Kejadian 3:1 (TB)
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
1. Ular (nahash). Narasi mengisahkan sang penggoda sebagai salah satu jenis hewan yaitu yang paling cerdik di antara semua hewan yang lain. Kata Ibraninya mengandung pengertian kelicinan yang istimewa. (Legenda dari kalangan para rabi mengatakan bahwa ular berjalan tegak.) Ular itu memiliki kemampuan untuk berbicara dan bercakap-cakap secara bebas dengan korbannya. Ular ini merupakan makhluk yang lihai, berakal busuk, dan cerdik. Eksegese yang belakangan mengidentifikasi ular ini dengan Iblis. Berdasarkan kebenaran Alkitab selanjutnya, kita benar jika berkesimpulan bahwa ular adalah sarana pilihan khusus Iblis untuk penggodaan ini. Di dalam Wahyu 12:9 penggoda ini disebut "naga besar itu, si ular tua yang disebut Iblis atau Satan" (Milton, Paradise Lost, Buku IX). Kata nãhãsh yang artinya membuat suara mendesis, tidak diragukan lagi mengacu kepada makhluk yang kita kenal sebagai ular. Paulus menyatakan bahwa Iblis menjadikan dirinya "seperti malaikat terang" (II Kor. 11:14). Iblis memilih hewan paling cerdik, paling licik, paling berhati-hati, lalu menguasai sepenuhnya makhluk tersebut untuk tindakan merusak yang dilakukannya. Yesus mengatakan tentang Iblis, "Ia adalah pendusta dan bapa segala dusta" (Yoh. 8:44; bdg. Rm. 16:20; II Kor. 11:3; I Tim. 2:14; Why. 20:2).
Cara menipu yang dipakai ular menghadapi Hawa ialah mengubah arti dari larangan Allah dan kemudian membuat larangan yang telah diubah tersebut dicemoohkan. Si penggoda pura-pura terkejut bahwa Allah melakukan kesalahan dengan mengeluarkan perintah seperti itu. Kemudian dia berusaha untuk meruntuhkan iman perempuan tersebut dengan menanamkan benih-benih keraguan, kecurigaan dan gambaran-gambaran palsu mengenai Yang Mahakuasa dan tujuan-tujuan-Nya di dalam pikiran perempuan itu. Tindakan tersebut merupakan usaha sengaja untuk merendahkan Allah. Jika iman gagal, landasan kokoh dari perilaku moral langsung runtuh. Dari ketidakpercayaan menuju kepada dosa dan malu hanya memerlukan sebuah langkah kecil.
No comments:
Post a Comment