Kejadian 3:1-5 (TB):
KELICIKAN SI PENCOBA; DESAKAN SI PENCOBA
Kisah sedih dalam pasal ini secara keseluruhan mungkin sesedih kisah sedih mana pun yang kita dapati di seluruh Alkitab. Dalam pasal sebelumnya kita mendapati gambaran yang menyenangkan tentang kekudusan dan kebahagiaan nenek moyang pertama kita, anugerah dan kemurahan hati Allah, serta kedamaian dan keindahan seluruh ciptaan. Semuanya baik, sangat baik. Namun di sini suasana berubah. Di sini kita menemukan penggambaran tentang dosa dan kesengsaraan nenek moyang pertama kita, kemurkaan dan kutukan Allah terhadap mereka, kedamaian ciptaan yang terusik, dan keindahannya yang ternoda dan tercemar. Semuanya buruk, sangat buruk. “Ah, betapa emas itu telah menjadi pudar, dan emas yang teramat murni itu berubah!” Oh, betapa hati kita sangat tersentuh oleh catatan ini! Karena kita semua terkait erat di dalamnya, janganlah kisah itu seperti dongeng yang diceritakan kepada kita. Secara umum isi pasal ini adalah (Rm. 5:12), “Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Dengan demikian kematian menimpa semua orang, sebab semua orang telah berdosa. Secara lebih khusus, di sini terdapat,
I. Orang yang tidak berdosa digoda (ay. 1-5).
II. Orang yang tergoda memberontak (ay. 6-8).
III. Orang yang memberontak didakwa (ay. 9, 10).
IV. Sesuai dakwaan, mereka mengaku (ay. 11-13).
V. Sesuai pengakuan mereka, hukuman ditetapkan (ay. 14-19).
VI. Setelah penetapan hukuman, pelaksanaannya ditunda (ay. 20-21).
VII. Walaupun hukuman mereka ditunda, sebagian pelaksanaannya sudah dilakukan (ay. 22-24).
Dan kalau bukan karena pernyataan kemurahan hati tentang penebusan oleh keturunan yang dijanjikan, mereka dan seluruh ras mereka, yang bersalah dan menurun akhlaknya, pasti sudah dibiarkan dalam keadaan putus asa tanpa akhir.
Kelicikan Si Pencoba; Desakan Si Pencoba (Kejadian 3:1-5)
Di sini kita mendapati uraian tentang pencobaan yang dipakai Iblis untuk menyerang orangtua pertama kita, untuk menarik mereka ke dalam dosa, dan yang ternyata mematikan bagi mereka. Perhatikanlah di sini,
I. Si penggoda, yaitu si Iblis, dalam wujud dan rupa seekor ular.
1. Sudah pasti si iblislah yang memperdayai Hawa. Iblis dan Setan adalah si ular tua (Why. 12:9), suatu roh yang sangat jahat, diciptakan sebagai malaikat terang dan pelayan terdekat takhta Allah, tetapi oleh dosa menjadi murtad dari keadaan awalnya dan memberontak melawan mahkota dan kemuliaan Allah. Banyak malaikat jatuh, tetapi yang menyerang orangtua pertama kita ini pastilah penghulu roh-roh jahat, pemimpin utama dalam kelompok pemberontak itu. Begitu melakukan dosa, dia langsung menjadi Iblis, begitu menjadi pengkhianat langsung menjadi pencoba, karena dia sangat gusar terhadap Allah dan kemuliaan-Nya, dan dengki terhadap manusia dan kebahagiaannya. Dia mengetahui bahwa dia tidak dapat menghancurkan manusia kecuali dengan cara merusak moral mereka. Bileam tidak dapat mengutuk Israel, namun dapat mencobai Israel (Why. 2:14). Oleh karena itu, permainan yang terpaksa dimainkan Iblis adalah menarik orangtua pertama kita kepada dosa, dan dengan demikian memisahkan mereka dari Allah mereka. Jadi Iblis sejak semula adalah pembunuh, dan pembuat kejahatan yang luar biasa. Seluruh ras manusia di sini sesungguhnya hanya memiliki satu kelemahan, dan tepat pada kelemahan itulah Iblis menyerang. Yang menjadi lawan dan musuh adalah si jahat itu.
