Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 3:1-7 (SH)

Kejadian 3:1-7 (TB):
Manusia jatuh ke dalam dosa
1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
1. TELANJANG (Senin, 3 Februari 2003)

Manusia itu miskin: telanjang. Namun, dalam ketelanjangannya ia kaya karena kemuliaan Allah terpancar membungkus badannya. Mereka mula-mula telanjang, namun mereka tidak malu -- lagi pula, mengapa kemuliaan membuat malu? Kisah ini tidak berhenti dalam kemapanan dalam situasi taman tanpa cela. Narasi bergerak menuntun kita masuk ke dalam adegan-adegan mencengangkan.

Ular tokoh perantara, alat sastra penulis untuk membawa kita memahami pesan-pesan teologis yang dalam. Tidak jelas bagaimana ular itu mengetahui akibat dari memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (apakah ia sudah mencicipinya?). Kita juga tidak mengetahui motivasinya berbicara kepada Hawa. Namun, ada kemungkinan bahwa ular memang sengaja memutar-balikkan perkataan Allah dengan motivasi yang masih merupakan misteri bagi kita (memperdayakankah ia [lih. 3:13-14]?). Ular menambahi perkataan Tuhan karena sebenarnya Tuhan tidak melarang Hawa untuk makan segala macam buah. Tentu ada kesan tertentu yang ular itu ingin timbulkan dalam diri Hawa terhadap Allah. Arti dari "pengetahuan yang baik dan yang jahat" mengacu ke pengetahuan yang utuh bahkan sempurna, baik di dalam pemahaman maupun pengalaman, baik intelektual maupun moral -- atau lebih keras lagi dapat dikatakan mahatahu. Hawa tergoda untuk menjadi mahatahu seperti Allah, dan tidak mau tunduk kepada Allah lagi. Ia tidak puas dengan keadaannya sendiri. Adam pun demikian, ia tidak puas menjadi manusia -- ia ingin melompat ke atas!

Iblis telah "jatuh ke atas" (Confessiones, St. Augustine). Manusia pun telah jatuh ke atas mengikuti anjuran iblis. Ketika sadar bahwa mereka telanjang, mereka malu dan membuat pakaian: menjadi kaya, namun sebenarnya miskin sebab keluar dari kehendak Allah.

Renungkan: Jadilah kaya dengan menjadi puas terhadap anugerah Tuhan bagi diri Anda sekarang.


2. DOSA DAN AKIBATNYA (Sabtu, 5 April 2008)

Kisah yang luar biasa dalam perikop ini menjelaskan bagaimana dosa masuk ke dalam dunia dan merusak tatanan asri dunia ini. Pasangan suami istri (pasutri) pertama jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah Allah yang dengan jelas dan tegas disampaikan (Kej. 2:16-17).

Memang ular menjadi gara-gara pasutri pertama jatuh ke dalam dosa, namun tanggung jawab kesalahan itu bukan terutama pada ular melainkan pada diri mereka. Perempuan itu memberi diri meladeni tipu daya ular. Saat firman Tuhan diputarbalikkan, seharusnya ia menolaknya dengan tegas, bukan mendiskusikannya (ayat 2-3). Justru karena perempuan itu membuka ruang diskusi, ular berkesempatan menanamkan keraguan akan iktikad baik Tuhan. Bahwa Tuhan memaksudkan larangan memakan buah pengetahuan baik dan jahat itu adalah supaya manusia jangan menjadi sama seperti Diri-Nya (ayat 4-5). Justru itulah godaan yang manusia tidak dapat elakkan. Dalam hal ini, manusia pertama harus dipersalahkan karena ia hadir saat istrinya digoda. Namun bukannya mencegah, malah ia ikut hanyut dalam pelanggaran tersebut (ayat 6b). Pasutri pertama tergoda untuk menjadi sama dengan Pencipta-Nya. Kalau mereka menjadi sama dengan Tuhan, tahu mengenai apa yang baik dan yang jahat, maka mereka tidak lagi memerlukan Tuhan untuk mengatur kehidupan mereka dan memberi tahu berbagai perintah dan larangan kepada mereka.

Saat keduanya memakan buah larangan tersebut, mereka mendapati diri tidak lagi bisa terbuka di hadapan satu sama lain. Sadar akan ketelanjangan mereka, mereka memerlukan sesuatu untuk menutupi diri mereka dari penglihatan pasangannya. Itulah akibat dosa. Manusia jadi mengenali perkara yang baik dan yang jahat, tetapi tidak mampu memilih yang baik melainkan diperbudak oleh yang jahat. Tragis bukan? Hal itu akan nyata saat Allah meminta pertanggungjawaban pasutri pertama, mereka mengelak dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain.

No comments: