Psalms 16:1-2, 11

Preserve me, O God: for in thee do I put my trust.
O my soul, thou hast said unto the LORD, Thou art my Lord: my goodness extendeth not to thee;
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore.

`Psalms 16:1-2, 11`

☆———————"I can live because Your words, Lord"———————☆

Kejadian 1:26-28 (MHC)

Kejadian 1:26-28 (TB):
26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
PENCIPTAAN HARI KEENAM

Di sini kita mendapati bagian kedua dari pekerjaan pada hari keenam, yaitu penciptaan manusia, yang secara istimewa penting untuk kita perhatikan, agar kita mengenal diri kita sendiri. Amatilah,

I. Bahwa manusia diciptakan terakhir dari semua makhluk, agar tidak dicurigai, dengan cara apa pun, bahwa ia sudah menjadi penolong Allah dalam menciptakan dunia: pertanyaan itu haruslah senantiasa membuat manusia rendah hati dan malu, di manakah engkau, atau siapa pun dari jenismu, ketika Aku meletakkan dasar bumi? (Ayb. 38:4). Namun, adalah suatu kehormatan dan juga suatu kebaikan bagi manusia bahwa ia diciptakan terakhir: suatu kehormatan, sebab cara penciptaannya berkembang dari apa yang kurang sempurna menjadi yang lebih sempurna; dan juga adalah suatu kebaikan, sebab tidaklah pantas ia ditempatkan di dalam istana yang dirancang untuknya sampai istana itu benar-benar dibuat cocok dan diperlengkapi dengan perabotan untuk menerimanya. Manusia, segera setelah ia diciptakan, mempunyai seluruh ciptaan kelihatan di hadapannya, baik untuk direnungkannya maupun untuk dijadikan penghiburannya. Manusia diciptakan pada hari yang sama dengan binatang-binatang, karena tubuhnya dibuat dari tanah yang sama dengan tubuh mereka. Dan, selama ia berada dalam tubuh, ia mendiami bumi yang sama bersama-sama dengan mereka. Kiranya jangan sampai terjadi bahwa dengan memanjakan tubuh dan keinginan-keinginannya, kita menjadikan diri kita seperti bintang-binatang yang akan binasa!

II. Bahwa penciptaan manusia itu lebih merupakan pertanda dan tindakan langsung dari hikmat dan kuasa ilahi daripada penciptaan makhluk-makhluk lain. Kisah penciptaannya diperkenalkan dengan cara yang begitu khidmat, dan ditampilkan berbeda dari penciptaan makhluk-makhluk lain. Sampai saat ini sudah dikatakan, “Jadilah terang,” dan “Jadilah cakrawala,” dan “Hendaklah bumi, atau air, mengeluarkan” ini dan itu. Tetapi sekarang kalimat perintah itu diubah menjadi kalimat perundingan, “Baiklah Kita menjadikan manusia, yang untuknya makhluk-makhluk lain diciptakan: inilah pekerjaan yang harus Kita kerjakan dengan tangan kita sendiri.” Sebelumnya Ia berbicara sebagai Allah yang memiliki wewenang, di sini sebagai Allah yang berperasaan. Sebab, anak-anak manusia menjadi kesenangan-Nya (Ams. 8:31). Tampak seolah-olah ini merupakan pekerjaan yang begitu rindu untuk dikerjakan-Nya. Seolah-olah Ia berkata, “Setelah akhirnya Kita menyelesaikan bagian-bagian pengantarnya, marilah Kita sekarang mengerjakan pekerjaan utamanya, baiklah Kita menjadikan manusia.” Manusia dimaksudkan untuk menjadi suatu makhluk yang berbeda dari semua makhluk yang sudah diciptakan sampai saat ini. Daging dan roh, sorga dan bumi, harus ditempatkan bersama-sama di dalam dia, dan ia harus dipautkan kepada kedua dunia itu. Dan oleh sebab itu, Allah sendiri tidak hanya turun langsung untuk menciptakannya, tetapi juga berkenan mengungkapkan diri-Nya dengan cara seolah-olah Ia memanggil seorang penasihat untuk mempertimbangkan penciptaan manusia: Baiklah Kita menjadikan manusia. Ketiga pribadi dalam Allah Trinitas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, merundingkannya, dan bersepakat di dalamnya, karena manusia, ketika ia dijadikan, dimaksudkan untuk diabdikan dan dipersembahkan kepada Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dan dalam nama yang agung itulah kita, dengan alasan yang baik, dibaptis, sebab kepada nama yang agung itu jugalah kita berutang atas keberadaan kita. Biarlah Dia mengatur manusia, Dia yang berkata, baiklah Kita menjadikan manusia.

III. Bahwa manusia dijadikan dalam gambar dan rupa Allah, dua kata untuk mengungkapkan hal yang sama dan untuk membuat jelas satu sama lain. Gambar dan rupa menandakan gambar yang paling serupa, kemiripan yang paling dekat dari semua makhluk yang kelihatan. Manusia tidak dijadikan dalam rupa makhluk mana pun yang sudah ada sebelum dia, tetapi dalam rupa Penciptanya. Namun, tetap saja di antara Allah dan manusia terbentang jarak yang tak terbatas. Kristus sajalah yang merupakan gambar wujud pribadi Allah, sebagai Anak Bapa-Nya, karena mempunyai hakikat yang sama. Ini hanya sebagian dari kehormatan Allah yang diberikan kepada manusia, yang hanya merupakan gambar Allah seperti bayangan di dalam cermin, atau cetakan wajah raja pada uang logam. Gambar Allah pada manusia terletak pada ketiga hal berikut ini:

1. Dalam sifat dan pembawaannya, bukan sifat dan pembawaan tubuhnya (sebab Allah tidak mempunyai tubuh), melainkan sifat dan pembawaan jiwanya. Kehormatan ini memang diberikan Allah kepada tubuh manusia, bahwa Firman telah menjadi daging, Anak Allah mengenakan tubuh seperti tubuh kita, dan sebentar lagi akan mengenakan pada tubuh kita kemuliaan seperti kemuliaan-Nya. Dan hal ini bisa kita katakan dengan yakin, bahwa Kristus yang oleh-Nya Allah menjadikan dunia-dunia, bukan hanya dunia yang besar, melainkan juga dunia yang kecil, yaitu manusia, membentuk tubuh manusia, pada mulanya, sesuai dengan pola yang dirancang-Nya bagi diri-Nya sendiri dalam kegenapan waktu. Tetapi jiwa manusialah, jiwa besarnya, yang terutama menampakkan gambar Allah. Jiwa adalah roh, roh yang berakal dan tidak dapat mati, roh yang berkuasa dan bergerak, yang dalam hal ini menyerupai Allah, Bapa segala roh, dan Jiwa dunia. Roh manusia adalah pelita TUHAN. Jiwa manusia, ditimbang dari tiga kemampuannya yang mulia, yaitu mengerti, berkehendak, dan mempunyai kekuatan untuk bergerak, mungkin merupakan cermin yang paling cemerlang dan jernih di alam raya, yang di dalamnya kita bisa melihat Allah.

2. Dalam tempat dan wewenangnya: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa. Oleh karena ia berkuasa atas makhluk-makhluk yang lebih rendah, maka ia seolah-olah merupakan wakil Allah, atau raja muda di atas bumi. Makhluk-makhluk yang lebih rendah itu tidak mempunyai kemampuan untuk takut kepada Allah dan melayani-Nya, dan oleh sebab itu Allah telah menetapkan mereka untuk takut kepada manusia dan melayaninya. Namun, berkuasanya manusia atas dirinya sendiri melalui kebebasan kehendaknya lebih menyerupai gambar Allah daripada berkuasanya dia atas makhluk-makhluk.

3. Dalam kemurnian dan kelurusannya. Gambar Allah pada manusia terletak pada pengetahuan, kebenaran, dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Ia jujur (Pkh. 7:29). Dalam seluruh kekuatan alaminya, ia mempunyai kebiasaan untuk menyesuaikan diri dengan seluruh kehendak Allah. Pengertiannya melihat perkara-perkara ilahi secara jelas dan benar, dan tidak ada kesalahan atau kekeliruan apa pun dalam pengetahuannya. Kehendaknya siap tunduk pada kehendak Allah dalam hal apa saja, tanpa rasa enggan atau menolak. Semua perasaannya teratur, dan ia tidak mempunyai hawa nafsu atau kemarahan yang tidak pada tempatnya. Pikiran-pikirannya dengan mudah ditundukkan dan ditetapkan pada perkara-perkara yang terbaik, dan di dalamnya tidak ada keangkuhan atau sifat tidak mau diatur. Semua kekuatan yang lebih rendah tunduk pada perintah-perintah dan bimbingan-bimbingan kekuatan yang lebih tinggi, tanpa pemberontakan atau perlawanan apa pun. Demikian kudus, dan demikian berbahagianyalah orangtua kita yang pertama, dalam memiliki gambar Allah pada mereka. Dan kehormatan ini, yang diberikan kepada manusia pada mulanya, adalah alasan yang baik mengapa kita tidak boleh berkata-kata jahat satu terhadap yang lain (Yak. 3:9), tidak pula berbuat jahat satu sama lain (Kej. 9:6), dan mengapa kita tidak boleh merendahkan diri kita sendiri untuk melayani dosa, dan harus mengabdikan diri untuk melayani Allah. Tetapi betapa engkau sudah jatuh, hai putra fajar! Betapa gambar Allah pada manusia ini sudah rusak! Betapa sedikit yang tersisa darinya, dan betapa besar kerusakannya! Tuhan memperbaharui gambar Allah pada jiwa kita dengan anugerah-Nya yang menguduskan!

IV. Bahwa manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, dan diberkati dengan berkat kesuburan dan perkembangbiakan. Allah berkata, baiklah Kita menjadikan manusia, dan kemudian langsung diikuti, maka Allah menciptakan manusia. Ia melaksanakan apa yang sudah bertekad untuk dilakukan-Nya. Bagi kita, berkata dan berbuat adalah dua hal yang berbeda. Tetapi tidak demikian bagi Allah. Ia menciptakan laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa. Adam terlebih dahulu, dari tanah, lalu Hawa, dari rusuknya (ps. 2). Tampak bahwa untuk semua makhluk lainnya, Allah menciptakan banyak pasangan, tetapi untuk manusia bukankah Dia menjadikannya satu? (Mal. 2:15, KJV; TB: Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? – pen.), meskipun ada roh yang tinggal. Dari hal ini Kristus mengumpulkan alasan untuk melawan perceraian (Mat. 19:4-5). Bapak kita yang pertama, Adam, dibatasi untuk hanya memiliki satu istri. Dan, seandainya ia mengusirnya, tidak ada orang lain yang bisa dinikahinya, yang dengan jelas menunjukkan bahwa ikatan perkawinan itu tidak boleh dicerai-beraikan dengan seenaknya. Para malaikat tidak diciptakan laki-laki dan perempuan, sebab mereka tidak harus mengembangbiakkan jenis mereka (Luk. 20:34-36). Tetapi manusia dijadikan laki-laki dan perempuan, agar sifatnya bisa dikembangbiakkan dan bangsa manusia diteruskan. Api dan lilin, benda-benda penerang di dunia bawah ini, karena akan habis, dan padam, mempunyai kekuatan untuk menerangi yang lain. Tetapi tidak demikian dengan benda-benda penerang di langit: bintang yang satu tidak menyalakan bintang yang lain. Allah hanya menjadikan satu laki-laki dan satu perempuan, agar semua bangsa manusia mengenal diri mereka sendiri sebagai keturunan dari satu darah, dari nenek moyang yang sama, dan dengan demikian dapat tergugah untuk mengasihi satu sama lain. Allah, setelah membuat mereka mampu meneruskan sifat yang telah mereka terima, berkata kepada mereka, beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi. Di sini Ia memberi mereka,

1. Sebuah warisan yang luas: Penuhilah bumi. Inilah yang dikaruniakan kepada anak-anak manusia. Mereka diciptakan untuk mendiami seluruh muka bumi (Kis. 17:26). Inilah tempat di mana Allah telah menetapkan manusia untuk menjadi hamba dari pemeliharaan-Nya dalam memerintah makhluk-makhluk yang lebih rendah, dan, seolah-olah, untuk menjadi otak dari bola dunia ini. Dan untuk menerima kelimpahan Allah, yang padanya makhluk-makhluk lain hidup, tetapi tidak mengetahuinya. Juga untuk mengumpulkan pokok-pokok pujian bagi-Nya di dunia bawah ini, dan membayarkannya kepada Sang Atasan di atas (Mzm. 145:10). Dan, terakhir, untuk menjadi percobaan bagi dunia yang lebih baik.

2. Allah memberi mereka keluarga yang amat banyak dan langgeng, untuk menikmati warisan ini, dengan mengucapkan berkat atas mereka, yang karena itu keturunan mereka akan meluas sampai ke ujung-ujung bumi dan terus ada sampai di pengujung waktu. Kesuburan dan pertambahan bergantung pada berkat Allah: Obed-Edom mempunyai delapan anak, sebab Allah telah memberkati dia (1Taw. 26:5). Oleh karena berkat inilah, yang diperintahkan Allah pada mulanya, maka umat manusia masih tetap ada, dan seiring keturunan yang satu pergi, keturunan yang lain datang.

V. Bahwa Allah memberikan kepada manusia, setelah Ia menjadikannya, kekuasaan atas makhluk-makhluk yang lebih rendah, atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara. Meskipun manusia tidak membuat persediaan bagi ikan atau burung, ia berkuasa atas keduanya, terlebih lagi atas segala binatang melata yang merayap di bumi, yang lebih berada di bawah pemeliharaannya dan di dalam jangkauannya. Dengan ini Allah bermaksud memberikan kehormatan kepada manusia, supaya ia lebih terdorong untuk mendatangkan kehormatan bagi Penciptanya. Kekuasaan ini telah berkurang banyak dan terhilang karena kejatuhan. Namun demikian, pemeliharaan Allah melanjutkan banyak dari kekuasaan itu kepada anak-anak manusia sebanyak yang dibutuhkan untuk melindungi dan menyokong hidup mereka. Dan anugerah Allah telah memberikan kepada orang-orang kudus suatu hak yang baru dan lebih baik atas makhluk lain daripada hak yang terhilang karena dosa. Sebab, semua adalah kepunyaan kita jika kita kepunyaan Kristus (1Kor. 3:22).

No comments: