Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 1:31 (MHC)

Kejadian 1:31 (TB)

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.


PENCIPTAAN HARI KEENAM

Di sini kita melihat diterima dan dirangkumnya seluruh karya penciptaan. Adapun Allah, pekerjaan-Nya sempurna. Dan jika Ia memulai maka Ia juga akan mengakhiri, dalam pemeliharaan dan anugerah, seperti juga di sini dalam penciptaan. Amatilah,

I. Allah melihat kembali pekerjaan-Nya: Ia melihat segala yang dijadikan-Nya itu. Ia pun tetap melakukannya. Semua pekerjaan tangan-Nya berada dalam pengawasan-Nya. Dia yang menjadikan semuanya melihat semuanya. Dia yang menjadikan kita melihat kita (Mzm. 139:1-16). Yang Mahatahu tidak bisa dipisahkan dari Yang Mahakuasa. Segala pekerjaan Allah diketahui-Nya (Kis. 15:18, KJV). Tetapi hal ini merupakan permenungan yang khidmat dari Hikmat Kekal tentang salinan-salinan kebijaksana-an-Nya sendiri dan hasil-hasil kuasa-Nya sendiri. Dengan ini Allah telah menunjukkan teladan bagi kita untuk melihat kembali pekerjaan-pekerjaan kita. Setelah memberi kita kuasa untuk merenung, Ia berharap agar kita menggunakan kuasa itu, yaitu melihat tingkah laku kita (Yer. 2:23), dan memikirkannya (Mzm. 119:59). Apabila kita sudah menyelesaikan pekerjaan sehari, dan akan beristirahat pada malam hari, kita harus bercakap-cakap dengan hati kita sendiri tentang apa yang sudah kita lakukan sepanjang hari itu. Demikian pula apabila kita sudah menyelesaikan pekerjaan seminggu, dan akan beristirahat pada hari Sabat, kita harus mempersiapkan diri dengan cara yang sama untuk berjumpa dengan Allah kita. Dan apabila kita sudah menyelesaikan pekerjaan dalam hidup kita, dan akan beristirahat di dalam kubur, itulah saatnya untuk mengingat-ingat kembali, agar kita bisa mati dengan bertobat, dan dengan demikian meninggalkan hidup kita.

II. Kepuasan yang dirasakan Allah terhadap pekerjaan-Nya. Apabila kita harus melihat kembali pekerjaan-pekerjaan kita, kita mendapati, dengan rasa malu, bahwa banyak hal dikerjakan dengan amat buruk. Tetapi, ketika Allah melihat kembali pekerjaan-Nya, semuanya sungguh amat baik. Ia tidak menyatakannya baik sebelum Ia melihatnya baik, untuk mengajar kita agar tidak memutuskan suatu perkara sebelum kita mendengarnya. Pekerjaan mencipta adalah pekerjaan yang sungguh amat baik. Segala sesuatu yang dijadikan Allah dijadikan dengan baik, dan tidak ada cacat atau kekurangan apa pun di dalamnya.

1. Pekerjaan itu baik. Baik, sebab semuanya sesuai dengan pikiran Sang Pencipta, persis seperti apa yang diinginkan-Nya. Ketika salinannya harus dibandingkan dengan yang aslinya, ternyata itu sama persis, tidak ada kesalahan di dalamnya, tidak ada satu coretan pun yang salah tulis. Baik, sebab pekerjaan itu memenuhi tujuan penciptaannya, dan sesuai dengan maksud pekerjaan itu dirancang. Baik, sebab pekerjaan itu berguna bagi manusia, yang telah ditunjuk Allah sebagai tuan atas makhluk ciptaan yang kelihatan. Baik, sebab semua itu demi kemuliaan Allah. Dalam seluruh ciptaan yang kelihatan terdapat sesuatu yang menunjukkan keberadaan Allah dan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya, dan yang berkuasa untuk melahirkan, dalam jiwa manusia, kerinduan yang saleh akan Dia dan pemujaan terhadap-Nya.

2. Pekerjaan itu sungguh amat baik. Dari pekerjaan tiap-tiap hari (kecuali hari kedua) dikatakan bahwa pekerjaan itu baik, tetapi sekarang, pekerjaan itu sungguh amat baik. Sebab,

(1) Sekarang manusia sudah dijadikan, yang merupakan puncak dari semua jalan Allah, yang dirancang sebagai gambar yang kelihatan dari kemuliaan Sang Pencipta dan mulut bagi makhluk ciptaan dalam membawa puji-pujian bagi-Nya.

(2) Sekarang semua sudah dijadikan. Setiap bagiannya baik, tetapi seluruhnya secara bersama-sama sungguh amat baik. Kemuliaan dan kebaikan, keindahan dan keselarasan dari pekerjaan-pekerjaan Allah, baik pemeliharaan-Nya maupun anugerah-Nya, seperti penciptaan ini, akan tampak paling baik apabila mereka disempurnakan. Ketika batu utama diletakkan, kita akan berseru, bagus! Bagus sekali batu itu! (Za. 4:7). Oleh sebab itu, janganlah menilai apa pun sebelum waktunya.

III. Waktu diselesaikannya pekerjaan ini: Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Jadi, dalam enam hari Allah menjadikan dunia. Jangan sampai kita berpikir bahwa Allah tidak dapat menjadikan dunia dengan seketika. Ia yang berkata, jadilah terang, lalu terang itu jadi, bisa saja berkata, “Jadilah dunia,” maka dunia akan jadi, dalam sekejap mata, seperti pada hari kebangkitan (1Kor. 15:52). Tetapi Ia melakukannya dalam enam hari, agar bisa menunjukkan diri-Nya sebagai pekerja yang bebas, yang melakukan pekerjaan-Nya baik dalam cara-Nya sendiri maupun dalam waktu-Nya sendiri. Agar hikmat, kuasa, dan kebaikan-Nya tampak pada kita, dan direnungkan oleh kita, secara lebih jelas dan terpilah. Agar Ia bisa memberikan teladan bagi kita untuk bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Oleh sebab itu, hal ini dijadikan landasan dari perintah Allah yang keempat. Begitu besarnya peran hari Sabat dalam membantu memelihara agama di dunia sampai-sampai Allah memikirkannya dalam pembagian waktu penciptaan-Nya. Dan sekarang, sama seperti Allah melihat kembali pekerjaan-Nya, marilah kita melihat kembali renungan-renungan kita atas pekerjaan-Nya itu, maka kita akan mendapati bahwa renungan-renungan kita itu amat cacat dan berkekurangan, dan puji-pujian kita datar dan hambar. Oleh sebab itu, marilah kita menggugah diri kita sendiri, dan segenap jiwa kita, untuk menyembah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air, sesuai dengan maksud dan tujuan Injil kekal, yang diberitakan kepada semua bangsa (Why. 14:6-7). Segala pekerjaan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya, benar-benar memuji Dia. Dan, oleh karena itu, Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

No comments: