Langkah-langkah hukum melawannya:

1. Dakwaan terhadapnya (ay. 9, bagian awal).
2. Pembelaannya (ay. 9, bagian akhir).
3. Kebersalahannya (ay. 10).
4. Hukuman dijatuhkan atasnya (ay. 11-12).
5. Keluhannya terhadap hukuman itu (ay. 13-14).
6. Disahkannya hukuman itu (ay. 15).
7. Pelaksanaan hukuman itu (ay. 15-16).

V. Keluarga dan keturunan Kain (ay. 17-24).

VI. Kelahiran seorang anak dan cucu lain dari Adam (ay. 25-26).

Kain dan Habel (Kejadian 4:1-2)

Adam dan Hawa mempunyai banyak anak laki-laki dan perempuan (5:4). Tetapi tampaknya Kain dan Habel adalah dua anak yang tertua. Sebagian orang berpendapat bahwa mereka kembar, dan seperti halnya Esau dan Yakub, yang tua dibenci dan yang muda dikasihi. Meskipun Allah telah mengusir orangtua kita yang pertama dari taman firdaus, Ia tidak membiarkan mereka tanpa anak. Sebaliknya, untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai berkat-berkat lain yang sudah dipersiapkan-Nya bagi mereka, Ia menyimpan bagi mereka keuntungan dari berkat yang pertama itu, yaitu berkembang biak. Meskipun mereka orang-orang berdosa, bahkan meskipun mereka mengalami keadaan direndahkan dan dukacita dalam masa pertobatan, mereka tidak dibiarkan tanpa penghiburan, karena mereka diberi janji akan datangnya seorang Juruselamat untuk menopang mereka. 

Di sini kita mendapati,

I. Nama-nama dari kedua anak mereka.

1. Kain berarti kepemilikan. Sebab Hawa, ketika melahirkan Kain, berseru dengan sukacita, rasa syukur, dan harapan besar, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Amatilah, anak-anak adalah pemberian Allah, dan Dia harus diakui dalam membangun keluarga kita. Penghiburan kita di dalam mereka akan berlipat ganda dan dikuduskan apabila kita melihat mereka sebagai anak-anak yang datang kepada kita dari tangan Allah, yang tidak akan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan dan pemberian-pemberian tangan-Nya sendiri. Meskipun Hawa melahirkannya dengan kesakitan sebagai akibat dosa, ia tidak kehilangan rasa belas kasihan Allah dalam penderitaan-penderitaannya. Penghiburan-penghiburan, meskipun bercampur baur dengan penderitaan, adalah melebihi apa yang pantas kita dapatkan. Dan oleh sebab itu, keluhan-keluhan kita janganlah menenggelamkan ucapan-ucapan syukur kita. Banyak orang beranggapan bahwa Hawa menyombongkan diri dengan menyangka anak ini sebagai keturunan yang dijanjikan, dan bahwa karena itulah ia demikian bermegah di dalam anak ini, sebagaimana perkataannya bisa dibaca, aku telah mendapat seorang anak laki-laki, TUHAN, Allah manusia. Jika demikian, kekeliruannya sangat menyedihkan, seperti Samuel, ketika ia berkata, “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya” (1Sam. 16:6). Ketika anak-anak lahir, siapa bisa menduga bagaimana jadinya mereka nanti? Dia yang disangka sebagai seorang laki-laki, TUHAN, atau setidak-tidaknya seorang laki-laki dari TUHAN, dan untuk melayani-Nya sebagai imam keluarga, menjadi musuh bagi TUHAN. Semakin sedikit kita berharap dari makhluk ciptaan, semakin tertanggungkan kekecewaan-kekecewaan yang akan kita rasakan.

2. Habel berarti kesia-siaan. Ketika ia menyangka sudah memperoleh keturunan yang dijanjikan dalam diri Kain, ia begitu terbawa-bawa oleh perasaan senang karena memilikinya, sehingga anaknya yang lain hanyalah kesia-siaan baginya. Bagi mereka yang mempunyai kepentingan di dalam Kristus, dan menjadikan-Nya segala-galanya bagi mereka, maka hal-hal lain tidak berarti sama sekali. Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin lama kita hidup di dunia ini, semakin kita dapat melihat kesia-siaannya. Apa yang pada awalnya kita gemari sebagai barang milik, sesudahnya kita mempunyai alasan untuk mengabaikannya sebagai barang sepele. Nama yang diberikan kepada anak ini ditimpakan kepada seluruh bangsa manusia (Mzm. 39:6). Setiap orang dalam keadaannya yang terbaik hanyalah Abel – kesia-siaan. Marilah kita berusaha untuk melihat baik diri kita sendiri maupun orang lain secara demikian. Kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.

II. Pekerjaan Kain dan Habel. Amatilah,

1. Mereka berdua mempunyai panggilan hidup. Meskipun mereka ahli waris yang berhak atas dunia, dengan asal-usul yang terhormat dan harta milik yang banyak, namun mereka tidak dibesarkan dalam kemalasan. Allah memberi ayah mereka sebuah panggilan hidup, bahkan dalam keadaannya yang masih murni, maka Ia pun memberi mereka suatu panggilan hidup. Perhatikanlah, adalah kehendak Allah bahwa setiap dari kita harus mempunyai sesuatu untuk dikerjakan di dunia ini. Orangtua haruslah membesarkan anak-anak mereka untuk mengerjakan suatu usaha. “Berilah mereka Alkitab dan panggilan hidup (ujar Tuan Dod yang baik), maka Allah akan beserta mereka.”

2. Pekerjaan mereka berbeda-beda, agar mereka bisa berbarter dan bertukar satu sama lain bilamana diperlukan. Dalam kehidupan bersama, setiap anggota saling membutuhkan dan saling mengasihi dengan cara saling bertukar untuk memenuhi kebutuhan masing-masing.

3. Pekerjaan mereka adalah panggilan hidup sebagai petani, pekerjaan ayah mereka, yang merupakan panggilan hidup yang sangat diperlukan, sebab raja sendiri dipenuhi kebutuhannya oleh hasil ladang, tetapi memerlukan kerja keras, dan perhatian serta pengawasan secara terus-menerus. Pekerjaan ini sekarang dipandang sebagai pekerjaan rendah. Orang-orang miskin dari negeri menjadi tukang-tukang kebun anggur dan peladang-peladang (Yer. 52:16). Tetapi panggilan hidup itu sama sekali tidak menjadi penghinaan bagi mereka. Sebaliknya, itu merupakan suatu kehormatan bagi mereka.

4. Tampak bahwa, dari urutan cerita itu, Habel, meskipun sebagai adik, adalah orang yang pertama kali menekuni panggilannya, dan mungkin teladannya ini mendorong Kain.

5. Habel memilih pekerjaan yang paling dekat dengan kehidupan kontemplasi dan beribadah, sebab pekerjaan menggembala memang secara khusus dipandang sebagai mendukung kehidupan seperti itu. Musa dan Daud menggembala domba, dan di dalam kesendirian mereka bercakap-cakap dengan Allah. Perhatikanlah, panggilan atau keadaan hidup yang paling baik bagi kita, dan yang harus kita pilih, adalah panggilan atau keadaan hidup yang paling baik bagi jiwa kita, yang paling tidak membuat kita rentan terhadap dosa dan memberi kita kesempatan paling besar untuk melayani dan menikmati hadirat Allah.

No comments: