Kejadian 3:8-24 (TB):
1. BERPAKAIAN (Selasa, 4 Februari 2003)
Ketika Tuhan berjalan-jalan di taman, langkah-langkah Allah terdengar bagaikan jejak-jejak penghakiman bagi manusia yang baru makan buah curian. Mereka bersembunyi. Allah bertanya kepada manusia, "Di manakah engkau?" Dua hal bisa kita amati di sini. Pertama, hubungan antara Allah dan manusia setelah kejatuhan dimulai dengan pertanyaan Allah kepada manusia. Pahamilah bahwa ketika kita jatuh ke dalam dosa, Allah menanyakan di mana diri kita. Kedua, arti dari "di mana" bukan hanya geografis, tetapi menanyakan posisi. Di mana posisi manusia setelah jatuh ke dalam dosa? Apakah ia memihak atau melawan Allah?
Adam menyalahkan Allah karena menciptakan wanita, dan Adam menyalahkan Hawa karena membuatnya jatuh ke dalam dosa. Yang satu (ayat 2:24) tidak lagi satu, terputus oleh pertikaian. Hawa menyalahkan ular. Ular tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ternyata memang ia memperdayakan Hawa. Lalu, mereka dihukum. Kalau Adam berasal dari debu, maka ia akan kembali kepada debu. Pekerjaannya akan menjadi lebih sulit. Kalau Hawa berasal dari Adam, ia akan ditundukkan oleh Adam, dan kesulitan melahirkan. Ular akan merayap di tanah, sebuah kehinaan. Manusia terpisah dari Allah, dari sesamanya, dari dirinya, dan dari alam.
Dalam proses kejatuhan manusia, ular (binatang) seakan-akan menjadi berada di atas manusia. Tuhan menjanjikan bahwa posisi ini akan dibalik: manusia akan menang terhadap binatang (ayat 15). Ayat ini bisa kita tafsirkan menuju penggenapan kemenangan Kristus melawan dosa dan Iblis. Lalu manusia diusir keluar dari taman Eden. Kemudian, Allah membuatkan mereka "pakaian" dari kulit binatang, suatu tanda bahwa hanya darah yang bisa menyelamatkan mereka dari ketelanjangan.
Renungkan: Pakaian Anda yang indah menunjukkan keberdosaan Anda. Hanya darah Kristus yang bisa menutupi ketelanjangan Anda dan membasuh kecemaran Anda!
2. HUKUMAN DAN ANUGERAH (Minggu, 6 April 2008)
Dosa menyebabkan perasaan bersalah dan takut menghantui pasutri pertama. Itu sebabnya mereka sembunyi ketika mendengar suara Tuhan Allah hadir di taman Eden. Lebih daripada itu, mereka menolak bertanggung jawab atas perbuatan mereka dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bahkan kepada Tuhan mereka sendiri (ayat 12). Tanpa mereka sadari, dosa telah membelenggu mereka dari ketulusan dan penyesalan yang seharusnya membawa kepada pertobatan.
Allah yang adil harus menghukum perbuatan dosa. Maka setiap yang terlibat harus menerima hukuman yang adil. Namun penghukuman itu bukan akhir segala-galanya, kecuali kepada ular. Kepada ular, penghukuman itu secara fisik adalah merayap di tanah serta memakan debu tanah (ayat 14). Nasibnya sudah dipastikan akan binasa (ayat 15). Kepada manusia, hukuman Allah diberikan bukan untuk membinasakan mereka. Tuhan memberikan jalan keluar dari penderitaan akibat hukuman dosa serta kelepasan dari perbudakan dosa. Nubuat yang biasa disebut sebagai Injil yang paling awal, di ayat 15 menegaskan bahwa kelak, melalui Mesias, keturunan perempuan itu, kuasa belenggu dosa yang diibaratkan sengat tipu daya ular akan dihancurkan tuntas. Dosa akan mendapatkan penyelesaian secara sempurna. Sedangkan untuk melepaskan manusia dari kemungkinan penderitaan berkepanjangan, Tuhan mengusir mereka dari taman Eden supaya mereka jangan sampai memakan buah kehidupan lalu harus hidup selamanya dalam penderitaan oleh karena dosa (ayat 22-24).
Di balik murka Tuhan kita temukan belas kasih dan anugerah-Nya. Keadilan-Nya menuntut penghukuman, tetapi kasih-Nya menyediakan pengampunan bahkan pemulihan. Hal itu menjadi sempurna ketika Kristus naik ke kayu salib. Dia adalah keturunan perempuan yang memusnahkan kuasa dosa (menginjak kepala ular) melalui kematian-Nya di salib (tumitnya diremukkan ular).
No comments:
Post a Comment