2. Iblis tampak dalam rupa seekor ular. Entah itu hanya dalam wujud dan penampilan kasat mata seekor ular (seperti yang menurut beberapa orang terjadi dalam Kel. 7:12), atau benar-benar seekor ular hidup yang digerakkan dan dirasuki oleh Iblis, tidaklah pasti. Tetapi, dengan seizin Allah keduanya mungkin. Iblis memilih untuk memainkan peranannya sebagai seekor ular,
(1) Karena ular adalah makhluk yang tampaknya bagus, memiliki kulit yang berbintik dan berbelang, dan waktu itu berdiri tegak. Mungkin itu adalah seekor ular terbang, yang kelihatannya datang dari tempat tinggi sebagai pembawa pesan dari dunia atas, salah satu serafim, karena ular-ular naga bisa terbang (Yes. 14:29). Banyak godaan yang berbahaya datang kepada kita dalam warna-warni yang indah dan meriah tetapi hanya sebatas penampilan luarnya saja, dan seakan-akan datang dari atas, karena Iblis dapat kelihatan seperti malaikat terang. Dan,
(2) Karena ular adalah makhluk yang licik. Sifat itu mendapat perhatian di sini. Banyak contoh yang diberikan tentang kelicikan si ular, baik dalam melakukan kejahatan maupun dalam menyelamatkan dirinya setelah selesai. Kita diperintahkan untuk cerdik seperti ular-ular. Tetapi ular ini, karena digerakkan oleh si Iblis, sudah pasti lebih licik daripada yang lainnya, karena Iblis, walaupun dia kehilangan kekudusan, tetap memiliki kecerdasan malaikat, dan cerdik dalam melakukan kejahatan. Dia tahu lebih banyak keuntungan dengan menggunakan ular daripada yang kita sadari. Perhatikanlah, tidak ada sesuatu apa pun yang lebih banyak dipakai Iblis untuk memuaskan diri dan kepentingannya daripada kelicikan yang tidak kudus. Apa yang dipikirkan oleh Hawa tentang ular yang berbicara kepadanya ini tidak mungkin kita ketahui, sebab saya berpikir dia sendiri tidak tahu harus berpikir bagaimana. Pada mulanya, mungkin, dia mengira barangkali itu adalah malaikat yang baik, tetapi, setelah itu, dia mungkin mencurigai ada sesuatu yang salah. Patut kita perhatikan bahwa banyak di antara penyembah-penyembah berhala bukan Yahudi yang menyembah Iblis dalam bentuk dan wujud seekor ular, dan dengan demikian mengakui ketaatan mereka kepada roh murtad itu, dan memiliki sifat-sifatnya.
II. Orang yang dicobai adalah si perempuan, yang saat itu sedang sendirian, jauh dari suaminya, namun dekat dengan pohon terlarang. Kelicikan Iblis adalah,
1. Menyerang kaum yang lebih lemah dengan godaan-godaannya. Walaupun sempurna di antara kaumnya, namun kita dapat menduga kelemahannya dibanding Adam dalam hal pengetahuan, kekuatan, dan kesadaran pikiran. Beberapa orang berpikir Hawa menerima perintah, bukan langsung dari Allah, melainkan melalui suaminya, dan oleh karena itu bisa saja lebih mudah dibujuk untuk tidak mempercayai perintah itu.
2. Itu adalah cara Iblis memulai perbincangan dengan perempuan itu ketika dia sedang sendirian. Kalau saja dia tetap dekat dengan rusuk yang darinya dia baru saja diambil, dia tidak akan terpapar bahaya seperti itu. Ada banyak cobaan, yang mengambil banyak keuntungan dari kesendirian, tetapi persekutuan orang-orang kudus memberikan banyak kekuatan dan perlindungan bagi mereka. Iblis mendapatkan keuntungan karena menemukan dia dekat dengan pohon terlarang itu, dan mungkin memandang buahnya, sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Barangsiapa tidak mau makan buah terlarang, janganlah mendekati pohon terlarang. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya (Ams. 4:15).
3. Iblis mencobai Hawa, supaya melalui perempuan itu dia dapat mencobai Adam. Demikian pula dia mencobai Ayub melalui istrinya, dan mencobai Kristus melalui Petrus. Itulah cara dia mengirimkan cobaan melalui orang-orang yang tidak dicurigai, dan yang paling memiliki kepedulian dan pengaruh atas kita.
III. Godaan itu sendiri, dan pengaturannya yang penuh kepalsuan. Kita sering diberi tahu dalam Alkitab tentang bahaya yang mengancam kita melalui godaan Iblis, maksudnya (2Kor. 2:11), seluk-beluknya (Why. 2:24), tipu muslihatnya (Ef. 6:11). Contoh terbaik yang kita miliki tentang godaannya adalah ketika dia mencobai kedua Adam, di sini dan dalam Matius 4. Di sini dia berhasil, tetapi dalam Matius 4 dia dibuat tercengang. Apa yang dia katakan kepada mereka, yang tidak dalam genggamannya karena mereka tidak berdosa, dia katakan di dalam kita melalui hati kita sendiri yang penuh tipu daya dan pertimbangan-pertimbangan duniawinya. Ini membuat serangannya terhadap kita kurang nyata terlihat, namun tidak kurang berbahaya. Yang menjadi tujuan Iblis adalah membujuk Hawa supaya memetik buah terlarang, dan, untuk melakukan ini, dia menggunakan cara yang sama yang masih dia gunakan. Dia mempertanyakan apakah itu dosa atau tidak (ay. 1). Dia menyangkal bahwa ada bahaya di dalamnya (ay. 4). Dia menganjurkan banyak keuntungan yang diberikannya (ay. 5). Dan ini semua adalah pokok pembicaraannya yang biasa.
1. Dia mempertanyakan apakah dosa atau tidak kalau makan buah pohon itu, dan apakah buahnya benar-benar terlarang. Perhatikanlah,
(1) Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kata pertama menyiratkan ada sesuatu yang telah dikatakan sebelumnya, yang mendahului kalimat ini, dan yang berkaitan dengannya. Mungkin semacam percakapan Hawa dengan dirinya sendiri, yang ditangkap oleh Iblis, dan berdasarkan itu ia merancang pertanyaan ini. Dalam rangkaian pikiran, pikiran yang satu menghasilkan yang lain, dan mungkin akhirnya menghasilkan sesuatu yang buruk.
Perhatikanlah di sini,
Perhatikanlah di sini,
[1] Iblis tidak mengungkapkan rencananya pada awalnya, melainkan memberikan pertanyaan yang kelihatannya tidak bersalah: “Saya mendengar sedikit kabar, apakah benar? Bahwa Allah melarangmu makan buah pohon ini?” Jadi dia mau memulai percakapan, dan menarik dia ke dalam suatu diskusi. Barangsiapa ingin aman perlu merasa curiga, dan segan berbicara dengan penggoda.
[2] Iblis mengutip perintah tersebut dengan cara yang tidak tepat, seakan-akan ada larangan, bukan hanya terhadap pohon itu saja, melainkan semua pohon. Allah telah mengatakan, Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, kecuali satu. Dengan membesar-besarkan pengecualian larangan itu, dia berusaha memberi alasan bahwa perintah itu tidak benar: Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Hukum ilahi tidak dapat dikatakan salah selain kalau orang menyampaikannya dengan tidak tepat.
[3] Sepertinya dia mengatakannya dengan nada mengejek, mencela perempuan itu karena enggan mencampuri soal pohon itu. Seakan-akan dia berkata, “Engkau begitu baik dan waspada, dan amat sangat penurut, karena Allah telah mengatakan, Jangan kamu makan.” Iblis, karena dia adalah pendusta, maka dia juga adalah pengejek, sejak semula, dan pengejek-pengejek di akhir zaman adalah anak-anaknya.
[4] Yang menjadi tujuannya pada serangan pertama adalah untuk menghilangkan rasa tanggung jawab Hawa terhadap perintah Allah. “Pasti engkau keliru, tidak mungkin Allah mewajibkanmu untuk menjauh dari pohon ini. Dia tidak mungkin melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu.” Lihatlah di sini, bahwa kelicikan Iblislah yang mencemarkan nama baik hukum ilahi sebagai hal yang tidak pasti atau tidak masuk akal, dan dengan demikian menarik orang untuk berbuat dosa. Oleh karena itu kita bijaksana kalau mempertahankan kepercayaan yang teguh dan rasa hormat yang tinggi terhadap perintah Allah. Pernahkah Allah berkata, “Janganlah kamu berbohong, jangan menyebut nama-Nya dengan sembarangan, ataupun mabuk,” dan sebagainya? “Ya, saya yakin Dia mengatakannya, dan Dia mengatakannya dengan jelas, dan dengan kasih karunia-Nya aku akan mematuhinya, apa pun yang disarankan si penggoda yang bertentangan dengannya.”
(2) Dalam menjawab pertanyaan ini perempuan itu memberikan alasan yang jelas dan lengkap dari hukum yang berlaku atas mereka (ay. 2-3). Perhatikanlah di sini,
[1] Kelemahannya adalah melibatkan diri ke dalam percakapan dengan ular tersebut. Dia bisa saja merasa bahwa ular itu tidak memiliki maksud yang baik karena pertanyaannya, dan oleh karena itu seharusnya mulai menjauhkan diri dengan mengatakan Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiku. Tetapi rasa ingin tahunya, dan mungkin keheranannya karena mendengar seekor ular berbicara, mendorong Hawa terus berbicara dengannya. Perhatikanlah, suatu hal yang berbahaya jika kita tawar-menawar dengan suatu godaan, yang sejak awal seharusnya ditolak dengan penghinaan dan rasa jijik. Pasukan kota yang menyuarakan perundingan tidak jauh dari menyerah. Orang yang ingin terlindung dari bahaya harus menjauh dari jalan yang berbahaya. Lihat Amsal 14:7; 19:27.
[2] Hawa bersikap bijaksana dengan memperhatikan kebebasan yang Allah berikan kepada mereka ketika menjawab sindiran Iblis yang licik, seakan-akan Allah menempatkan mereka di taman firdaus hanya untuk menggoda mereka dengan pemandangan buah yang menarik tetapi terlarang. “Ya,” kata Hawa, “kita boleh makan buah pohon-pohon, berkat Pencipta kita, kita memiliki cukup banyak dan bermacam-macam jenis buah yang dapat kita makan.” Perhatikanlah, untuk mencegah kita merasa tidak nyaman dengan batasan-batasan agama, sebaiknya kita sering memperhatikan kebebasan dan kenyamanan yang diberikannya.
[3] Ini adalah suatu tanda ketetapan hati Hawa, bahwa dia setia kepada perintah tersebut, dan mengucapkannya kembali dengan tepat, dimulai dengan kepastian yang tidak terbantahkan: “Allah berfirman, aku yakin Dia telah mengatakannya, Jangan kamu makan,” dan dia menambahkan, “ ataupun raba buah itu,” kelihatannya dengan maksud yang baik, bukan (seperti dugaan beberapa orang) untuk mengisyaratkan seolah-olah perintah tersebut terlalu ketat ( jangan jamah ini, jangan kecap itu, dan jangan sentuh ini), melainkan untuk mempertahankannya: “Kita tidak boleh memakannya, oleh karena itu kita jangan menyentuhnya. Itu larangan yang paling utama, dan wewenang larangan itu kudus bagi kita.”
[4] Sepertinya Hawa agak bimbang mengenai ancaman perintah tersebut, dan tidak terlalu teliti dan tepat dalam mengucapkannya kembali dibandingkan ketika dia mengulangi perintah. Allah telah berkata, Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati, tetapi yang dia sampaikan hanyalah Nanti kamu mati. Perhatikanlah, iman dan tekad yang bimbang memberi keuntungan besar kepada si penggoda.
2. Iblis menyangkal adanya bahaya kalau makan buah itu. Dia bersikeras bahwa walaupun itu mungkin melanggar perintah, tetapi tidak akan mendatangkan hukuman: Sekali-kali kamu tidak akan mati. “Kamu tidak akan pernah mati” itulah arti kata yang dipakai, bertentangan langsung dengan apa yang Allah katakan. Maksudnya adalah,
(1) “Belum tentu kamu akan mati,” menurut beberapa orang. “Kamu dibuat percaya bahwa itu pasti, tetapi sebenarnya tidak sepasti itu.” Jadi Iblis berusaha keras mengguncangkan apa yang tidak bisa dia jatuhkan, dan membuat tidak benar kekuatan ancaman ilahi dengan mempertanyakan kepastiannya, dan begitu ada anggapan bahwa mungkin saja ada kesalahan atau kekeliruan pada firman Allah, maka pintu menuju ketidaksetiaan yang sesungguhnya pun terbuka. Mula-mula Iblis mengajar manusia supaya meragukan, dan lalu supaya menyangkal. Dia membuat orang menjadi ragu-ragu dahulu, dan kemudian secara bertahap membuat mereka menjadi atheis [ orang yang tidak percaya]. Atau,
(2) “Kamu pasti tidak akan mati,” menurut yang lainnya. Dia menegaskan pertentangannya dengan kata-kata jaminan yang sama yang Allah gunakan dalam mengesahkan ancaman tersebut. Dia mulai menyebutkan perintah itu dalam pertanyaan (ay. 1), tetapi karena ternyata perempuan itu setia kepada perintah tersebut, dia menghentikan pukulan itu dan membuat serangannya yang kedua terhadap ancaman tersebut. Pada serangannya yang kedua itu dia merasa perempuan itu ragu-ragu, karena dia tangkas dalam mengintai segala keuntungan dan menyerang dinding yang terlemah: Sekali-kali kamu tidak akan mati. Ini adalah kebohongan, betul-betul kebohongan, karena,
[1] Ini bertentangan dengan firman Allah, yang kita yakin adalah benar. Lihatlah 1Yohanes 2:21, 27. Kebohongan seperti itu bagaikan menuduh Allah sendiri berbohong.
