Kejadian 1:1-2 (TB):
PENCIPTAAN HARI PERTAMA
Kita mendapati tiga hal dalam pasal ini:
I. Gagasan umum yang diberikan kepada kita tentang karya penciptaan (ay. 1-2).
II. Gambaran khusus tentang karya beberapa hari, yang dicatat, seperti dalam buku harian, secara sendiri-sendiri dan berurutan. Penciptaan terang pada hari pertama (ay. 3-5), cakrawala pada hari kedua (ay. 6-8), laut, bumi, dan segala isinya pada hari ketiga (ay. 9-13), benda-benda penerang di langit pada hari keempat (ay. 14-19), ikan-ikan dan burung-burung pada hari kelima (ay. 20-23), binatang-binatang (ay. 24-25), manusia (ay. 26-28), dan makanan bagi keduanya pada hari keenam (ay. 29-30).
III. Seluruh karya itu dilihat kembali dan diterima dengan baik (ay. 31).
Penciptaan Hari Pertama (Kejadian 1:1-2)
Dalam kedua ayat di atas kita mendapati karya penciptaan dalam bentuknya yang ringkas dan pada masanya yang awal.
I. Dalam bentuknya yang ringkas (ay. 1), yang di dalamnya kita mendapati, bagi penghiburan kita, butir pertama dari pengakuan iman kita, bahwa Allah Bapa yang Mahakuasa adalah Pencipta langit dan bumi, dan sebagai Penciptalah kita percaya kepada-Nya.
1. Amatilah, dalam ayat ini, empat hal:
(1) Hasil yang dibuat – langit dan bumi, maksudnya, dunia, termasuk seluruh kerangka dan perlengkapan alam semesta, bumi dan segala isinya (Kis. 17:24). Dunia adalah rumah yang besar, terdiri dari tingkat atas dan tingkat bawah, susunannya megah dan besar, merata dan nyaman, dan setiap kamarnya secara baik dan bijak dilengkapi dengan perabotan. Bagian ciptaan yang kelihatanlah yang ingin dijelaskan Musa di sini. Oleh sebab itu, ia tidak menyebutkan penciptaan para malaikat. Tetapi, sama seperti bukan hanya permukaan bumi yang dihiasi dengan rerumputan dan bunga-bungaan, tetapi juga isi perutnya diperkaya dengan logam-logam dan batu-batu permata (yang lebih berharga dan lebih menyerupai sifat bumi dalam kepadatannya, meskipun penciptaannya tidak disebutkan di sini), demikian pula langit tidak saja dipercantik bagi mata kita dengan benda-benda penerang yang mulia yang menghiasi permukaan luarnya, yang penciptaannya kita baca di sini, tetapi juga di dalamnya dilengkapi dengan makhluk-makhluk yang mulia, yang luput dari pandangan kita. Makhluk-makhluk tersebut lebih bersifat sorgawi, dan jauh melampaui benda-benda penerang itu dalam nilai dan keunggulan, melebihi emas atau batu nilam yang melampaui bunga-bunga bakung di ladang. Dalam dunia yang kelihatan, mudah untuk mengamati,
[1] Keanekaragaman yang besar, beberapa jenis makhluk yang amat sangat berbeda dalam sifat dan rupa antara satu dengan yang lain: Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, dan betapa baik semuanya!
[2] Keindahan yang agung. Langit yang biru dan bumi yang hijau memesonakan mata orang yang mengamatinya dengan rasa ingin tahu, apalagi perhiasan-perhiasan yang melekat padanya. Jadi, betapa keindahan Penciptanya jauh melampaui segala yang ada di dunia!
[3] Kepastian dan ketepatan yang luar biasa. Bagi orang yang, dengan bantuan mikroskop, mengamati dari dekat pekerjaan-pekerjaan alam, maka semua itu tampak lebih halus daripada karya-karya seni apa saja.
[4] Kuasa yang besar. Yang ada pada setiap makhluk bukanlah segumpal materi yang mati dan tidak bergerak, melainkan ada kekuatan, sedikit banyak, di dalam masing-masing dari mereka: bumi sendiri pun mempunyai kekuatan magnet.
[5] Keteraturan yang amat rapi, kesaling tergantungan dalam hubungan antarmakhluk, keselarasan yang tepat pada gerakan-gerakan, dan keterkaitan serta hubungan sebab akibat yang mengagumkan.
[6] Misteri besar. Di dalam alam ada penampakan-penampakan yang tidak bisa diketahui, dan rahasia-rahasia yang tidak bisa dipahami atau dijelaskan. Tetapi dari apa yang kita lihat pada langit dan bumi, kita dapat dengan mudah mengenali kekuasaan yang kekal dan ilahi dari Sang Pencipta yang agung, dan dapat melengkapi diri kita dengan pokok-pokok pujian yang berlimpah untuk-Nya. Dan biarlah penciptaan serta tempat kita, sebagai manusia, mengingatkan kita akan kewajiban kita sebagai orang-orang Kristen, yaitu untuk selalu menempatkan sorga dalam pandangan mata kita, dan bumi di bawah kaki kita.
(2) Pencipta dan Penyebab dari pekerjaan yang besar dan agung ini, yaitu Allah. Bahasa Ibraninya adalah Elohim, yang menunjukkan,
[1] Kuasa Allah Sang Pencipta. El berarti Allah yang kuat. Dan adakah kekuatan yang kurang dari mahakuasa yang bisa mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan?
[2] Kejamakan dari pribadi-pribadi dalam ke-Allahan: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Nama Allah yang jamak ini, dalam bahasa Ibrani, yang berbicara tentang Dia sebagai banyak meskipun Dia satu, mungkin bagi orang-orang bukan Yahudi menjadi bau kematian yang mematikan, yang membuat mereka berkeras dalam penyembahan berhala mereka. Tetapi, bagi kita itu adalah bau kehidupan yang menghidupkan, yang meneguhkan iman kita pada ajaran Trinitas, yang, meskipun hanya tersirat secara gelap dalam Perjanjian Lama, dengan jelas disingkapkan dalam Perjanjian Baru. Anak Allah, Sang Firman dan Hikmat kekal dari Bapa, ada bersama-sama dengan Bapa ketika Bapa menciptakan dunia (Ams. 8:30). Bahkan, kita sering kali diberi tahu bahwa dunia diciptakan oleh-Nya, dan tiada suatu pun yang dijadikan tanpa-Nya (Yoh. 1:3, 10; Ef. 3:9; Kol. 1:16; Ibr. 1:2). Oh, betapa hal ini seharusnya membangkitkan pikiran-pikiran yang luhur dalam benak kita akan Allah yang besar itu, yang kepada-Nya kita datang mendekat di dalam ibadah-ibadah, dan akan Sang Pengantara yang agung itu, yang di dalam nama-Nya kita datang mendekat!
(3) Cara pekerjaan ini terlaksana: Allah menciptakannya, yaitu, mengadakannya dari ketiadaan. Tidak ada materi apa pun yang sudah ada sebelumnya, yang darinya dunia dihasilkan. Ikan dan burung memang dihasilkan dari air, dan hewan serta manusia dari tanah. Tetapi tanah dan air itu diadakan dari ketiadaan. Dengan kekuatan alam biasa, mustahil apa saja diadakan dari ketiadaan. Tidak ada pekerja yang bisa bekerja jika ia tidak mempunyai sesuatu untuk dikerjakannya. Tetapi dengan kekuatan mahakuasa dari Allah, bukan saja mungkin bahwa sesuatu diadakan dari ketiadaan (Allah alam semesta tidak tunduk pada hukum-hukum alam), tetapi juga bahwa dalam penciptaan mustahillah jika tidak demikian adanya, sebab tidak ada yang lebih menghina kehormatan Sang Hikmat Kekal selain anggapan bahwa materi itu kekal. Demikianlah keunggulan dari kekuasaan itu berasal dari Allah, dan segala kemuliaan hanyalah untuk-Nya.
(4) Kapan pekerjaan ini terlaksana: Pada mulanya, maksudnya, pada permulaan waktu, ketika jarum jam pertama-tama diputar: waktu dimulai dengan dihasilkannya makhluk-makhluk yang diukur oleh waktu. Sebelum permulaan waktu, tidak ada yang lain selain Sang Ada (Ujud) Tak Terbatas itu, yang mendiami kekekalan. Jika kita bertanya mengapa Allah tidak menciptakan dunia lebih awal, maka kita hanya menggelapkan kebijaksanaan dengan kata-kata yang hampa pengetahuan. Sebab, bagaimana mungkin ada yang lebih dahulu dan yang lebih kemudian di dalam kekekalan? Dan Ia sungguh-sungguh menciptakannya pada permulaan waktu, sesuai dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan kekal-Nya sebelum segala waktu. Ada pepatah di kalangan rabi-rabi Yahudi, bahwa ada tujuh hal yang diciptakan Allah sebelum dunia ada, yang dengannya mereka hanya bermaksud mengungkapkan keunggulan dari hal-hal ini: Hukum, pertobatan, firdaus, dunia orang mati, takhta kemuliaan, bait suci, dan nama Mesias. Tetapi cukuplah bagi kita untuk berkata, pada mulanya adalah Firman (Yoh. 1:1).
2. Marilah kita belajar dari hal ini,
(1) Bahwa atheisme (paham yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada – pen.) adalah kebodohan, dan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan adalah orang yang paling bodoh di alam ini. Sebab, mereka sudah melihat dunia yang tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, namun masih juga tidak mau mengakui bahwa ada Allah yang menciptakannya. Karena itu, tidak ada alasan apa pun bagi mereka untuk berdalih, selain bahwa ilah dari dunia ini telah membutakan pikiran mereka.
(2) Bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu dengan hak yang tak dapat diganggu gugat. Jika Dia Pencipta, maka tidak diragukan lagi bahwa Dia juga Penguasa serta Pemilik sorga dan bumi.
(3) Bahwa bagi Allah segala sesuatu itu mungkin, dan oleh sebab itu berbahagialah orang-orang yang memiliki-Nya sebagai Allah mereka, dan yang pertolongan serta pengharapan mereka ada dalam nama-Nya (Mzm. 121:2; 124:8).
(4) Bahwa Allah yang kita layani layak menerima, dan juga jauh lebih tinggi mengatasi, segala puji dan hormat (Neh. 9:5-6). Jika Ia menciptakan dunia, maka Ia tidak memerlukan pelayanan-pelayanan kita, tidak pula Ia bisa diuntungkan olehnya (Kis. 17:24-25), namun sudah sewajarnya Ia menuntutnya, dan layak menerima puji-pujian dari kita (Why. 4:11). Jika segalanya berasal dari Dia, maka segalanya haruslah untuk-Nya.
II. Inilah karya penciptaan pada awal mulanya (ay. 2), yang di dalamnya kita mendapat gambaran tentang materi yang pertama dan penggerak yang pertama.
1. Kekacauan adalah materi yang pertama. Kekacauan itu di sini disebut sebagai bumi (meskipun bumi, dalam arti yang sesungguhnya, tidak diciptakan sampai hari ketiga, ay. 10), karena kekacauan itu memang amat mirip dengan apa yang setelahnya disebut bumi, bumi semata-mata, tanpa perhiasan-perhiasannya. Betapa waktu itu bumi merupakan massa yang begitu berat dan tak teratur. Kekacauan itu juga disebut kedalaman, baik karena keluasannya maupun karena air-air yang setelah itu dipisahkan dari bumi pada waktu itu masih bercampur dengannya. Massa air yang amat besar ini adalah materi yang darinya semua benda, bahkan cakrawala dan langit yang kelihatan itu, dihasilkan sesudahnya oleh kuasa dari Sang Firman Kekal. Sang Pencipta bisa saja membuat pekerjaan-Nya sempurna sejak dari awal, tetapi dengan langkah secara bertahap-tahap seperti ini Ia ingin menunjukkan, dalam kehidupan biasa, seperti apa cara pemeliharaan dan anugerah-Nya.
Amatilah gambaran tentang kekacauan ini.
Amatilah gambaran tentang kekacauan ini.
