Kejadian 2:18-20 (TB):
Di sini terdapat,
I. Sebuah contoh perihal kepedulian Sang Pencipta terhadap manusia dan juga perhatian-Nya yang kebapakan terhadap kenyamanannya (ay. 18). Walaupun Allah telah memberitahukan kepadanya bahwa ia adalah seorang bawahan dengan memberikan perintah kepadanya (ay. 16-17), di sini Ia juga memberitahukan kepadanya untuk mendorongnya supaya tetap taat, bahwa ia adalah seorang sahabat kesayangan yang sangat ingin dipuaskan-Nya. Amatilah,
1. Bagaimana Allah dengan penuh belas kasihan merasa iba terhadap kesendiriannya: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Walaupun terdapat dunia di atas dengan para malaikat dan dunia di bawah yang keras, sedangkan manusia berada di antaranya, ia dapat benar-benar dikatakan berada seorang diri karena tidak ada makhluk lain dengan kodrat dan kedudukan yang sama dengannya, serta yang dapat diajaknya bercengkerama dengan akrab. Sekarang, Dia yang membentuk manusia itu, yang mengenal dia dan tahu apa yang baik baginya, lebih tahu daripada manusia itu sendiri, berkata, “Tidak baik apabila ia terus-menerus seorang diri.”
(1) Kesendirian itu membuatnya merasa tidak nyaman, sebab manusia merupakan makhluk yang suka bergaul. Sungguh menyenangkan baginya apabila bisa bertukar pengetahuan dan kasih sayang dengan makhluk sejenis, untuk memberi tahu dan diberi tahu, untuk menyayangi dan disayangi. Apa yang di sini dikatakan oleh Allah tentang manusia pertama, dikatakan oleh Salomo tentang semua orang (Pkh. 4:9, dst.), bahwa berdua lebih baik dari pada seorang diri, dan malanglah orang yang tidak mempunyai orang lain. Seandainya hanya ada seorang manusia di dunia, alangkah memilukan keadaannya! Kesendirian bisa mengubah taman firdaus menjadi padang belantara dan istana menjadi penjara. Oleh sebab itu alangkah bodohnya orang yang mementingkan diri sendiri dan ingin menempati bumi seorang diri.
(2) Tujuannya bukanlah untuk memperbanyak dan melestarikan jenisnya. Allah bisa saja membuat sejumlah besar manusia lebih dahulu guna memenuhi bumi, sama seperti Ia memenuhi sorga dengan sebuah dunia malaikat. Namun, taman itu akan terasa terlampau sempit untuk ditempati banyak orang sekaligus. Oleh karena itu Allah melihat bahwa lebih baik mencapai jumlah itu melalui beberapa angkatan, yang sama seperti Allah membentuk manusia, harus terjadi dari dua orang, yakni laki-laki dan perempuan. Satu orang akan tetap satu selamanya.
2. Bagaimana Allah dengan penuh rahmat bertekad untuk menyediakan teman untuknya. Hasil yang diperoleh dari pemikiran menyangkut diri manusia adalah ketetapan yang baik ini, Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Seorang manusia dengan kodrat dan kedudukan yang sama. Seorang penolong yang dekat dengannya (begitulah yang dikatakan beberapa orang), untuk hidup bersama sebagai suami-istri, dan yang selalu siap menopangnya. Seorang penolong di depan dia (begitulah yang dikatakan orang lain), yang dapat dipandangnya dengan sukacita dan gembira. Karena itu perhatikanlah,
(1) Bahkan dalam keadaan terbaik pun di dunia ini, kita saling membutuhkan pertolongan orang lain. Kita sama-sama merupakan anggota satu tubuh, dan mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau” (1Kor. 12:21). Oleh sebab itu kita harus senang menerima bantuan dari orang lain dan memberikan pertolongan kepada orang lain bila ada kesempatan.
(2) Hanya Allah sajalah yang benar-benar mengetahui keperluan kita dan sangat mampu mencukupi semuanya (Flp. 4:19). Pertolongan kita hanya ada di dalam Dia, dan dari Dia-lah datang para penolong kita.
(3) Seorang istri yang serasi adalah seorang penolong yang sepadan dan datang dari Tuhan. Dengan demikian hubungan itu kemungkinan besar akan terasa menyenangkan ketika kesepadanan itu membimbing dan menetapkan pilihan, dan sikap saling menolong merupakan kepedulian serta upaya yang berlangsung terus-menerus (1Kor. 7:33-34).
(4) Jika lembaga keluarga sangat menyenangkan, itu akan seperti ganti rugi yang cukup untuk mengatasi keluhan dalam kesendirian. Orang yang memiliki Allah yang baik, hati yang baik, dan istri yang baik untuk diajak berbincang-bincang, namun tetap mengeluh bahwa ia kekurangan orang lain untuk diajak bergaul, tidak akan merasa senang dan puas di taman firdaus. Adam sendiri tidak memiliki lebih dari itu. Namun, bahkan sebelum Hawa diciptakan, kita tidak menemui bahwa ia mengeluh saat berada sendirian karena ia tahu bahwa ia tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai dia. Orang-orang yang merasa puas di dalam Allah dan perkenan-Nya, berada di jalan yang terbaik dan dalam keadaan terbaik untuk mendapatkan hal-hal baik dalam hidup ini. Ia yakin akan menerimanya, sejauh itu dipandang baik oleh Hikmat yang Tidak Terbatas itu.
II. Contoh perihal penaklukan makhluk-makhluk oleh manusia, dan kuasanya atas mereka (ay. 19-20): segala binatang hutan dan segala burung di udara dibawa-Nyalah kepada Adam, baik melalui pelayanan para malaikat, atau melalui naluri khusus yang memimpin hewan-hewan itu kepada manusia sebagai tuan atas semuanya, yang mengajar lembu jantan untuk segera mengenali pemiliknya. Demikianlah Allah memberi manusia perkenan serta kepemilikan lahan luas yang telah diserahkan-Nya kepada dia, dan memberinya kuasa atas makhluk-makhluk itu. Allah membawa semua binatang itu kepadanya supaya bisa diberi nama olehnya, dan dengan demikian juga dapat menyatakan,
1. Bukti tentang pengetahuannya, sebagai makhluk yang diperlengkapi dengan kemampuan berbicara dan membuat pertimbangan sehingga memiliki akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat melebihi burung di udara (Ayb. 35:11).
2. Bukti tentang kuasanya. Ini merupakan tindakan wewenang untuk menentukan nama (Dan. 1:7), dan sikap takluk hewan untuk menerimanya. Makhluk-makhluk dengan tingkatan lebih rendah itu seakan-akan memberikan penghormatan kepada raja mereka pada saat pelantikannya dan bersumpah untuk tetap setia dan taat kepadanya. Seandainya Adam tetap setia kepada Allahnya, kita boleh beranggapan bahwa hewan-hewan itu mengetahui dan mengingat nama masing-masing seperti yang sekarang diberikan Adam, hingga bisa datang kepadanya kapan pun saat namanya dipanggil. Allah memberikan nama bagi siang dan malam hari, bagi cakrawala, bumi, dan laut. Ia juga menyebut nama-nama semua bintang, untuk menunjukkan bahwa Dialah TUHAN atas semuanya. Namun, Ia membiarkan binatang dan unggas diberi nama oleh Adam sebagai tuan dan bawahannya. Karena Ia telah menjadikan dia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, dengan demikian Ia juga telah memberikan sebagian kehormatan-Nya ke atas manusia itu.
III. Sebuah contoh tentang ketidakcukupan semua makhluk itu untuk membahagiakan manusia: Tetapi (di antara semua makhluk itu) baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Ada yang berpendapat bahwa ini kata-kata Adam sendiri. Ketika mengamati semua binatang yang datang berpasang-pasangan kepadanya untuk diberi nama, Adam menyiratkan keinginannya kepada Penciptanya: “TUHAN, semua binatang ini mempunyai pasangan yang sepadan, tapi bagaimana dengan diriku? Di sini tidak ada satu pun pasangan yang sepadan bagiku.” Setelah ditinjau kembali, kata-kata tadi lebih tepat merupakan penilaian Allah. Dia mengumpulkan semua hewan itu untuk melihat apakah ada pasangan yang cocok bagi Adam di antara sekian banyak makhluk dari tingkat rendah itu. Ternyata tidak ada satu pun. Amatilah di sini,
1. Martabat dan keunggulan kodrat manusia. Di bumi tidak terdapat satu pun yang seperti dia ataupun yang sebanding dengannya di antara semua makhluk yang terlihat itu. Hewan-hewan itu diamati, tetapi di antara semuanya tidak satu pun yang sesuai dengannya.
2. Kesia-siaan serta hal-hal duniawi seandainya dikumpulkan jadi satu pun tidak akan bisa dijadikan penolong yang sepadan bagi manusia. Semua itu tidak akan sesuai dengan sifat jiwanya, memenuhi kebutuhannya, memuaskan hasratnya, ataupun sejalan dengan keberadaannya yang tidak pernah lemah sepanjang waktu. Allah lalu menciptakan sesuatu yang baru untuk menjadi penolong yang sepadan bagi manusia – bukan seperti perempuan yang berasal dari benih perempuan.
No comments:
Post a Comment