[2] Ini bertentangan dengan pengetahuannya sendiri. Ketika Iblis memberi tahu mereka bahwa tidak taat dan memberontak itu tidak berbahaya, dia mengatakan apa yang dia ketahui tidak benar, melalui pengalaman menyakitkan. Dia sudah melanggar hukum ciptaan-Nya, dan mengalami kerugian karena tidak mendapatkan apa-apa dari perbuatannya itu. Tetapi dia memberi tahu orangtua pertama kita bahwa mereka tidak akan mati. Dia menutupi kesengsaraannya sendiri, supaya dia dapat menarik mereka ke dalam kesengsaraan yang sama. Dia masih menipu orang berdosa supaya menuju kehancuran mereka sendiri dengan cara seperti itu. Dia memberi tahu mereka bahwa, walaupun mereka berdosa, mereka tidak akan mati, dan ia lebih mendapatkan keuntungan daripada Allah, yang memberi tahu mereka, bahwa upah dosa ialah maut. Perhatikanlah, harapan akan dibebaskan dari hukuman merupakan pendorong yang besar bagi orang untuk melakukan segala kejahatan, dan membuat mereka tidak menyesal dalam melakukannya. Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil (Ul. 29:19).
3. Iblis menjanjikan keuntungan dengan makan buah itu (ay. 5). Di sini dia melanjutkan serangannya, dengan serangan pada akar, serangan mematikan pada pohon tempat kita menjadi cabangnya. Dia bukan hanya mau menjamin bahwa mereka tidak akan rugi karena buah itu, dan karena itu mengikat dirinya untuk menyelamatkan mereka dari bahaya, tetapi (jika mereka cukup bodoh untuk mengambil risiko berdasarkan jaminan dari seseorang yang sudah menjadi bangkrut) dia juga berusaha agar mereka akan mendapatkan keuntungan dari buah itu, yaitu suatu keuntungan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Dia tidak dapat membujuk mereka untuk menempuh bahaya kehancuran mereka sendiri, jika ia tidak memberi iming-iming kepada mereka bahwa mereka akan menjadi lebih baik.
(1) Dia mengisyaratkan kepada mereka perbaikan besar yang dapat mereka alami dengan makan buah ini. Dan dia menyesuaikan godaannya dengan keadaan mereka saat itu yang tanpa dosa, dengan menawarkan kepada mereka bukan kesenangan atau kepuasan duniawi, melainkan kenikmatan dan kepuasan intelektual. Ini adalah umpan-umpan yang dia pakai untuk menutupi jebakannya.
[1] “ Matamu akan terbuka. Kamu akan memperoleh jauh lebih banyak kuasa dan kesenangan dalam berpikir daripada yang kamu peroleh sekarang. Kamu akan mampu berpikir lebih luas, dan melihat segala sesuatu lebih dalam, lebih daripada yang kamu lakukan sekarang.” Dia berbicara seakan-akan saat itu mereka hanya memiliki penglihatan yang suram dan dangkal, jika dibandingkan dengan yang akan mereka miliki kemudian.
[2] “ Kamu akan menjadi seperti allah, seperti Elohim, allah yang perkasa, bukan hanya mahatahu tetapi juga mahakuasa.” Atau, “ Kamu akan menjadi seperti Allah itu sendiri, setara dengan-Nya, menandingi Dia. Kamu akan menjadi penguasa tertinggi dan tidak lagi dikuasai, mandiri dan tidak lagi bergantung.” Suatu nasihat yang paling tidak masuk akal! Seolah-olah mungkin saja bagi makhluk-makhluk yang belum lama ada untuk menjadi sama dengan Pencipta mereka yang berasal dari kekekalan.
[3] “Kamu akan mengetahui yang baik dan yang jahat, yaitu segala sesuatu yang ingin diketahui.” Untuk mendukung bagian godaan ini, dia menyalahgunakan nama yang diberikan kepada pohon itu. Nama itu dimaksudkan untuk mengajarkan pengetahuan praktis tentang yang baik dan yang jahat, yaitu mengenai kewajiban dan ketidaktaatan. Nama itu juga akan membuktikan pengetahuan yang berasal dari pengalaman tentang yang baik dan yang jahat, yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam pengertian ini, nama pohon itu adalah peringatan bagi mereka supaya tidak makan buahnya. Namun Iblis menyimpangkan pengertian tersebut, dan memutarbalikkannya untuk menghancurkan mereka, seakan-akan pohon ini akan memberi mereka pengetahuan yang berasal dari dugaan-dugaan tentang sifat-sifat, jenis-jenis dan asal usul baik dan jahat. Dan,
[4] Semua ini segera terjadi: “ Pada waktu kamu memakannya, kamu akan mengalami perubahan yang mendadak dan seketika menjadi lebih baik.” Nah, dengan semua hasutannya itu dia bermaksud menimbulkan dalam diri mereka: pertama, ketidakpuasan dalam keadaan mereka saat itu, seakan keadaan mereka itu tidaklah sebaik yang seharusnya. Camkanlah, tidak ada keadaan yang bisa membawa kepuasan, kecuali pikiran kita bisa tunduk dan merasa puas dengan keadaan itu sendiri. Lihat saja, Adam pun tidak merasa nyaman, bahkan di dalam firdaus sekalipun, dan demikian halnya juga dengan malaikat-malaikat dengan keadaan mereka pada mulanya (Yud. 6). Kedua, keinginan kuat untuk memiliki kedudukan yang lebih tinggi, seakan-akan mereka pantas menjadi dewa-dewa. Iblis telah menghancurkan dirinya sendiri dengan ingin menjadi seperti Yang Mahatinggi (Yes. 14:14), dan karena itu mencoba memengaruhi nenek moyang pertama kita dengan keinginan yang sama, supaya dia bisa menghancurkan mereka juga.
(2) Iblis menghasut mereka bahwa Allah tidak memiliki maksud yang baik terhadap mereka, ketika Ia melarang mereka makan buah itu: “Tetapi Allah mengetahui bahwa buah itu akan membuat kamu sangat hebat. Oleh karena itu, dengan rasa iri dan niat jahat terhadap kamu, Dia melarang kamu memakannya.” Seolah-olah Dia tidak berani membiarkan mereka makan buah pohon itu, karena dengan begitu mereka akan mengetahui kekuatan mereka sendiri, dan tidak akan lagi berada dalam keadaan yang lebih rendah melainkan mampu menyamai Dia. Atau seakan-akan Dia tidak rela membiarkan mereka mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan yang akan ditambahkan kepada mereka jika mereka makan buah pohon itu. Nah,
[1] Ini sungguh teramat merendahkan Allah, dan merupakan penghinaan terbesar yang dapat dilakukan terhadap-Nya, suatu kecaman terhadap kekuasaan-Nya, seolah-olah Dia takut terhadap ciptaan-Nya, dan bahkan kecaman terhadap kebaikan-Nya, seakan Dia membenci hasil perbuatan tangan-Nya sendiri dan tidak mau orang-orang yang diciptakan-Nya dibuat bahagia. Haruskah orang-orang terbaik merasa aneh jika digambarkan dengan cara yang salah dan dibicarakan dengan cara yang jahat, sementara Allah sendiri diperlakukan seperti itu? Sebagaimana Iblis mendakwa saudara-saudara di hadapan Allah, dia pun mendakwa Allah di hadapan saudara-saudara. Dengan demikian dia menabur perpecahan, dan merupakan bapa bagi orang-orang yang melakukan hal seperti itu.
[2] Itu adalah perangkap yang paling berbahaya bagi nenek moyang pertama kita, karena bertujuan menjauhkan kasih mereka dari Allah, dan juga untuk mengundurkan mereka dari kesetiaan mereka kepada-Nya. Iblis masih menarik orang ke dalam kepentingannya seperti itu dengan menghasut mereka dengan pikiran-pikiran yang sulit tentang Allah, dan harapan-harapan yang salah tentang manfaat dan keuntungan dari dosa. Oleh karena itu marilah kita, dalam menentang Iblis, selalu berpikiran baik tentang Allah sebagai kebaikan yang terbaik, dan berpikiran buruk tentang dosa sebagai yang terburuk dari segala yang jahat. Jadi marilah kita melawan Iblis, maka dia akan lari dari kita.
No comments:
Post a Comment