(1) Tidak ada apa pun di dalamnya yang indah untuk dilihat, sebab bumi belum berbentuk dan kosong. Tohu dan Bohu, kekacauan dan kehampaan. Begitulah kedua kata itu diartikan (Yes. 34:11). Bumi tidak berbentuk, tidak berguna, tanpa penghuni, tanpa perhiasan, hanya bayangan atau rancangan kasar dari hal-hal yang akan datang, dan bukan hakikatnya (Ibr. 10:1). Bumi hampir jatuh kembali ke dalam keadaan yang sama karena dosa manusia, yang di dalamnya segala makhluk mengeluh. Lihat Yeremia 4:23, aku melihat kepada bumi, ternyata campur baur dan kosong. Bagi orang-orang yang hatinya terpatri pada sorga, dunia bawah ini, jika dibandingkan dengan dunia atas itu, masih tampak hanya sebagai kekacauan dan kehampaan. Tidak ada keindahan sejati yang bisa dilihat, tidak ada kepenuhan yang memuaskan yang bisa dinikmati di bumi ini, kecuali di dalam Allah saja.
(2) Sekalipun seandainya ada sesuatu yang indah untuk dilihat, tidak ada terang yang dengannya sesuatu itu bisa dilihat. Sebab, gelap gulita, kegelapan yang pekat, menutupi samudera raya. Allah tidak menciptakan kegelapan ini (seperti dikatakan tentang-Nya bahwa Ia menciptakan kegelapan penderitaan, Yes. 45:7), sebab gelap itu hanya ada karena tidak adanya terang, yang pada waktu itu pun masih belum bisa dikatakan tidak ada, sampai ada sesuatu yang diciptakan yang bisa dilihat melaluinya. Tidak pula ketiadaan terang itu harus dikeluhkan dengan begitu rupa, sebab tidak ada yang bisa dilihat selain kekacauan dan kehampaan. Jika pekerjaan anugerah di dalam jiwa adalah ciptaan baru, maka kekacauan ini menggambarkan keadaan sebuah jiwa yang tidak diperbaharui dan tanpa anugerah: di sana ada ketidakteraturan, kekacauan, dan segala perbuatan jahat. Jiwa itu hampa akan segala kebaikan, sebab ia tanpa Allah. Jiwa itu gelap, ia adalah kegelapan itu sendiri. Inilah keadaan kita secara alami, sampai anugerah yang mahakuasa membawa perubahan yang penuh berkat.
2. Roh Allah adalah Penggerak yang pertama: Ia melayang-layang di atas permukaan air. Apabila kita menimbang bumi yang tidak berbentuk dan kosong, tampak bagi saya bahwa bumi itu seperti lembah yang penuh dengan tulang-tulang yang mati dan kering. Dapatkah tulang-tulang ini hidup? Dapatkah massa materi yang kacau ini dibentuk menjadi sebuah dunia yang indah? Ya, jika roh hidup dari Allah memasukinya (Yeh. 37:9). Sekarang ada harapan untuk hal ini. Sebab, Roh Allah mulai bekerja, dan, jika Ia bekerja, siapa atau apa yang bisa menghalangi-Nya? Allah dikatakan menciptakan dunia dengan Roh-Nya (Mzm. 33:6; Ayb. 26:13, KJV; TB: “nafas-Nya” – pen.). Dan oleh Sang Pekerja yang berkuasa inilah penciptaan yang baru terlaksana. Ia melayang-layang di atas permukaan air, seperti Elia yang mengunjurkan badannya di atas seorang anak yang sudah mati, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, dan mengiringi mereka ke mana-mana, untuk menghangatkan dan menyukakan mereka (Mat. 23:37). Atau juga, seperti burung rajawali yang menggoncang-goncang isi sarangnya dan melayang-layang di atas anaknya (kata yang sama itulah yang digunakan di sini) (Ul. 32:11). Belajarlah dari hal ini, bahwa Allah bukan saja Pencipta segala sesuatu, melainkan juga Sumber dari kehidupan dan pergerakan. Materi yang mati akan selama-lamanya mati jika Ia tidak menghidupkannya. Dan hal ini membuat kita bisa percaya bahwa Allah akan membangkitkan orang mati. Kuasa yang membawa dunia seperti ini keluar dari kebingungan, kehampaan, dan kegelapan pada permulaan waktu itu, pada akhir waktu juga dapat membangkitkan tubuh kita yang hina dari dalam kubur, meskipun itu negeri yang gelap gulita, dan kacau balau (Ayb. 10:22), dan dapat mengubahnya menjadi tubuh yang mulia.
No comments:
Post a Comment